PALI | tintamerah.co -, Di balik megahnya gedung perkantoran dan deru mesin industri ekstrakstif di Bumi Serepat Serasan, sebuah peringatan keras ditiupkan dari kursi pimpinan DPRD PALI. Wakil Ketua DPRD PALI, Firdaus Hasbullah, SH., MH., tidak sekadar memberikan ucapan seremonial pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ia melempar “bom” pengingat bahwa masa depan PALI sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas.
Guru: Akar dari Segala Profesi
Dengan nada yang bergetar penuh apresiasi, Firdaus mengawali pernyatannya dengan menempatkan guru di singgasana tertinggi pembangunan. Dari pelosok Talang Ubi hingga ujung Penukal Utara, ia menegaskan bahwa tanpa sentuhan tangan guru, struktur kekuasaan dan profesionalisme di PALI tidak akan pernah ada.
“Tanpa guru, tidak ada Bupati, tidak ada anggota dewan, tidak ada dokter,” cetus Firdaus lugas dalam pernyataan resmi yang diterima tintamerah.co, Sabtu (2/5/2026).
Baginya, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang seringkali terlupakan dalam hingar-bingar politik, namun menjadi penentu utama kualitas sumber daya manusia.
Menyentil “Raksasa” di Tanah PALI
Namun, Firdaus tidak berhenti pada pujian. Ia menukik tajam pada realita sosial. Mengusung tema “Partisipasi Semesta”, ia menegaskan bahwa beban pendidikan tidak boleh hanya ditumpukan pada pundak guru.
Ia secara spesifik “menyentil” entitas besar yang mengeruk kekayaan alam di PALI—perusahaan migas, batubara, hingga perkebunan sawit. Menurutnya, sangat memalukan jika di tengah kekayaan alam yang melimpah, angka putus sekolah di PALI masih menjadi momok yang nyata.
“Malu kita kalau angka putus sekolah di PALI masih tinggi. Pendidikan itu tugas semesta. Orang tua hingga korporasi wajib turun tangan, bukan cuma jadi penonton,” tegasnya.
Perang Melawan Pernikahan Dini
Lebih jauh, Firdaus menyoroti isu krusial yang sering merenggut masa depan anak-anak di daerah: Pernikahan Dini. Ia meminta orang tua untuk tidak hanya “menitipkan” anak di sekolah, tapi aktif mengawasi pergaulan dan memastikan pendidikan tuntas.
Dengan mengutip falsafah Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, Firdaus mengajak seluruh elemen masyarakat PALI untuk kembali ke khittah pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara. Menjadi teladan, pemberi semangat, dan pendorong.
Mimpi Besar dari Bumi Serepat Serasan
Harapan Firdaus tidak tanggung-tanggung. Ia bermimpi PALI bukan hanya sekadar daerah penghasil komoditas, tapi “pabrik” intelek. Ia ingin melihat anak-anak dari desa terkecil di PALI kelak duduk di kursi menteri, menjadi gubernur, atau ilmuwan kelas dunia.
“PALI Cemerlang bukan sekadar slogan. Ini adalah jalan menuju Indonesia Emas,” tutupnya dengan tegas.
Penulis: Efran | Editor: Imron Supriyadi















