PALI | tintamerah.co -, Era baru kepemimpinan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan di bawah komando Bupati dan Wakil Bupati terpilih, Asgianto dan Iwan Tuaji, langsung tancap gas menunjukkan taji dalam urusan optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bukan sekadar janji politik, gebrakan nyata ini dibuktikan lewat performa impresif Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) PALI yang dinakhodai oleh Plt. Kepala Bapenda, Dr. Aryansyah.
Berdasarkan dokumen Laporan Pertanggungjawaban (SPJ) Fungsional Perbandingan PAD yang dirilis Bapenda PALI per Februari 2026, sektor Pajak Daerah sukses mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 27,34% secara Year-on-Year (YoY) dibandingkan periode yang sama di tahun 2025.
Keberhasilan ini mempertegas analisis mendalam tintamerah.co sebelumnya dalam laporan eksklusif bertajuk “Eksklusif: Gebrakan Sektor Pajak PALI Melejit Target, Sentuhan Dingin Bapenda di Era Baru Kepemimpinan”. Sentuhan dingin Aryansyah dalam menerjemahkan visi taktis Asgianto-Iwan Tuaji terbukti ampuh merombak peta pendapatan fiskal daerah secara agresif dan terukur.
Lompatan Tajam YoY Pajak Daerah: Naik Rp 1,2 Miliar!
Data riil menunjukkan bahwa realisasi Pajak Daerah s.d. Februari 2026 berhasil menyentuh angka Rp 5.628.562.513,00. Angka ini melesat tajam dari raihan s.d. Februari 2025 yang berada di posisi Rp 4.420.246.152,00. Terdapat selisih pertumbuhan penerimaan bersih sebesar Rp 1.208.316.361,00 hanya dalam tempo satu tahun.
Padahal, jika merujuk pada performa bulan sebelumnya (Januari 2026), persentase kenaikan pajak daerah saat itu masih bergerak dinamis di kisaran angka awal adaptasi birokrasi baru. Namun memasuki bulan Februari, akselerasi penagihan dan pengawasan zonasi pajak langsung meroket drastis hingga mengunci angka pertumbuhan 27,34%.
Bedah Sektor: PBB-P2 dan PBJT Restoran Menggila
Kepiawaian Aryansyah dalam memetakan potensi pajak yang selama ini bocor atau kurang optimal terlihat jelas dari detail capaian per sektor berikut ini:
- Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2): Sektor ini mencatatkan lonjakan fantastis sebesar 1.041,46%. Realisasi meroket dari yang hanya Rp 32.694.441,00 (2025) menjadi Rp 373.193.416,00 pada Februari 2026.
- Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB): Tumbuh tajam 358,78% dengan realisasi mencapai Rp 122.793.520,00, berbanding Rp 26.765.340,00 pada tahun lalu.
- PBJT Makan dan/atau Minum: Total sektor ini menyumbang Rp 665.885.559,00 (naik 145,71%). Penguraiannya terdiri dari:
- PBJT Restoran: Merealisasikan Rp 28.442.342,00 (naik 43,14%).
- PBJT Penyedia Jasa Boga/Katering: Menjadi primadona baru dengan sumbangan sebesar Rp 637.443.217,00 (tumbuh pesat 153,83%).
- PBJT Tenaga Listrik: Menjadi penyumbang nominal terbesar dengan realisasi Rp 1.696.876.583,00 (naik 12,63%). Didominasi oleh Konsumsi Tenaga Listrik dari Sumber Lain sebesar Rp 1.690.328.448,00.
- Opsen Pajak Kendaraan: * Opsen BBNKB: Sukses meraup Rp 1.624.990.800,00 atau naik 16,05%.
- Catatan evaluasi: Opsen PKB sedikit terkoreksi tipis -2,60% di angka Rp 1.084.653.025,00.
- Sektor Komoditas & Jasa Lainnya:
- Pajak Reklame: Merealisasikan Rp 36.031.250,00 (naik 45,62%).
- PBJT Jasa Perhotelan: Melambung 170,78% di angka Rp 11.508.300,00.
- PBJT Jasa Parkir: Stabil tumbuh 13,82% dengan raihan Rp 5.600.000,00.
- Pajak Air Tanah: Menghasilkan Rp 4.590.060,00 (naik 17,43%).
- Pajak Sarang Burung Walet: Meraih Rp 1.600.000,00 (naik 14,29%).
Meskipun terdapat koreksi pada sektor Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB) yang masih nihil di awal tahun , serta PBJT Jasa Kesenian dan Hiburan yang turun ke angka Rp 840.000,00 , secara akumulatif total target raihan pajak daerah PALI 2026 yang dipatok sebesar Rp 44.512.657,294,00 optimis bakal terlampaui melihat ritme kerja Bapenda saat ini.
Menatap Kemandirian Fiskal Bumi Serepat Serasan
Secara makro, total Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten PALI s.d. Februari 2026 tembus di angka Rp 13.040.240.911,63, tumbuh melesat 55,78% dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp 8.370.874.253,65. Selain sumbangsih Pajak Daerah, lonjakan ini juga dipicu oleh suntikan deviden Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan sebesar Rp 1.743.489.874,45 , serta pos Lain-lain PAD yang Sah senilai Rp 5.294.073.181,18.
Ketegasan kepemimpinan Asgianto-Iwan Tuaji yang menuntut transparansi dan akuntabilitas radikal di jajaran OPD teknis terbukti dijawab tuntas oleh Aryansyah. Birokrasi Bapenda PALI kini menjelma menjadi mesin pencetak pendapatan daerah yang solid, agresif, dan tidak lagi membiarkan potensi pajak menguap begitu saja.
Publik PALI kini boleh optimis. Dengan modal fiskal daerah yang terus menguat di awal tahun 2026, program-program pembangunan infrastruktur, pelayanan kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat yang dicanangkan di era baru kepemimpinan ini bukan lagi sekadar di atas kertas, melainkan siap dieksekusi secara nyata demi PALI yang mandiri dan hebat!
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















