PALI | tintamerah.co -, Gelombang perlawanan terhadap arogansi operasional industri hulu migas kembali membuncah di Bumi Serepat Serasan. Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Abab Bersatu (APMAB) secara frontal melayangkan kecaman keras sekaligus mendesak manajemen PT Pertamina EP Adera Field untuk menyudahi praktik marginalisasi terstruktur terhadap masyarakat lokal yang hidup di Zona Ring 1.
Keberadaan kekayaan alam yang melimpah ruah di perut bumi Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, dinilai sama sekali belum berbanding lurus dengan kesejahteraan penduduk aslinya. APMAB menuntut pembuktian nyata atas komitmen perusahaan, bukan sekadar janji manis di atas kertas korporasi atau seremoni tanggung jawab sosial (CSR) yang minim dampak dan hanya bersifat kosmetik. Masyarakat Ring 1 menuntut hak mutlak atas prioritas kerja, program pemberdayaan ekonomi, serta investasi peningkatan kualitas SDM yang konkret.
Jangan Jadikan Rakyat Ring 1 Penonton di Tanah Sendiri!
Ketua APMAB, Aki Musholah, dengan nada lugas dan tanpa kompromi menegaskan bahwa eksploitasi sumber daya energi di Kecamatan Abab dan sekitarnya harus berdampak langsung pada isi kantong dan kesejahteraan warga setempat. Selama ini, aspirasi masyarakat yang hidup berdampingan langsung dengan risiko tinggi operasional migas tersebut dinilai sengaja dikesampingkan demi kenyamanan segelintir elite korporat.
“Kami meminta Pertamina Field Adera untuk memberikan prioritas yang nyata, transparan, dan terukur kepada masyarakat Ring 1! Jangan lagi ada manipulasi dalam rekrutmen tenaga kerja lokal. Pemberdayaan ekonomi masyarakat, peningkatan kualitas SDM, serta program sosial harus berdampak langsung dan dirasakan secara riil oleh warga sekitar, bukan hanya menjadi pajangan angka di laporan tahunan perusahaan!” ujar Aki Musholah dengan nada berapi-api kepada tintamerah.co, Minggu (31/5/2026).
APMAB secara pedas mengkritik ketertutupan jalur komunikasi manajemen Pertamina Field Adera. Menurut mereka, raksasa migas plat merah tersebut seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi rakyat lokal, bukan malah membangun tembok eksklusivitas yang kaku, antipati, dan tuli terhadap keluhan sosial di wilayah operasionalnya sendiri.
DPRD PALI Jangan Mandul, Segera Panggil Korporasi!
Tidak hanya mengarahkan bidikan tajam ke manajemen Pertamina, APMAB juga melemparkan kritik pedas ke gedung legislatif. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) PALI didesak untuk tidak mandul dan segera menggunakan fungsi pengawasannya demi menjaga marwah dan kedaulatan hak-hak konstitusional rakyat.
Aki Musholah menyatakan bahwa DPRD PALI memikul beban moral dan politik yang sangat besar untuk membela kepentingan rakyat Ring 1 dari ancaman ketimpangan ekonomi yang kian melebar di wilayah Kabupaten PALI.
“DPRD PALI digaji oleh uang rakyat, maka mereka wajib memiliki nyali untuk turun tangan dan berpihak pada rakyat! Kami mendesak parlemen agar segera memfasilitasi forum pertemuan resmi secara terbuka antara perwakilan masyarakat, pemerintah daerah, dan manajemen tertinggi Pertamina Field Adera. Suara rakyat Ring 1 harus didengar, diperjuangkan, dan dieksekusi secara nyata demi keadilan sosial dan pemerataan pembangunan,” tegasnya tanpa ragu.
Menutup pernyataan kerasnya, APMAB menegaskan tidak akan mundur sejengkal pun. Organisasi pemuda dan mahasiswa ini berjanji akan terus mengawal isu ini dan siap mengorganisir gerakan massa yang jauh lebih masif dan radikal jika tuntutan pembenahan kebijakan komparatif Zona Ring 1 ini tetap ditanggapi dengan kebisuan korporasi dan kelambanan birokrasi legislatif.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















