PALI | tintamerah.co -, Di tengah hantaman badai efisiensi anggaran dan ketidakstabilan ekonomi yang mencekik, Wakil Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Iwan Tuaji, menyampaikan pidato keras, pedas, namun membakar optimisme jemaah Sholat Idul Adha 1447 H di Desa Pengabuan Timur.
Kehadiran Wabup Iwan Tuaji di wilayah ini bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan sebuah pembuktian nyata atas pembagian agenda strategis Pemkab PALI yang sebelumnya telah dirilis. Berdasarkan laporan awal tintamerah.co, Bupati Asgianto dijadwalkan menyapa jemaah di Talang Ubi Timur, sementara Wabup Iwan Tuaji diterjunkan langsung untuk menyentuh jantung masyarakat Pengabuan Timur.
Gedor Kemenkeu Demi Hak Rakyat PALI
Dalam sambutan yang lugas tanpa basa-basi politik, Iwan Tuaji blak-blakan membongkar kondisi dapur keuangan daerah. PALI saat ini tengah “berdarah-darah” akibat pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) yang sangat fantastis dari pemerintah pusat.
“Perlu informasi, karena kita dipotong 470 miliar dana DBH! Tapi insyaallah, Bapak Bupati (Asgianto) dan Bapak Ketua DPRD (Ubaidillah) sudah menghadap Menteri Keuangan,” tegas Iwan Tuaji dengan nada tinggi dan berapi-api di Mimbar Majid Agung Assyakirin Pengabuan Timur, Rabu (27/5/2026).
Wabup secara keras mengingatkan bahwa kekayaan alam PALI telah dikuras sejak zaman sebelum kemerdekaan RI. Oleh karena itu, langkah bupati dan ketua DPRD melabrak Kemenkeu adalah harga mati untuk merebut kembali hak rakyat.
“Minyak, gasnya yang dari sebelum merdeka kita sudah diambil! Insyaallah bulan 7 ini mungkin kembali ke setengahnya. Nah, itu gara-gara Pak Ubay selaku Ketua DPRD membantu Bapak Bupati. Jadi banggalah kamu orang Pengabuan, punya Ketua DPRD bisa ketemu Menteri Keuangan untuk membalikkan Transfer Keuangan Daerah (TKD) ini. Dan Bapak Bupati menjanjikan hampir 15 persennya akan dibangunkan di Pengabuan ini!” serunya disambut riuh jemaah.
Melawan “Mati Suri” dengan Kekompakan
Mengaitkan dengan ulasan tintamerah.co mengenai esensi Idul Adha yang menyentuh jantung pertahanan mental masyarakat, Iwan Tuaji menyerukan gerakan perlawanan terhadap rasa pesimis. Ketika daerah kehilangan modal finansial akibat dipangkas pusat, maka modal sosial dan mental harus berlipat ganda.
“Di tengah situasi ekonomi yang tidak stabil, bagaimanapun kalau kita kompak, insyaallah tahun 2026 ini tetap ada pembangunan di Kabupaten PALI. Karena kekompakan itu yang penting. Kita tidak ada modal uang lagi, Bapak-Ibu. Modal kita ini yang pertama kompak, yang kedua optimis! Aku gak mau terlalu tidak optimis. Kalau kita tidak optimis lagi, berarti kita mati suri! Berarti tidak ada lagi pembangunan di PALI,” cetusnya pedas, membakar harga diri warga agar tidak menyerah pada keadaan.
Ia menjadi saksi hidup bagaimana duet kepemimpinan Bupati Asgianto dan Ketua DPRD Ubaidillah terus bekerja keras “banting tulang” bersama dalam senyap demi memastikan roda pembangunan PALI 2026 tidak mandek.
Pesan Unik dan Sentilan Keras Lapangan Kerja
Selain membakar semangat, suasana sempat mencair namun tetap lugas saat Wabup membahas teknis penyembelihan hewan kurban. Pengabuan Timur sendiri mendapat berkah luar biasa berupa sapi kurban bantuan Presiden RI dengan bobot fantastis mencapai 984 kilogram.
Belajar dari pengalaman pahit tahun lalu di Desa Harapan Jaya di mana ada petugas yang terluka dan harus keluar biaya Rp2,5 juta akibat ditendang sapi saat hendak merubuhkannya, Wabup memberikan peringatan keras dan solusi taktis. “Aku cuman satu berpesan, hati-hati pas nyampakkan (merubuhkan) sapi. Lebih baik Pengurus Masjid, aku sumbang 1,5 juta, cari tukang jagal profesional untuk motong sapi Pak Prabowo itu. Biar aman,” ujarnya.
Di akhir sambutan, menanggapi laporan tintamerah.co mengenai apresiasi mendalam dari Kepala Desa (Kades) atas kehadiran pemerintah dan bantuan presiden, Wabup Iwan Tuaji langsung memanggil dua Kades yang hadir serta perwakilan bernama Adera ke atas panggung. Wabup menuntut para kades menjadi penyambung lidah yang agresif bagi rakyat, terutama dalam menuntaskan masalah krusial: lapangan pekerjaan.
“Jadi aku panggil Pak KADES, tolong wakilkan seluruh keinginan masyarakat yang ada di Desa Pengabuan dan Pengabuan Timur. Ada dua kadesnya di sini. Jadi kami panggil Adera beserta KADES untuk menyampaikan aspirasi masyarakat. Pasti masyarakat harus dapat kerjaan! Karena itu selalu menjadi masalah Bapak-Ibu yang ada di sini,” pungkas Wabup Iwan Tuaji dengan tegas dan menuntut aksi nyata.















