PALI | tintamerah.co -, Suasana Pendopoan Rumah Dinas Bupati PALI di Talang Ubi mendadak hening dan sarat akan emosi. Ribuan pasang mata tertuju pada sosok Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Asgianto, yang berdiri tegar di hadapan para jemaah. Di malam yang penuh keharuan itu, sebuah pesan moral yang tajam, lugas, dan menohok lubuk hati yang paling dalam meluncur dari lisan sang bupati.
“Selagi ibumu masih hidup, sayangi!,” ucap Asgianto dengan suara bergetar namun tegas, di hadapan ribuan peserta takziah malam nujuh hari wafatnya sang ibunda tercinta, Hj. Salbiah Binti H. Ajunas, Kamis (17/9/2026).
Pesan tersebut bukan sekadar retorika kosong, melainkan sari pati dari sebuah perjalanan emosional yang amat berat. Sebagaimana sempat dikabarkan oleh tintamerah.co, kepergian almarhumah Hj. Salbiah menyisakan duka yang begitu mendalam bagi keluarga besar dan masyarakat PALI, menyusul perjuangan panjang beliau melawan sakit yang dideritanya. Perjuangan hidup dan mati seorang ibu dalam merawat anak-anaknya hingga menghembuskan napas terakhirnya menjadi refleksi nyata bahwa tidak ada balasan yang setimpal atas jasa seorang ibu, selain bakti dan kasih sayang semasa hidupnya.
Asgianto mengingatkan bahwa harta, takhta, dan kesibukan duniawi kerap membuat manusia lupa pada sosok yang melahirkan dan membesarkan mereka. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh hadirin untuk tidak menunda-nunda berbuat baik kepada orang tua, khususnya ibu.
“Jangan tunggu sampai mereka tiada, lalu air mata penyesalan menetes sia-sia. Muliakan, sayangi, dan jaga hati ibumu selagi hayat masih dikandung badan,” tegas Asgianto, menggugah kesadaran moral ribuan pelayat yang hadir.
Pintu Pendopo yang Selalu Terbuka dan Lautan Doa Rakyat
Peringatan malam ketujuh wafatnya ibunda orang nomor satu di PALI ini menjadi potret nyata solidaritas sosial dan kedekatan emosional antara pemimpin dan rakyatnya. Selama sepekan penuh sejak hari pertama kepulangan almarhumah, pintu Pendopo Talang Ubi terbuka sangat luas bagi siapa saja yang ingin datang, memanjatkan doa, dan memberikan dukungan moril kepada keluarga yang ditinggalkan.
Lautan manusia yang memadati area pendopo pada malam ketujuh ini membuktikan betapa besar cinta masyarakat kepada keluarga bupati. Rangkaian ibadah malam nujuh hari tersebut dimulai secara khidmat dengan pelaksanaan salat Maghrib berjamaah yang dipusatkan langsung di pendopo. Suasana spiritual semakin terasa kental tatkala gema ayat suci Al-Qur’an dilantunkan dengan merdu oleh Qori Ust. Ismail, S.Pd.I, menenangkan jiwa para jemaah yang hadir.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin yang dipimpin oleh Ust. Taufik Kamil, S.Pd.I, serta kalimat-kalimat tahlil yang dikumandangkan bersama-sama di bawah panduan Ust. Padri, S.Pd.I., M.Si. Lantunan zikir dan doa yang dipanjatkan ribuan jemaah berpadu menjadi satu gelombang permohonan ampunan dan limpahan rahmat bagi almarhumah Hj. Salbiah di sisi Allah SWT.
Tausiah Penyejuk Hati dan Kehadiran Lintas Elemen
Sebagai penyempurna majelis takziah malam ketujuh ini, penceramah kondang Ust. Semar, S.Pd.I, menyampaikan tausiah yang menyejukkan hati. Dalam ceramahnya, ia mengupas tuntas tentang kemuliaan seorang ibu dalam pandangan Islam, keutamaan berbakti kepada orang tua, serta hikmah besar di balik setiap musibah kematian yang mengajarkan manusia tentang fana-nya kehidupan dunia. Tausiah tersebut sukses menghanyutkan emosi jemaah, membuat banyak yang meneteskan air mata mengingat jasa-jasa ibu mereka masing-masing.
Kehadiran para tokoh penting dari berbagai instansi dan elemen masyarakat malam itu turut memberikan kekuatan tersendiri bagi Bupati Asgianto. Tampak hadir di barisan depan jemaah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), di antaranya Kapolres PALI, Kajari PALI, Pabung, Danyon Brimob, serta Danramil dan jajaran Kepala OPD PALI.
Dari lembaga legislatif, terlihat Anggota DPRD PALI, M. Rizal, yang turut berbaur bersama masyarakat. Sementara itu, dari kalangan tokoh masyarakat dan tokoh pembangunan daerah, tampak hadir Pakde Sumarjono dan Irwan ST serta lapisan masyarakat dari penjuru Bumi Serepat Serasan. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa duka yang dirasakan oleh Bupati Asgianto adalah duka bersama seluruh masyarakat PALI.
Malam nujuh hari kepulangan Hj. Salbiah Binti H. Ajunas tidak hanya menjadi ritual keagamaan semata, melainkan sebuah momentum reflektif yang kuat. Melalui ketegaran dan pesan moral yang disampaikan oleh Bupati Asgianto, masyarakat PALI diajak untuk kembali merajut kebersamaan, memperkuat ikatan kekeluargaan, dan teristimewa, menempatkan kemuliaan seorang ibu di tempat yang paling tinggi sebelum waktu itu habis.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















