tintamerahNEWS -, Dilantik langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada 20 Februari 2025, Asgianto dan Iwan Tuaji mengemban ekspektasi tinggi masyarakat Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Pasangan yang diusung Partai Gerindra ini membawa visi “PALI Maju untuk Indonesia Emas”. Satu tahun berlalu, pemerintahan Asgianto-Iwan Tuaji menjadi panggung dinamis, di mana pencapaian infrastruktur dan pelayanan publik kerap beradu dengan kritik tajam perihal efisiensi anggaran dan gaya kepemimpinan.
Gebrakan Awal: Layanan Kesehatan dan “One Village One Product”
Tiga bulan pertama kepemimpinan, atau 100 hari kerja, Asgianto-Iwan mencoba memberikan impresi kuat dengan merealisasikan janji kampanye. Fokus utamanya adalah mendekatkan layanan dasar ke masyarakat.
Salah satu prestasi yang paling menonjol adalah komitmen layanan kesehatan gratis hanya dengan membawa KTP atau KK ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Langkah ini langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat menengah ke bawah. Selain itu, pemerintahannya juga menyalurkan asuransi ketenagakerjaan bagi lebih dari 10.000 pekerja rentan, sebuah langkah mitigasi sosial yang signifikan.
Di bidang ekonomi, Asgianto meluncurkan program “One Village One Product” (OVOP) yang bertujuan menggali potensi sumber daya setiap desa untuk mendongkrak ekonomi kerakyatan. Dukungan pemerintah pusat juga mengalir, tercermin dari dana bantuan Rp170 miliar untuk penyelesaian RSUD dan bantuan peralatan pertanian.
Prestasi administratif juga patut diacungi jempol, seperti keberhasilan Pemkab PALI meraih penghargaan sebagai kabupaten tercepat dalam pembentukan Koperasi Merah Putih di Sumatera Selatan dan predikat “Sangat Baik” dari Menteri Investasi dan Hilirisasi terkait kinerja DPMPTSP.
Kontroversi dan Kritik: Antara Gaya “Branding” dan Efisiensi
Namun, jalannya pemerintahan tidak lepas dari riak kontroversi. Seiring dengan berjalannya waktu, kritik tajam mulai berdatangan dari berbagai pihak, terutama terkait efisiensi anggaran daerah.
Ketua Harian Presidium PALI, Iskandar Sinar Musi, sempat menyoroti kinerja awal pemerintahan ini, bahkan menyebut adanya indikasi kemunduran, terutama terkait optimalisasi pembangunan. Sorotan tajam tertuju pada dugaan pengadaan mobil dinas mewah senilai lebih dari Rp12 miliar, yang dianggap kurang sensitif terhadap kondisi ekonomi daerah yang baru bangkit.
Kritik lain menyoal seringnya rapat OPD dilaksanakan di hotel mewah, serta penilaian bahwa kepemimpinan Asgianto-Iwan lebih banyak menonjolkan “gimik branding” daripada substansi pembangunan lokal.
Menjawab Tantangan: “Terlalu Dini Mengkritisi”
Menanggapi berbagai kritik tersebut, pihak Asgianto-Iwan Tuaji melalui tim komunikasinya meminta waktu dan kesempatan untuk membuktikan kinerjanya. Mereka menegaskan bahwa apa yang terjadi di awal jabatan adalah warisan masa lalu yang harus dibenahi terlebih dahulu, dan pembangunan tidak bisa instan.
Pasangan ini berupaya untuk fokus pada perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan dengan memanfaatkan bantuan provinsi, serta melanjutkan program perbaikan rumah tidak layak huni. Asgianto juga menekankan perannya dalam membangun sinergi dengan pemerintah pusat, mengingat kedekatannya dengan Partai Gerindra.
Penutup: Catatan Satu Tahun
Satu tahun Asgianto-Iwan Tuaji adalah perpaduan antara langkah cepat di bidang layanan kesehatan (KTP Gratis) dan inovasi daerah (Koperasi Merah Putih & OVOP), berhadapan dengan tuntutan transparansi dan efisiensi anggaran.
Apakah duet ini mampu membuktikan diri sebagai pembawa perubahan?, atau justru terjebak dalam kontroversi, waktu yang akan menjawab. Namun, narasi yang terbangun di tahun pertama ini menunjukkan bahwa PALI sedang bergerak, dengan segala dinamika, janji, dan tantangan yang menyertainya.
Oleh: Efran















