Politikus PKS Dicurhati Warga Lubuk Linggau Soal Tingginya Biaya Pendidikan Saat Reses

Jumat, 2 Februari 2024 - 20:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LUBUK LINGGAU | Tintamerah.co.id – Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Daerah Pemilihan (Dapil) Sumsel VIII (Musi Rawas, Musi Rawas Utara dan Lubuklinggau) Fraksi PKS, H Suhada Sarbini menggelar Reses Tahap I Tahun 2024 di Kota Lubuk Linggau.

Politikus PKS itu menggelar reses dengan bertemu konstituennya di Jalan Merpati Rt 03, kelurahan Bandung Kanan, kecamatan Lubuklinggau Barat I, Kamis (01/02/24).

Suhada menjelaskan sebelumnya saya menggelar reses pertama di kelurahan Ulak Lebar dan Alhamdulillah hari ini saya juga menggelar reses kedua di kelurahan Bandung Kanan.

“Dalam pelaksanaan reses ini ternyata di kelurahan Bandung Kanan berbeda sekali yang dialami di kelurahan Ulak Lebar, di kelurahan Bandung Kanan tidak terlalu banyak usulan-usulan tentang pembangunan sarana prasarana seperti jalan, siring dan listrik, mungkin karena kelurahan ini ditengah tengah kota jadi infrastrukturnya sudah bagus,” katanya.

Selain itu, kata Suhada, berbeda temuan saat reses pertama di kelurahan Ulak Lebar kemarin, masih banyak usulan pembangunan jalan, talud, drainase, penerangan jalan dan lainnya. Namun kesamaannya adalah ternyata permasalahan utama di dua kelurahan ini adalah tersedianya lahan Tempat Pemakaman Umum (TPU).

BACA JUGA  Dukung Ketahanan Pangan 98 Hektar, Lahan Jagung di Sumsel Siap Ditanam

“Ini harus menjadi perhatian pemerintah kedepannya karena masyarakat membutuhkan TPU itu,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa keluhan masyarakat tentang penerimaan siswa baru dan akan menjadi bahan diskusi kami di Komisi V, permasalahan-permasalahan yang muncul akibat kesalahan, pemahaman atau faktor kesengajaan dari pelaksana tingkat sekolah.

“Jangan sampai ini justru jadi permasalahan yang terus berulang setiap tahunnya di tengah-tengah masyarakat, bagaimana mungkin anak-anak kita ini bisa mendapatkan pendidikan yang baik jika dalam proses penerimaan siswa barusaja anak-anak sudah trauma, terangnya.

Tak hanya itu, ujar Suhada, masyarakat merasa trauma dengan susahnya untuk masuk sekolah yang mereka inginkan, trauma juga dengan biaya-biaya yang tinggi sedangkan setelah mereka tamat sekolah, mereka bingung mau melanjutkan kemana karena tidak ada jaminan mereka bisa mendapatkan pekerjaan.

BACA JUGA  Penyuluhan Program PTSL Mura Bersama Warga Sukorejo

“Jadi memang ini harus kita selesaikan dan pemerintah harus benar-benar hadir dan serius menyelesaikan masalah ini yang telah kami temui dalam dua reses ini,” jelasnya.

Dia menyatakan bahwa  dibeberapa hari ke depan pihaknya masih ada agenda reses beberapa titik di beberapa kelurahan.

“Pasti ada permasalahan yang mungkin sama, dan ada juga yang berbeda, tapi inilah gunanya reses kami dapat bertemu dengan masyarakat, mendengar dan menyerap  informasi langsung dari mereka, tentang permasalahan utama yang mereka hadapi yang sangat mendasar,” imbuhnya.

Selain itu, terang Suhada, masyarakat mengeluhkan  biaya pakaian seragam sekolah terlampau tinggi hingga mencapai Rp. 5 juta, menurut dia, anggota DPRD saja berat apalagi yang orangtuanya buruh serta yang orangtuanya PNS juga berat.

BACA JUGA  PTBA Cetak Tenaga Mekanik Andal, Siap Dukung Target Produksi

“Kami akan menghimbau kepada pihak sekolah agar tidak membebani orangtua murid itu dengan kewajiban-kewajiban harus membeli seragam sekolah mulai dari hari Senin hingga Sabtu dan ada jenis pakaiannya tersendiri karena itu sangat memberatkan,” Suhada menambahkan.

Suhada menceritakan dahulu ia juga pernah sekolah dan merasakan bagaimana ketika pakaian seragam sekolah tidak sama dengan yang lain, apalagi anak-anak kita ini tidak semua sama karakternya.

“Ada anak-anak yang tidak sama seragamnya maka anak-anak tidak mau sekolah dan kalau anak-anak selama tiga hari tidak sekolah sehingga nantinya anak-anak berhenti sekolah,” terangnya.

Terakhir dia menegaskan bahwa program wajib belajar 9 tahun ini tidak sukses karena kebijakan-kebijakan yang memberatkan.

“Jadi mohon kerjasamanya juga teman-teman media, kita sama-sama menyuarakan ini supaya kedepannya hal-hal yang memberatkan masyarakat ini agar bisa diminimalisir sehingga masyarakat bisa terbantu dengan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat,” tutupnya. (Red)

Berita Terkait

PALI BERDUKA: Kepala DPKKB Maryono Tutup Usia, Sosok Birokrat Ulung dan Perekat Harmoni Bumi Serepat Serasan
Camat Talang Ubi Dinilai Alergi Wartawan, Edo Saputra: Demokrasi Sehat Butuh Pemerintah Terbuka
Perkuat Sinergi, Rumah Singgah Aktivis Gelar Lomba Gaple Sambut HUT Bhayangkara ke-80
Terjangkit ‘Virus’ Alergi Wartawan, Camat Talang Ubi Atmo Maryono Beraksi Bak Ninja Saat Dikonfirmasi
PALI Menuju Kejayaan Energi:Pemkab Dukung Penuh Survei Seismik 3D Bioni PT BGP Indonesia
Eksplorasi Migas di PALI: Pertamina EP dan BGP Indonesia Gelar Sosialisasi Survei Seismik 3D Peony, Libatkan Multi-Stakeholder
Puji UMKM PALI “Murah Tapi Branded”, Pengunjung Sunday Morning Desak Pembenahan Fasilitas Umum
Sampah Berserak di “Sunday Morning”, DLH PALI Siap Beraksi: Akan Tempatkan Tong Sampah

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:58 WIB

PALI BERDUKA: Kepala DPKKB Maryono Tutup Usia, Sosok Birokrat Ulung dan Perekat Harmoni Bumi Serepat Serasan

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:52 WIB

Camat Talang Ubi Dinilai Alergi Wartawan, Edo Saputra: Demokrasi Sehat Butuh Pemerintah Terbuka

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:30 WIB

Perkuat Sinergi, Rumah Singgah Aktivis Gelar Lomba Gaple Sambut HUT Bhayangkara ke-80

Senin, 22 Juni 2026 - 23:12 WIB

Terjangkit ‘Virus’ Alergi Wartawan, Camat Talang Ubi Atmo Maryono Beraksi Bak Ninja Saat Dikonfirmasi

Senin, 22 Juni 2026 - 10:54 WIB

PALI Menuju Kejayaan Energi:Pemkab Dukung Penuh Survei Seismik 3D Bioni PT BGP Indonesia

Berita Terbaru