PALI | tintaemerah.co -, Sikap Camat Talang Ubi, Atmo Maryono, yang berulang kali diduga menghindari konfirmasi wartawan menuai kritik keras. Aksi “kucing-kucingan” yang sebelumnya sempat disorot oleh tintamerah.co dalam laporan bertajuk “Terjangkit Virus Alergi Wartawan, Camat Talang Ubi Atmo Maryono Beraksi Bak Ninja Saat Dikonfirmasi”, kini memicu reaksi tajam dari kalangan pemuda di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
Tokoh pemuda revolusioner PALI, Edo Saputra, S.Pd., menegaskan bahwa perilaku menghindar dari media adalah cermin buruknya komitmen pejabat terhadap prinsip keterbukaan informasi publik dan akuntabilitas pemerintahan.
Menurut Edo, pejabat yang alergi terhadap media bukan hanya merendahkan marwah profesi wartawan, tetapi juga mencederai hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang jujur dan utuh.
“Ketika seorang pejabat publik memilih menghindar dari konfirmasi, yang sesungguhnya sedang ia jauhi bukan wartawannya, melainkan hak masyarakat untuk tahu kebenaran. Jabatan publik itu amanah, bukan simbol kekuasaan untuk sembunyi,” tegas Edo tintamerah.co kepada , Rabu (24/6/2026).
Edo menambahkan bahwa di era demokrasi saat ini, keterbukaan adalah napas pemerintahan. Mengutip pemikiran Anies Baswedan, ia mengingatkan bahwa “Demokrasi yang sehat lahir dari pemerintahan yang terbuka dan masyarakat yang kritis.”
“Rakyat berhak tahu bagaimana uang rakyat dikelola dan bagaimana kebijakan diambil. Jangan buat kesan birokrasi di PALI anti-kritik. Pemimpin yang kuat adalah mereka yang berani menjawab pertanyaan dan berani mempertanggungjawabkan kebijakan di depan publik,” lugas Edo.
Edo pun mendesak Pemerintah Kabupaten PALI untuk segera mengevaluasi pola komunikasi pejabat di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa pers adalah mitra strategis dalam pengawasan, bukan ancaman. Kalangan pemuda di PALI berkomitmen akan terus mengawal transparansi birokrasi demi memastikan pemerintahan berjalan selaras dengan kepentingan rakyat.
Redaksi Akan Terus Mengejar
Sikap menghindar dan menutup diri yang ditunjukkan oleh Atmo Maryono tidak akan menghentikan langkah tintamerah.co. Sebagai pilar demokrasi, kami memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk terus mengawal transparansi anggaran serta program kerja di Kecamatan Talang Ubi.
Redaksi tintamerah.co tidak akan berhenti mengejar Atmo Maryono sampai mendapatkan jawaban gamblang atas pertanyaan-pertanyaan publik yang selama ini ia hindari. Publik berhak tahu ada apa di balik perilaku alergi wartawan yang ia pertontonkan.
Sesuai dengan kode etik jurnalistik dan semangat keterbukaan informasi, tintamerah.co tetap memberikan ruang hak jawab yang seluas-luasnya bagi Atmo Maryono. Kami menunggu pernyataan resmi dan klarifikasi yang jujur dari sang Camat, kapan pun ia siap untuk menghadapi kenyataan di depan mikrofon dan kamera wartawan, bukan dengan mengunci pintu ruang kerja.
Sampai kapan Anda akan terus bersembunyi, Pak Camat?
Sikap tertutup ini jelas mencederai semangat keterbukaan informasi publik. Sebagai pejabat yang digaji oleh negara, Atmo Maryono seharusnya sadar bahwa posisi wartawan adalah mitra pengawasan dalam mengawal pembangunan di Bumi Serepat Serasan. Menghindar, mengunci pintu, dan “bermain petak umpet” dengan media bukanlah cerminan dari pemimpin yang amanah dan transparan.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















