MUARA ENIM | tintamerah.co -, Di tengah deru mesin dan kepulan asap industri modern, sebuah dialog penting terjadi di kawasan PT Tanjung Enim Lestari (TEL). Meja rapat yang biasanya menghitung angka produksi, Selasa pagi itu berubah menjadi ruang diskusi hangat. Pertemuan antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Muara Enim dan manajemen PT TEL membuktikan satu hal: dunia industri dan nilai-nilai spiritual tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi formalitas di atas kertas, melainkan sebuah ikhtiar nyata untuk mengintegrasikan dakwah Islam dengan pemberdayaan masyarakat serta keselamatan kerja di lingkar tambang dan pabrik.
Dakwah Harus Berdampak Nyata, Bukan Sekadar Mimbar
Dewan Pertimbangan MUI Muara Enim, H. Taufik Rahman, menegaskan bahwa peran MUI sebagai payung besar umat Islam harus hadir memberikan solusi konkret bagi tantangan zaman.
“Dakwah tidak cukup hanya di mimbar, tetapi harus hadir memberi manfaat nyata bagi umat,” tegas Taufik.
Senada dengan itu, Ketua Umum MUI Muara Enim, Dr. KH. Solihan, mengibaratkan kekuatan persatuan umat seperti filosofi sapu lidi. Mengingat MUI menaungi berbagai organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, hingga ICMI, kolaborasi menjadi kunci utama.
Gebrakan Fikih Kontemporer: Dari Bisnis Laundry hingga Juleha
Salah satu sorotan tajam dalam diskusi ini adalah perhatian MUI terhadap fikih kontemporer yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari masyarakat. KH. Solihan mencontohkan pentingnya edukasi kesucian pada bisnis laundry yang menjamur di kawasan industri.
“Pakaian untuk salat bukan hanya harus bersih, tetapi juga suci menurut syariat. Proses pencucian dan bahannya perlu dikaji secara fikih,” jelasnya.
Selain masalah laundry, komitmen kerja sama strategis yang langsung dibidik bersama PT TEL meliputi:
- Sertifikasi Halal: Pendampingan bagi pelaku UMKM binaan perusahaan.
- Pelatihan Juleha: Pembinaan Juru Sembelih Halal guna menjamin konsumsi yang tayyib.
- Edukasi Keagamaan: Pengiriman khatib Jumat profesional dan pelatihan pengurusan jenazah (fardhu kifayah).
Spiritualitas K3: Keselamatan Kerja Adalah Amanah Ilahi
Poin paling menggugah dalam pertemuan ini muncul saat membahas budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Anggota Dewan Pertimbangan MUI sekaligus Pendiri Ponpes Laa Roiba, KH. Taufik Hidayat, memberikan sudut pandang teologis yang mendalam mengenai K3.
Menurutnya, keselamatan kerja di industri berisiko tinggi tidak cukup hanya ditegakkan dengan Standard Operating Procedure (SOP) formal dan aturan teknis.
“Orang yang bekerja dengan kesadaran bahwa pekerjaannya adalah amanah, akan lebih berhati-hati dan bertanggung jawab. Keselamatan kerja juga membutuhkan kesadaran spiritual,” cetus KH. Taufik Hidayat tajam.
Respons Korporasi: Teknologi Tak Menggantikan Tuhan
Gagasan ini disambut terbuka oleh pihak manajemen. HR & CA Director PT TEL, Mochamad Amrodji, mengakui bahwa di balik kecanggihan teknologi industri, faktor manusia dan spiritualitas tetap menjadi penentu utama.
“Pada akhirnya manusia tetap membutuhkan pertolongan Allah SWT. Kami berharap ada penguatan pengetahuan agama, baik di lingkungan perusahaan maupun masyarakat sekitar,” aku Amrodji.
Pertemuan ini ditutup dengan kesepakatan bulat: mengawinkan etos kerja industri dengan nilai-nilai ketuhanan. Ketika cerobong pabrik PT TEL terus beroperasi memutar roda ekonomi, di saat yang sama, penguatan spiritualitas dan kesejahteraan umat di sekitarnya ikut bergerak maju dalam satu barisan.
Penulis: Imron Supriyadi | Editor: tintamerah.co















