Istidraj dalam Lingkaran Politik dan Kekuasaan

Jumat, 21 November 2025 - 21:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Islam telah menjelaskan Istidraj melalui ayat Al-Quran

Islam telah menjelaskan Istidraj melalui ayat Al-Quran

Oleh: Efran

“Istidraj dalam Islam adalah kondisi ketika seseorang diberikan kenikmatan duniawi yang berlimpah seperti harta, kekuasaan, dan kesuksesan, padahal ia terus-menerus bermaksiat kepada Allah. Sementara, dalam perspektif politik dan kekuasaan, istidraj dipahami sebagai fenomena di mana seorang penguasa atau politisi yang berbuat dzalim atau maksiat justru tampak semakin sukses, berkuasa, dan bergelimang harta, seolah-olah dibiarkan oleh Allah SWT, yang pada hakikatnya adalah bentuk hukuman bertahap yang akan berujung pada kebinasaan fatal”

tintamerahNEWS -, Sejak Allah SWT menciptakan umat manusia dalam kehidupan di dunia, kita bisa melihat berbagai macam kenikmatan atau kesuksesan yang didapatkan para  hambahnya, seperti kekayaan, jabatan, dan popularitas serta kenikmatan dunia lainnya. Namun sebaliknya, di dalam kehidupan masyarakat, kita juga bisa melihat kondisi orang-orang yang hidupnya serba pas-pasan bahkan dalam kesengsaraan.

Kita juga dapat mengetahui bagaimana cara mereka berjuang dalam mendapatkan rezeki. Ada seseorang yang hidupnya tampak mulus? Rezekinya lancar, bisnisnya sukses, jabatannya tinggi, menjadi orang yang terpandang dan dihormati, semua yang diinginkannya sangat mudah ia dapatkan, namun ia tidak pernah lalai menjalankan semua perintah Allah SWT. Kemudian, ada orang yang sudah maksimal berkerja keras  mencari rezeki, yang diiringi dengan ketaatannya dalam beribadah, tetapi orang ini hidupnya biasa-biasa saja, serta jauh dari kata kesuksesan atau kenikmatan duniawi bahkan ada yang hidupnya sangat menderita walaupun ia selalu terjaga dalam ibadahnya.

Islam Jelaskan Istidraj Melalui Al-Quran

Di antara kita  pasti ada yang pernah bertanya-tanya dalam hati atau menanyakan  kepada orang lain, kok! orang yang sangat jauh dari ibadah, jarang sholat,  tidak pernah takut berbuat maksiat, kenikmatan yang didapatkannya dari rezeki haram, tetapi hidupnya sangat mapan dan bergelimang harta, tidak pernah mendapatkan musibah atau kesusahan, diberikan kesehatan dan umur panjang, apapun yang ia inginkan terlihat semuanya Allah kabulkan, kok bisa! Mengapa orang seperti ini tetap diberikan kenikmatan oleh Allah?. Mengapa ia nampak spesial di mata Allah SWT?

Mungkin kita bisa menjawabnya melalui apa yang diterangkan dalam ajaran Islam! Itu bisa jadi merupakan kendali Allah SWT untuk hambahnya, ia adalah Istidraj. Istidraj adalah bentuk ujian dari Allah SWT untuk hambanya, dalam wujud yang tampak seperti nikmat, tapi sejatinya adalah jalan menuju kehancuran perlahan-lahan. Nikmat yang diberikan terus-menerus pada orang yang durhaka, bukanlah bentuk kasih sayang, namun tanpa disadari itu semua adalah bentuk teguran tersembunyi yang bisa membuat seseorang semakin jauh dari Allah.

Secara harfiah, istidraj berasal dari kata dalam bahasa Arab “daraja” yang berarti bertahap, sedikit demi sedikit, atau berangsur-angsur. Dalam konteks istilah agama, istidraj diartikan sebagai kondisi di mana Allah memberikan kenikmatan duniawi secara terus-menerus kepada seseorang yang sedang bermaksiat atau menjauh dari-Nya, namun ia tidak menyadarinya, sehingga kenikmatan tersebut menjadi jebakan dan hukuman yang tertunda.

Dengan kata lain, istidraj merupakan bentuk pemberian kenikmatan dari Allah SWT kepada orang-orang yang sebenarnya sedang dimurkai-Nya, seperti yang disampaikan dalam Al-Qur’an yang menyebutkan tentang istidraj: Surat Al-An”am yT 44, Surah Ali Imron ayat 178, Surah Al A-raf ayat 182-183, dan Surah Az-Zumar ayat49. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa istidraj adalah penundaan siksa yang berujung pada kehancuran, di mana seseorang yang durhaka diberikan kenikmatan duniawi secara bertahap hingga mereka tidak menyadari kesesatan mereka.

BACA JUGA  Pastor Pun, Akhirnya Memberi Hadiah kepada Muadzin

Politisi atau Penguasa dalam Lingkaran Istidraj

Lantas, bagaimana sebenarnya jika istidraj dilihat dari sudut pandang ‘Politik dan Kekuasaan’. Apa tanda-tanda orang yang terkena istidraj? Siapa saja orang itu? Apa saja yang dilakukannya? Apakah istidraj Allah masih ada di zaman kita saat ini! Apakah sudah ada tanda-tanda istidraj itu di dalam kepemimpinan Politisi atau Penguasa kita saat ini? Mari kita bahas lebih dalam!

Sama seperti yang dialami oleh masyarakat pada umumnya, orang yang  sukses di dalam kancah politik maupun kekuasaan, mereka tidak menyadari bahwa dirinya telah mengalami istidraj. Sering merasa dirinya baik-baik saja. Tubuhnya sehat selalu, kelimpahan materi, jauh dari musibah. Padahal ia adalah pelaku maksiat dan kemungkaran, ia tidak merasa bersalah melakukan kebohongan, bahkan mendzalimi orang lain. Aturan agama yang dibuat Tuhan-nya pun dilabrak, apalagi peraturan dan undang-undang yang merupakan produk partai politik dan pemerintah, dipastikan dikangkanginya.

Dalam dunia politik, di pusat maupun di daerah banyak kita temukan politisi atau penguasa, mereka sukses secara materi. Karir politiknya terus melejit, hingga mengantarkannya menjadi pemimpin di legislatif (anggota dewan) maupun eksekutif (kepala daerah), hingga ia mendapat pengaruh dan kewenangan yang sangat besar dalam menentukan arah kebijakan. Setiap tahun aset dan kekayaannya semakin melimpah, ia sangat disukai rakyatnya, seolah popularitasnya  membuat ia jadi seorang pejabat yang dipercaya.

Sehingga dalam setiap gelaran pemilu, siapa-pun yang menjadi lawan politiknya tidak menjadi hambatan untuk memenuhi hasrat politiknya. Cara apapun ia tempuh demi mewujudkan mimpinya menjadi penguasa. Ia bahkan mendapat banyak dukungan seolah sangat dicintai rakyat. Padahal, ia terpilih menjadi menjadi wakil rakyat, atau kepala daerah dengan melakukan money politik (membeli suara rakyat) yang uangnya dihasilkan dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Dalam tugasnya ke luar kota: kunjungan kerja, menghadiri rapat-rapat, pertemuan, dan seminar, serta terlibat berbagai acara. Namun diselah-selah tugasnya ini, ia jadikan  sebagai kesempatan mampir ketempat hiburan malam, atau janji kencan dengan kenalannya di kota tersebut.  Itu membuat kosentrasinya terpecah antara tugas negara atau menikmati kesenangan. Tugasnya sebagai wakil rakyat menjadi terbagi karena tuntutan hasrat dalam dirinya. Hal ini menyebabkannya semakin gemar bermaksiat, dan membuatnya lalai dengan perintah negara maupun agama sehingga ia terjebak dalam istidraj Allah.

Hingga saat kembali ke daerah asalnya, ia bersikap seolah tak terjadi suatu pelanggaran. Ia tidak merasa bersalah dengan perbuatan apapun yang dilakukannya, karena hatinya sudah terkunci. Sehingga, sumpah dan janji jabatan yang diucapkannya saat pelantikan hanya sebagai legitimasi dan seremonial belaka.

Kendati demikian, sikap dan tindakan ini tidak dirasakannya sebagai sebuah perilaku yang menyimpang dan di luar kendali. Ia telah terkunci dalam surga duniawi: kesenangan, kekayaan berlimpah,  dan berbagai kenikmatan lainnya. Dalam hari-harinya ia semakin menggila dengan perbuatan yang dilarang dalam ajaran agama yang membuatnya semakin jauh dari Allah SWT.

Hingga pada akhirnya, di saat mereka sedang larut dalam dunia dan tidak lagi memiliki kesadaran untuk bertobat, Allah mencabut seluruh kenikmatan tersebut secara tiba-tiba. Ketika itu terjadi, barulah mereka sadar, namun penyesalan yang datang sudah terlambat. Nikmat berubah menjadi azab dan kelalaian berubah menjadi kesengsaraan.

BACA JUGA  1 M Anak Muda Berisiko Mengalami Gangguan Pendengaran, IDI Muaraenim ke Laa Roiba

Sebagaimana firman Allah SWT:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang berasal dari sahabat Rasulullah SAW, ‘Uqbah bin Amir, Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila engkau lihat Allah memberikan sebagian keduniaan kepada hamba-Nya, apa saja yang diingininya dengan serba-serbi kemaksiatannya maka pemberian yang demikian adalah istidraj.” (HR. Ahmad)

Pertanda Istidraj Politik

Secara umum terdapat ciri-ciri seseorang terjebak dalam istidraj Allah: ia hidup dalam limpahan harta dan kekayaan, berkuasa, kesuksesan karir dan jabatan, kesehatan fisik, dan popularitas, sementara dalam waktu yang bersamaan ia juga melakukan berbagai maksiat dan kemungkaran.

Di dalam perspektif politik atau penguasa, ciri-ciri atau tanda itu dilakukan melalui pendekatan filosofis melalui metode penelitian yang berfokus pada pengalaman subjektif manusia (fenomenologis), istidraj sangat berpotensi menjadi perilaku atau tindakan yang dilakukan seorang politisi.

Pertama, dalam meraih jabatan dan kedudukan sebagai anggota dewan atau kepala daerah, untuk mendapatkannya ia menempuh dengan cara: curang, licik, tidak jujur, dan menyimpang. Melanggar hukum dan etik, membeli suara rakyat (money politik), mengggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi (abuse of power),  dan berkepribadian manipulatif. Namun karir politiknya terus melejit berjalan seiring dengan ambisinya untuk menjadi penguasa. Bahkan banyak pihak tidak menduga ia mampu mengalahkan lawan-lawan politiknya, karena ia merupakan kandidat yang tidak diunggulkan.

Kedua, politisi atau penguasa yang menjadi pelacur dapat dikatakan terkena istidraj Allah.   Ia menggadaikan dirinya demi hajat kekuasaan. Amanah dan integritas tak memiliki tempat dalam prinsip kepemimpinannya. Ia berkhianat kepada rakyat yang memberikan amanah kepadanya, tak menepati janji politik,  selalu dekat dengan rakyat saat pemilu, tak peduli dengan suara-suara rakyat saat sudah terpilih, terbiasa dengan kemunafikan, menjadi pemimpin yang otoriter, penindas, dan dzalim terhadap rakyatnya. Namun jabatan dan kekuasaannya berjalan lancar tanpa ada kendala apapun. Ia terbebas dari serangan lawan-lawan politiknya, membuat kekuatan politiknya bertambah kuat dan sangat berpengaruh, ia terkesan mendapat dukungan serta dicintai rakyat.

Ketiga, dalam menentukan kebijakan politiknya, politisi atau penguasa yang terjerat istidraj: membuat keputusan yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat, kebutuhan layanan dasar masyarakat terabaikan.  Ia lebih memprioritaskan kepentingan pribadi dan kelompoknya,  tak peduli dengan penderitaan dan kesulitan yang dialami rakyat. Tapi dalam  kekuasaannya, stabilitas politiknya selalu terjaga dalam kondisi aman dan terkendali. Bahkan dalam kepemimpinannya, ia mendapat  banyak  dukungan dan apresiasi.

Keempat, jika dilihat dari status sebagai pribadi, orang yang masuk dalam kategori istidraj: hidupnya selalu jauh dari ujian, cobaan, dan musibah. Ia dipandang orang  yang kebal terhadap berbagai penyakit, jarang sekali menderita sakit. Kondisi ini membuat  tubuhnya nampak sehat selalu.

BACA JUGA  KH Taufik Hidayat : Ramadhan Datang, Masihkah Menyalahkan Syetan?

Kelima, di dalam hati dan pikiran seorang politisi atau kepala daerah tertanam keyakinan: bahwa kekuasaan, jabatan, harta, serta kenikmatan dunia lainnya, merupakan hasil usaha dan kerja kerasnya. Kuasa Allah tak dianggapnya. Sikapnya ini bukan hanya menentang ajaran Islam, tetapi ia tidak mengakui apa yang menjadi ketetapan Allah SWT. Dalam keyakinan yang mendasar dalam Islam, menekankan bahwa keagungan, kekuasaan, dan kasih sayang Allah SWT yang tidak terbatas. Tapi bagi orang yang terjerumus istidraj, ia tidak akan percaya dengan takdir Allah terhadap hambanya. Hebatnya lagi, dengan hati dan pikiran yang ingkar itupun, kehidupannya terjaga dalam ketenangan dan kenyamanan sebagai politisi atau kepala daerah.

Padahal, sejatihnya Allah sedang menangguhkan azab terhadap perilaku politisi atau kepala daerah tersebut diatas yang karena mengingkari perintahnya: ia berperilaku dzalim, tidak beradab dan berakhlak, tidak amanah dan integritas, dan kebijakan-kebijakan politik yang menyusahkan rakyat.

Walaupun politisi atau penguasa itu diberi berbagai kenikmatan dan kesuksesan duniawi. Tetapi dalam waktu yang bersamaan, sesungguhnya Allah sudah menyiapkan azab yang sangat pedih pada waktu yang sudah ditentukan, baik dalam dunia ini atau di akhirat kelak, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al ‘Araf, 182).

Istidraj Allah dalam Kisah Firaun

Dalam sejarah peradaban kekuasaan manusia, Firaun merupakan penguasa Mesir kuno di zaman Nabi Musa a.s. Ia adalah contoh nyata bagaimana dasyatnya istidraj Allah.  Kisah Firaun ini adalah gambaran nyata dari istidraj dari Allah SWT kepada pemimpin.  Seperti dalam catatan Al-Quran, Firaun adalah penguasa penindas yang dzalim, pemimpin yang kejam. Semua instrumen kekuasaan ada padanya. Ia mengklaim dirinya sebagai tuhan yang paling tinggi, dan menuntut  disembah oleh seluruh rakyatnya.

Meskipun melakukan berbagai kedzaliman yang luar biasa dan menantang ajaran Allah yang dibawa oleh Nabi Musa,berbagai kenikmatan duniawi yang berlimpah diberikan Allah kepada Firaun, kerajaannya tetap makmur, pasukannya kuat, dan hidupnya penuh kemewahan.  Namun kenikmatan itu tak membuatnya menjadi pemimpin yang amanah, dan membuatnya sadar atau kembali ke jalan yang benar. Ternyata kenikmatan itu sebagai jebakan yang membuatnya semakin sombong, dan lalai. Peringatan dan mukjizat yang ditunjukkan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun tidak digubrisnya, bahkan ia semakin menjadi-jadi dalam kesombongan dan kekafirannya.

Dan pada akhirnya azab datang secara tiba-tiba. Allah binasakan Firaun tanpa memberinya kesempatan untuk bertaubat. Allah kemudian menenggelamkan Firaun dan bala tentaranya di Laut Merah ketika mereka mengejar Nabi Musa dan pengikutnya. Nikmat dan kekuasaan yang dimilikinya tidak dapat menyelamatkannya dari azab Allah yang datang pada waktu yang telah ditentukan.

Kisah Firaun menjadi pelajaran penting bagi pemimpin dzalim dan jauh dari agama. Meskipun jabatan, dan kekayaan serta kenikmatan dunia mudah diperolehnya, bukan berarti itu sebagai tanda bahwa Allah ridha padanya, melainkan musibah berselubung nikmat yang akan berujung pada kebinasaan fatal di dunia dan akhirat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

1 M Anak Muda Berisiko Mengalami Gangguan Pendengaran, IDI Muaraenim ke Laa Roiba
Pastor Pun, Akhirnya Memberi Hadiah kepada Muadzin
KH Taufik Hidayat : Ramadhan Datang, Masihkah Menyalahkan Syetan?

Berita Terkait

Jumat, 21 November 2025 - 21:31 WIB

Istidraj dalam Lingkaran Politik dan Kekuasaan

Rabu, 5 Maret 2025 - 14:40 WIB

1 M Anak Muda Berisiko Mengalami Gangguan Pendengaran, IDI Muaraenim ke Laa Roiba

Senin, 3 Maret 2025 - 10:33 WIB

Pastor Pun, Akhirnya Memberi Hadiah kepada Muadzin

Senin, 3 Maret 2025 - 10:32 WIB

KH Taufik Hidayat : Ramadhan Datang, Masihkah Menyalahkan Syetan?

Berita Terbaru