PALI | tintamerah.co -, Di penghujung Ramadan 1447 H, atmosfer Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, mulai berdenyut kencang. Di tengah hiruk-pikuk persiapan mudik dan aroma hidangan khas lebaran, Ketua DPRD PALI, H. Ubaidillah, memberikan catatan krusial mengenai esensi kemenangan dan tanggung jawab pemerintah dalam melayani umat.
Bagi Ubaidillah, Idul Fitri 2026 bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan sebuah “titik balik” bagi masyarakat PALI. Ia mengamati adanya lonjakan antusiasme yang lebih hangat dan kolektif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kemenangan sejati adalah saat kita mampu menahan diri dan memperkuat kepedulian. Ini adalah momentum untuk membangun daerah dengan hati yang bersih,” ujarnya dalam keterengan pers yang diterima tintamerah.co, Jumat (20/3/2026).
Namun, di balik pesan filosofis tersebut, Ubaidillah tetap menjalankan fungsi pengawasannya dengan tajam. Ia menekankan bahwa kekhusyukan ibadah masyarakat harus dijamin oleh kesiapan infrastruktur yang mumpuni. Sebagai nakhoda legislatif, ia telah mendorong Pemerintah Kabupaten PALI untuk memastikan seluruh titik pelaksanaan Sholat Id—baik di masjid maupun lapangan terbuka—berada dalam kondisi layak, bersih, dan aman.
“Kami terus memantau koordinasi antara kepolisian, perhubungan, hingga Satpol PP. Rakyat harus merasa nyaman dan tenang saat bersujud di hari kemenangan nanti,” tegasnya.
Menyikapi potensi perbedaan penentuan 1 Syawal, Ubaidillah tampil sebagai penengah yang sejuk. Ia mengimbau warga untuk tidak terjebak dalam dikotomi metode Hisab dan Rukyat. Baginya, harmoni sosial di atas segalanya. “Perbedaan itu khazanah, jangan diperuncing. Fokuslah pada ukhuwah,” tambahnya menutup perbincangan.
Laporan: Efran















