tintamerahNEWS -, Di panggung politik Sumatera Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) bukan lagi sekadar daerah otonomi baru yang merangkak. Di bawah visi besar Ir. H. Heri Amalindo, MM, kabupaten ini diproyeksikan menjadi “Segitiga Emas”—sebuah titik temu strategis yang menghubungkan urat nadi ekonomi dan mobilisasi warga antar-kabupaten tetangga. Namun, visi itu belum lengkap tanpa satu pilar utama: Kesehatan.
Kini, tongkat estafet perjuangan itu berada di pundak Bupati Asgianto, ST. Judul besarnya jelas: Menuntaskan mimpi Heri Amalindo menjadikan PALI sebagai magnet kesehatan melalui transformasi RSUD Talang Ubi menjadi RSUD Tipe A.
Visi Heri Amalindo: Melawan Sentralisasi Kesehatan
Heri Amalindo, sang arsitek pembangunan PALI, sejak lama menegaskan bahwa rakyat PALI tidak boleh terus-menerus menjadi “pasien rujukan” yang harus bertaruh nyawa di perjalanan menuju Palembang. Dalam berbagai kesempatan, Heri dengan lugas menyatakan:
“PALI ini Segitiga Emas. Posisi kita di tengah-tengah. Kita punya tanggung jawab moral bukan hanya melayani warga PALI, tapi juga warga Muara Enim, Musi Rawas, hingga Muba. RSUD Talang Ubi harus naik kelas ke Tipe A. Alatnya harus paling canggih, dokternya harus lengkap!”
Pernyataan ini bukan bualan politik. Ini adalah kritik tajam terhadap ketimpangan fasilitas kesehatan yang selama ini berpusat di ibu kota provinsi. Heri ingin PALI menjadi jawaban bagi mereka yang selama ini terpinggirkan oleh akses.
Pernyataan Dinas PUTR: Progres Fisik Bukan Sekadar Janji
Menjawab tantangan tersebut, mesin birokrasi di bawah komando Bupati Asgianto mulai menunjukkan taringnya. Melansir laporan eksklusif dari TintaMerah.co, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR) PALI, Ristanto Wahyudi, memberikan update terbaru mengenai progres pembangunan fisik gedung RSUD yang menjadi pondasi utama menuju Tipe A.
Ristanto menegaskan bahwa pengerjaan infrastruktur RSUD dilakukan dengan standar kualitas tinggi untuk mendukung beban alat-alat medis berat di masa depan.
“Pembangunan gedung RSUD Talang Ubi terus kita kebut dengan pengawasan ketat. Fokus kita saat ini adalah memastikan struktur bangunan mampu menampung fasilitas ruang operasi dan laboratorium canggih. Sesuai instruksi pimpinan, target kita adalah fungsionalitas maksimal agar peningkatan status ke Tipe A bukan sekadar administratif, tapi nyata secara fisik dan fasilitas,” tegas Ristanto Wahyudi.
Asgianto: Melanjutkan Narasi dengan Eksekusi Tajam
Bupati Asgianto menyadari bahwa ia memegang warisan besar. Ia tidak memilih untuk menghapus jejak pendahulunya, melainkan memperkuatnya. Keberanian Asgianto mengalokasikan anggaran ratusan miliar untuk RSUD dan alat kesehatan (Alkes) adalah bukti bahwa ia tidak ingin rakyat PALI hanya disuguhi “cerita indah” tanpa realita.
“Membangun rumah sakit bukan hanya membangun gedung. Kita membangun harapan masyarakat. Saya pastikan koordinasi antara PUTR untuk fisik dan Dinas Kesehatan untuk pelayanan akan berjalan linier. Cita-cita Pak Heri adalah cita-cita kita semua,” ungkap Asgianto dalam sebuah pertemuan publik di Pendopo.
Suara Kritis: Antara Harapan dan Transparansi
Namun, narasi besar ini tidak lepas dari sorotan tajam. Media sosial dan kelompok aktivis seperti K-MAKI terus mengingatkan agar anggaran jumbo ini tidak menjadi “bancakan” oknum yang tidak bertanggung jawab. Rakyat di Bumi Serepat Serasan sangat cerdas; mereka melihat beton yang berdiri, tapi mereka juga merasakan pelayanan yang diberikan.
Kritik masyarakat di platform digital seringkali menyoroti keramahan petugas dan ketersediaan obat. Ini adalah tantangan bagi Asgianto: membangun gedung megah melalui Dinas PUTR adalah satu hal, tapi membangun budaya melayani yang prima adalah ujian sesungguhnya.
Kesimpulan: Momentum Emas PALI
Kolaborasi antara visi visioner Heri Amalindo dan eksekusi agresif Bupati Asgianto, didukung oleh kesiapan teknis Dinas PUTR, menempatkan PALI pada jalur yang tepat. Jika RSUD Talang Ubi benar-benar bertransformasi menjadi Tipe A, maka PALI bukan lagi sekadar perlintasan, melainkan Pusat Kesembuhan bagi jutaan jiwa di Sumatera Selatan bagian barat.
Asgianto kini sedang menulis sejarah. Apakah ia akan dikenang sebagai pemimpin yang menuntaskan mimpi besar, atau sekadar penjaga gerbang transisi? Waktu yang akan menjawab, namun komitmen yang ada saat ini memberikan sinyal kuat: PALI sedang menuju puncak.\
Oleh: Efran | Editor: tintamerah.co















