PALI | tintamerah.co -, Topeng “kebebasan demokrasi” yang sering digembar-gemborkan Bupati PALI, Asgianto, akhirnya terkelupas di hadapan publik. Senin (30/3/2026), selepas Rapat Paripurna DPRD PALI, sang pemimpin daerah mempertontonkan sikap yang jauh dari etika pejabat publik: Menghindar, menuding, dan melarikan diri dari konfirmasi.
Kejadian bermula saat jurnalis tintamerah.co, Efran, mencoba menagih klarifikasi atas pernyataan “beracun” Asgianto pada 9 Maret lalu. Kala itu, di rumah dinasnya yang nyaman, Asgianto sesumbar bisa menggunakan kekuasaan untuk “menjahili” wartawan melalui telepon sakti ke Kapolres dan Kajari.
Tudingan “Pelintir”: Senjata Pamungkas Pejabat yang Terpojok?
Bukannya memberikan penjelasan logis sebagai bentuk akuntabilitas, Asgianto justru melempar tuduhan murahan. “Berita itu kau pelintir,” cetusnya singkat sembari bergegas meninggalkan awak media seolah sedang dikejar hantu dosa masa lalu.
Tudingan “pelintir” ini adalah penghinaan nyata terhadap profesi jurnalis. Jika benar dipelintir, mengapa sang Bupati enggan duduk tegak dan meluruskan fakta? Mengapa harus memilih jurus langkah seribu jika tangannya bersih dari niat kriminalisasi pers?
Demokrasi di Ujung Lidah, Otoriter di Balik Tindakan
Sangat ironis melihat seorang Bupati mengklaim memberikan kebebasan demokrasi, namun di saat yang sama memelihara mentalitas “ancaman telepon aparat” kepada mereka yang kritis. Sikap Asgianto hari ini bukan sekadar menghindari wartawan, melainkan bentuk peludahan terhadap pilar keempat demokrasi.
Pesan yang dikirimkan sangat jelas: Jangan tanya lebih jauh, atau Anda akan saya tuding sebagai pemelintir berita. Ini adalah gaya kepemimpinan kuno yang hanya berani bicara di panggung yang diatur, namun gemetar saat harus berhadapan dengan fakta lapangan.
Gema Lonceng Kematian Pers PALI
Sikap bungkam Asgianto seolah menjadi simfoni pelengkap bagi laporan mendalam redaksi kami sebelumnya. Ancaman penjara dan “suap berbalut sirup” kini bukan lagi sekadar rumor, melainkan realitas pahit yang sedang mencengkeram Bumi Serepat Serasan.
Publik PALI kini harus bertanya-tanya: Apakah kita sedang dipimpin oleh seorang demokrat, atau seorang penguasa yang hanya ingin mendengar pujian sambil memegang gagang telepon untuk membungkam kebenaran?
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















