PALI | tintamerah.co -, Tekanan publik dan jeritan “Emak-emak” di Dusun VII Desa Tempirai, Kecamatan Penukal Utara, akhirnya memaksa Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan untuk “turun gunung”. Setelah sekian lama wilayah ini terisolasi oleh lumpur dan kegelapan, tim teknis dari PUTR melakukan peninjauan langsung ke titik-titik kerusakan yang selama ini menjadi momok bagi warga.
Hitung-hitungan di Atas Lumpur
Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, kondisi akses jalan di Dusun VII (sebelumnya sering disebut Dusun VIII) memang dalam kondisi kritis. Kepala Bidang Bina Marga, Ismad Rizhantari Cahya dan Kepala Bidang Cipta Karya, Sudirman, perwakilan dari Dinas PUTR yang melakukan peninjauan, mengungkapkan bahwa terdapat kebutuhan perbaikan jalan sepanjang kurang lebih 1 kilometer.
“Kita sudah mengukur, ada sekitar 1 kilometer yang mendesak. Ada bagian yang sudah dicor sekitar 350 meter, namun sisanya masih berupa tanah dan ‘imbunan’ yang hancur. Bahkan ada titik sepanjang 100 meter yang masuk area Pertamina,” ungkapnya di hadapan warga, Senin (6/4/2026)
Dinas PUTR memperkirakan, untuk melakukan pengecoran jalan sepanjang 1 kilometer tersebut dengan standar yang layak, dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. “Kalau hitungan kami, 1 kilometer ini minimal memakan biaya 4 sampai 5 miliar rupiah agar hasilnya menetap dan baik,” tambahnya.
Solusi Darurat atau Sekadar Formalitas?
Meski angka miliaran sudah dihitung, PUTR belum bisa menjanjikan pembangunan permanen dalam waktu dekat. Sebagai langkah awal, pihak dinas berencana melaporkan hasil ini ke pimpinan untuk diupayakan masuk dalam anggaran perjalanan atau pemeliharaan. Jika anggaran kabupaten terbatas, opsi lain yang dilemparkan adalah melalui Forum CSR (TSR) dengan melibatkan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut, seperti PT LKK.
“Kalau PT LKK tidak mau bantu, jangan datang ke sini! Ribuan orang bekerja lewat sini, tapi akses jalan hancur begini,” cetus salah satu warga dengan nada tinggi, menagih tanggung jawab sosial perusahaan.
Warga menegaskan bahwa mereka tidak butuh janji muluk-muluk. Mereka hanya ingin jalan segera disimpul dan bebas banjir. “Yang penting itu pangkalnya Pak, cepat disimpul. Kami tidak bisa melintas ke mana-mana kalau banjir dan berlumpur begini,” keluh warga.
Menagih “Surat Sakti” di Tengah Krisis Kepercayaan
Peninjauan ini seolah menjadi jawaban atas rentetan laporan tintamerah.co sebelumnya yang menyoroti tajam penderitaan rakyat Tempirai. Mulai dari jeritan emak-emak yang membandingkan mobil mewah pejabat dengan kubangan lumpur, hingga tuntutan tim sukses yang menagih “Surat Sakti” janji politik Bupati PALI.
Sebelumnya, publik PALI diguncang dengan narasi “Darurat Moral Pemimpin” karena membiarkan rakyat Tempirai “disiksa” oleh lumpur dan kegelapan tanpa penerangan jalan. Peninjauan Dinas PUTR kali ini menjadi pertaruhan terakhir: apakah ini akan menjadi solusi nyata atau hanya sekadar formalitas untuk meredam kemarahan massa?
Selain soal jalan, masalah listrik juga menjadi sorotan. PUTR berjanji akan berkoordinasi dengan Dinas Perkim untuk meninjau kabel-kabel yang mengancam nyawa masyarakat dan mematikan akses air bersih.
Penutup: Bola Ada di Tangan Bupati
Kini, data sudah diambil, jarak sudah diukur, dan penderitaan warga sudah disaksikan langsung. Bola panas kini berada di tangan Bupati PALI dan jajaran pimpinan daerah.
Masyarakat Desa Tempirai, khususnya Dusun VII, kini hanya bisa menunggu: apakah anggaran 4-5 miliar rupiah itu akan segera turun, ataukah mereka tetap harus berkubang dalam lumpur sembari melihat janji-janji politik tempo hari perlahan membusuk ditelan bumi?
“Peninjauan sudah, dihitung sudah, didata sudah. Tinggal kita tunggu keseriusan pembangunan dalam membangun jalan di Dusun VII ini,” pungkas tokoh masyarakat setempat saat menutup pertemuan tersebut.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















