PALI, tintamerah.co – Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera tengah memasuki fase kritis. Musim kemarau ekstrem yang melanda telah memicu lonjakan drastis kejadian kebakaran, baik lahan maupun pemukiman, dalam kurun waktu singkat. Menanggapi situasi darurat ini, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten PALI menyatakan siaga penuh dan mengeluarkan ultimatum tegas kepada masyarakat.
Kepala DPKP Kabupaten PALI, Rizal Pahlevi, Ap., M.Si., dalam wawancara eksklusif dengan tintamerah.co, Senin (10/8/2026), menegaskan bahwa seluruh jajarannya diperintahkan untuk meningkatkan kewaspadaan ke level tertinggi.
“Kami menyikapi situasi cuaca yang sangat ekstrem dan kering ini dengan serius. Seluruh personel, terbagi dalam tiga pleton, telah saya instruksikan untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Di kantor, alat komunikasi harus aktif setiap saat agar laporan masyarakat bisa direspons dengan cepat,” ujar Rizal.
Tidak hanya personel, Rizal juga memastikan kesiapan armada dan seluruh peralatan tempur. Pengecekan menyeluruh dilakukan terhadap mobil pemadam dan mobil tangki suplai untuk memastikan kondisinya selalu prima saat dibutuhkan.
Sinergi Lintas Sektor dan Ancaman Korsleting
Rizal memaparkan, dalam dua minggu terakhir, hampir setiap hari terjadi kebakaran lahan di wilayah PALI. Meskipun penanggulangan utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berada di bawah komando BPBD, DPKP PALI berperan aktif sebagai bagian dari Satgas Karhutla.
“Kami bekerja bersama-sama dengan BPBD, TNI, Polri, dan perangkat daerah terkait. Namun, ancaman serius juga datang dari pemukiman,” tambahnya.
Kebakaran rumah di Rejosari yang terjadi semalam, menurut Rizal, dipicu oleh korsleting listrik. Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat. Ia menghimbau warga untuk lebih waspada, terutama setelah memasak dan saat malam hari. “Cabut peralatan listrik yang tidak perlu. Waspada dan amankan rumah masing-masing sebelum terjadi, karena jika api sudah membesar, yang tersisa hanyalah upaya pemadaman,” tegasnya.
Kendala Geografis dan Tantangan Mentalitas “Penonton”
Di balik kesiapan armada yang ada, Rizal tak menampik adanya kendala. Wilayah geografis PALI yang luas dan berbukit, dengan dusun-dusun yang terpencil, menjadi tantangan tersendiri dalam respon cepat. Terlebih lagi, pos pemadam belum tersebar di setiap kecamatan.
Namun, kendala teknis ini diperparah oleh kendala non-teknis yang kerap ditemui di lapangan: perilaku masyarakat. Rizal menyayangkan masih banyak warga yang sibuk menonton dan merekam video kejadian kebakaran alih-alih membantu memberikan akses bagi petugas.
“Kelancaran penanggulangan kebakaran bukan hanya tugas kami, tapi juga partisipasi masyarakat. Kami menghimbau, jangan sampai masyarakat menghambat petugas dengan sibuk menonton atau memvideokan. Tolong, berikan kami akses untuk armada dan akses langsung ke titik lokasi agar tidak ada korban,” pungkas Rizal dengan nada mendesak.
Upaya Penguatan Armada: Sebuah Harapan Baru
Pernyataan Rizal mengenai kendala jangkauan ini selaras dengan laporan-tintamerah.co sebelumnya yang menyoroti upaya DPKP PALI dalam memperkuat armadanya. Bupati PALI, Asgianto, memiliki visi besar agar seluruh kecamatan memiliki pos pemadam sendiri.
Sebagai langkah awal mewujudkan visi tersebut, DPKP PALI telah menggeber uji coba unit multifungsi berkapasitas besar untuk Pos Penukal. Armada baru ini dirancang dengan spesifikasi komprehensif, perpaduan merek global, chassis heavy duty, dan teknologi pemadaman mutakhir untuk menaklukkan medan berat dan memperpendek jarak tempuh ke lokasi kejadian.
Ketua DPRD PALI, H. Ubaidillah, pun telah menyatakan dukungan penuh all out terhadap visi bupati untuk menghadirkan pos damkar di seluruh kecamatan. Kehadiran armada canggih dan penambahan pos di masa depan diharapkan menjadi solusi permanen atas kendala geografis yang selama ini menjadi batu sandungan.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















