PALI | tintamerah.co -, Nada bicara Eva Odie Mononutu terdengar tegas tanpa tedeng aling-aling saat menyampaikan unek-uneknya di sela-sela kegiatan Sunday Morning di Lapangan Sanggar Pramuka Gelora November Pertamina Pendopo, Talang Ubi, PALI, Sumatera Selatan, Minggu (7/6/2026). Wakil Instruktur Senam Lembaga Lansia Indonesia (LLI) PALI ini melayangkan sentilan menohok yang dialamatkan langsung kepada jajaran anggota DPRD PALI serta para istri wakil rakyat tersebut.
Eva dengan lugas mengingatkan agar para pejabat dan keluarganya jangan hanya menampakkan batang hidung ketika musim pemilihan legislatif (Pemilu) tiba demi meraup suara. Ia menantang mereka, terkhusus kaum perempuan dan istri anggota dewan, untuk mau turun langsung membaur bersama masyarakat luas dalam kegiatan olahraga rutin seperti senam LLI ini demi melihat realita fasilitas yang serba kekurangan.
“Kalau tidak bapak-bapaknya, ya ibu-ibunya (istri anggota dewan) itu perlulah turun ke lapangan. Jangan pas pemilihan saja datang dan bilang ‘Saya ada di belakang kalian’, setelah terpilih malah tidak pernah muncul. Turun, ikut senam, atau minimal tengok keadaannya. Kami bisa ada di sini kan juga karena suara masyarakat,” ujar Eva dengan nada menggugah.
Ironi di Balik Misi Ekonomi Sunday Morning
Sentilan keras dari peserta senam ini seolah membuka tabir kontradiksi di balik megahnya konsep Sunday Morning yang digaungkan oleh Dinas Koperasi dan UKM PALI. Dalam laporan tintamerah.co sebelumnya, Kadiskop UKM PALI sempat membongkar bahwa misi utama dari program Sunday Morning ini sangat strategis, yakni sebagai motor pemutar roda ekonomi lokal, penjaga daya beli masyarakat, sekaligus benteng pertahanan agar para pelaku kuliner PALI tidak lari mencari rezeki ke luar daerah.
Namun, misi mulia perputaran ekonomi tersebut nyatanya berjalan pincang karena tidak diimbangi dengan perhatian mendasar bagi elemen pendukung utamanya, yakni para peserta senam LLI yang meramaikan lapangan setiap minggu pagi.
Lima Tahun Menolak Renta Tanpa Sentuhan Pemerintah
Kondisi para lansia di Gelora November ini sejatinya merupakan potret perjuangan mandiri yang memprihatinkan. Laporan investigasi tintamerah.co sebelumnya bertajuk “Menolak Renta di Gelora November” sempat menguliti fakta miris bahwa sudah lima tahun lamanya kelompok senam LLI ini bergerak mandiri tanpa sedikit pun sentuhan bantuan dari Pemerintah Kabupaten PALI.
Demi menjaga kebugaran tubuh di usia senja, para ibu dan lansia ini terpaksa merogoh kocek pribadi untuk membiayai seluruh operasional kegiatan. Pemerintah daerah dinilai menutup mata dan membiarkan semangat hidup sehat para lansia ini berjalan terseok-seok tanpa fasilitas penunjang yang layak.
Tersandera Janji Manis yang Menguap
Kekecewaan kelompok senam LLI ini kian berlipat gawang karena mereka merasa terus-menerus tersandera oleh janji manis para elite politik. Berdasarkan catatan kritis tintamerah.co terdahulu, para peserta senam bahkan sempat menyentil keras sosok istri Bupati PALI yang dinilai melakukan aksi panggung politik sesaat. Istri orang nomor satu di PALI tersebut tercatat hanya datang satu kali untuk berfoto dan menebar janji di awal, namun setelah momen itu berlalu, ia tidak pernah memunculkan diri lagi ke hadapan para lansia.
Fasilitas Serba Patungan: Jeritan Sound System Hingga Ketiadaan Medis
Kembali ke penjelasan Eva Odie Mononutu, ia membeberkan detail teknis betapa tersiksanya peserta senam akibat minimnya fasilitas akibat anggaran mandiri. Kebutuhan paling krusial saat ini adalah pembaharuan unit sound system. Selama ini, mereka kerap kali harus menghentikan aktivitas olahraga di tengah jalan secara mendadak hanya karena sound system tua yang mereka gunakan tiba-tiba mati total akibat kerusakan teknis.
Selain perkara pengeras suara, Eva juga menyoroti ketiadaan tim medis atau tenaga kesehatan di lokasi senam. Mengingat sebagian besar peserta senam merupakan lansia yang rentan terhadap penyakit degeneratif seperti diabetes dan hipertensi, kehadiran posko pemeriksaan kesehatan gratis mingguan di lapangan sangatlah dinantikan.
Tak berhenti di situ, urusan sekadar air minum bagi peserta pasca-senam pun selama ini harus membawa dari rumah masing-masing karena absennya dukungan penyediaan logistik dari pemerintah atau perusahaan sekitar. Terakhir, masalah seragam senam yang layak juga menjadi keluhan yang belum menemui jalan keluar; seragam yang ada saat ini merupakan pengadaan mandiri sejak bertahun-tahun lalu dan kondisinya kini sudah mulai usang dimakan waktu.
“Kami tidak minta yang muluk-muluk, yang utama itu perbaikan sound system, bantuan air minum, pemeriksaan medis rutin, serta seragam baru agar ibu-ibu di sini makin semangat. Selama ini dari dinas terkait ataupun perusahaan swasta di PALI hampir tidak ada kontribusi konkret untuk kami,” pungkas Eva menutup wawancara.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















