Pelaku UMKM Resah Gas Elpiji 3 Kg Langka dan Mahal, Desak APH Tindak Tegas Oknum Mafia di PALI

Minggu, 7 Juni 2026 - 17:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelaku UMKM Bubur Ayam Bandung, Santi Yulianti, saat memberikan keterangan resmi dan konfirmasi kepada jurnalis tintamerah.co terkait keresahan kelangkaan serta meroketnya harga gas elpiji 3 kg bersubsidi di Lapangan Sanggar Pramuka Gelora November Pertamina Pendopo, Talang Ubi, PALI, Minggu (7/6/2026). Santi mendesak Pemkab PALI tidak tutup mata dan meminta APH segera menindak tegas oknum mafia gas yang mencekik ekonomi rakyat kecil.  (Foto: Dok/tintamerah.co)

Pelaku UMKM Bubur Ayam Bandung, Santi Yulianti, saat memberikan keterangan resmi dan konfirmasi kepada jurnalis tintamerah.co terkait keresahan kelangkaan serta meroketnya harga gas elpiji 3 kg bersubsidi di Lapangan Sanggar Pramuka Gelora November Pertamina Pendopo, Talang Ubi, PALI, Minggu (7/6/2026). Santi mendesak Pemkab PALI tidak tutup mata dan meminta APH segera menindak tegas oknum mafia gas yang mencekik ekonomi rakyat kecil. (Foto: Dok/tintamerah.co)

PALI | tintamerah.co -, Jeritan masyarakat Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, terkait kelangkaan dan melambungnya harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) ukuran tiga kilogram atau gas melon kian hari kian menyayat hati. Tidak hanya memukul sektor rumah tangga, prahara ini kini nyata-nyata mengancam kelangsungan hidup para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi urat nadi perekonomian daerah.

Keresahan mendalam ini disuarakan langsung oleh Santi Yulianti, pemilik usaha UMKM Bubur Ayam Bandung “Teh Santi”. Saat ditemui di tengah hiruk-pikuk kegiatan kemasyarakatan Sunday Morning di Lapangan Sanggar Pramuka Gelora November Pertamina Pendopo, Kecamatan Talang Ubi, PALI, pada Minggu pagi, ia tampak tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas situasi yang kian tidak berpihak pada rakyat kecil.

“Sebagai pelaku UMKM yang setiap harinya bergantung penuh pada gas elpiji tiga kilogram, melonjaknya harga dan susahnya mencari barang ini jelas sangat menyusahkan. Ini langsung menghambat proses produksi operasional kami. Pendapatan harian kami merosot tajam akibat tingginya biaya modal penunjang dapur,” ujar Santi dengan nada getir saat dikonfirmasi oleh jurnalis tintamerah.co, Minggu (7/6/2026).

Santi menceritakan, harga eceran gas melon yang ia beli saat ini berkisar jauh di atas harga normal, bahkan di waktu-waktu tertentu harganya kian tidak masuk akal. Padahal, harga eceran tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah jauh di bawah itu. Kondisi ini dinilainya sudah berlangsung berbulan-bulan tanpa adanya solusi konkret yang berpihak pada keadilan rakyat miskin.

BACA JUGA  Sambut Hut RI KE 77 Tahun, Remi Mantan Kades Desa Benuang Gelar Turnamen Bola Voli Bekerja Sama Dengan Pemdes Benuang

Rangkaian Fakta Krisis Gas Melon di Bumi Serepat Serasan

Kondisi yang dikeluhkan Santi Yulianti ini seolah menjadi pelengkap dari rangkaian potret kelam krisis energi yang terus disuarakan tintamerah.co dalam laporan-laporan jurnalistik sebelumnya secara berkesinambungan.

Gelombang protes dan laporan bermula dari jeritan rakyat miskin PALI yang mempertanyakan komitmen nyata dari jajaran eksekutif, legislatif, hingga yudikatif yang terkesan lamban merespons harga gas melon yang menembus angka puluhan ribu rupiah di pasaran. Persoalan ini kemudian berlanjut pada gugatan moral mengenai ke mana perginya hati nurani serta tindakan nyata dari para pemangku kebijakan setempat ketika masyarakat bawah harus terseok-seok mencari keadilan energi.

Kondisi kian membara saat emak-emak di wilayah Simpang Raja, PALI, turut melayangkan protes keras lantaran harga gas elpiji bersubsidi tersebut di tingkat eceran sempat meroket hingga menyentuh angka yang sangat mencekik per tabung, sementara Pemkab dan aparat hukum dinilai tutup mata. Dalam keputusasaan yang mendalam, emak-emak di Simpang Raja mengeluarkan jeritan paling perih sekaligus desakan mendesak agar Aparat Penegak Hukum (APH) tidak tinggal diam, melainkan segera menyeret dan menangkap agen-agen nakal yang bermain di balik kelangkaan ini.

BACA JUGA  Hampir 900 Undangan Pelantikan Anggota DPRD PALI Disebar

Situasi PALI yang kian membara memicu reaksi keras dari elemen pemuda. Korps Pemuda Gagasan Kebangsaan (PGK) secara blak-blakan menuding Pemerintah Daerah, DPRD, Polres, hingga Kejari PALI telah melakukan pembiaran berjamaah terhadap kesengsaraan rakyatnya. Kritik ini disusul oleh ultimatum keras dari kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Edo Saputra, yang menyebut Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) PALI mandul sekaligus mendesak APH segera melakukan tindakan represif menyeret agen spekulan.

Krisis ini nyatanya tidak berhenti pada sektor rumah tangga semata. Laporan berkala berikutnya menegaskan bahwa bukan hanya emak-emak, melainkan para pelaku UMKM di seantero PALI juga ikut menjerit histeris karena harga elpiji tiga kilogram yang mencekik leher. Mereka secara tegas mendesak aparat penegak hukum untuk segera melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap para agen dan pangkalan nakal. Hingga laporan terakhir, situasi PALI tetap membara karena harga elpiji yang mencekik rakyat belum juga reda, memicu seruan kolektif agar Pemkab dan aparat hukum benar-benar membuka mata dan telinga, serta berhenti menutup mata dari realita pahit di lapangan.

BACA JUGA  Meriahkan HUT Bhayangkara Ke - 76, STARLA Comunity bersama IWO PALI Gelar Lomba Karaoke dan Akustik

Mendesak Sinergi Pemangku Kebijakan dan Ketegasan APH

Menyikapi kenyataan pahit tersebut, Santi Yulianti memberikan pernyataan penutup (closing statement) yang sangat menohok. Ia meminta dengan sangat agar ada langkah investigasi yang radikal dari penegak hukum, sebab kelangkaan yang berlarut-larut ini diduga kuat terjadi akibat ulah busuk para oknum dan mafia gas yang menimbun barang demi keuntungan pribadi.

“Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten PALI, Dinas Perdagangan, DPRD, Polres PALI, hingga Kejaksaan Negeri PALI dapat bersinergi secara nyata. Tolong bantu kami, para pelaku UMKM dan ibu rumah tangga. Jangan biarkan kami terus-menerus dirugikan oleh permainan harga ini. Kepada Aparat Penegak Hukum, mohon segera sikat, seret, dan tindak tegas oknum-oknum nakal dibalik kelangkaan gas elpiji tiga kilogram ini. Jangan biarkan mereka meresahkan dan mencekik kehidupan rakyat kecil demi memperkaya diri sendiri!” tegas Teh Santi menutup pembicaraan.

 

Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co

Berita Terkait

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!
KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!
Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis
Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!
Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”
Bupati Asgianto: Selagi Ibumu Masih Hidup, Sayangi!
Restui Desakan Warga PALI, Gubernur Sumsel Sepakat Cabut Pergub No. 40/2017
Solidaritas Tanpa Batas: Insan Pers Bumi Serepat Serasan Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 13:30 WIB

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!

Minggu, 20 September 2026 - 12:32 WIB

KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!

Minggu, 20 September 2026 - 11:59 WIB

Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis

Minggu, 20 September 2026 - 11:12 WIB

Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!

Jumat, 18 September 2026 - 12:05 WIB

Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”

Berita Terbaru