PALI | tintamerah.co -, Jeritan masyarakat Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, terkait kelangkaan dan melambungnya harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) ukuran tiga kilogram atau gas melon kian hari kian menyayat hati. Tidak hanya memukul sektor rumah tangga, prahara ini kini nyata-nyata mengancam kelangsungan hidup para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi urat nadi perekonomian daerah.
Keresahan mendalam ini disuarakan langsung oleh Santi Yulianti, pemilik usaha UMKM Bubur Ayam Bandung “Teh Santi”. Saat ditemui di tengah hiruk-pikuk kegiatan kemasyarakatan Sunday Morning di Lapangan Sanggar Pramuka Gelora November Pertamina Pendopo, Kecamatan Talang Ubi, PALI, pada Minggu pagi, ia tampak tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas situasi yang kian tidak berpihak pada rakyat kecil.
“Sebagai pelaku UMKM yang setiap harinya bergantung penuh pada gas elpiji tiga kilogram, melonjaknya harga dan susahnya mencari barang ini jelas sangat menyusahkan. Ini langsung menghambat proses produksi operasional kami. Pendapatan harian kami merosot tajam akibat tingginya biaya modal penunjang dapur,” ujar Santi dengan nada getir saat dikonfirmasi oleh jurnalis tintamerah.co, Minggu (7/6/2026).
Santi menceritakan, harga eceran gas melon yang ia beli saat ini berkisar jauh di atas harga normal, bahkan di waktu-waktu tertentu harganya kian tidak masuk akal. Padahal, harga eceran tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah jauh di bawah itu. Kondisi ini dinilainya sudah berlangsung berbulan-bulan tanpa adanya solusi konkret yang berpihak pada keadilan rakyat miskin.
Rangkaian Fakta Krisis Gas Melon di Bumi Serepat Serasan
Kondisi yang dikeluhkan Santi Yulianti ini seolah menjadi pelengkap dari rangkaian potret kelam krisis energi yang terus disuarakan tintamerah.co dalam laporan-laporan jurnalistik sebelumnya secara berkesinambungan.
Gelombang protes dan laporan bermula dari jeritan rakyat miskin PALI yang mempertanyakan komitmen nyata dari jajaran eksekutif, legislatif, hingga yudikatif yang terkesan lamban merespons harga gas melon yang menembus angka puluhan ribu rupiah di pasaran. Persoalan ini kemudian berlanjut pada gugatan moral mengenai ke mana perginya hati nurani serta tindakan nyata dari para pemangku kebijakan setempat ketika masyarakat bawah harus terseok-seok mencari keadilan energi.
Kondisi kian membara saat emak-emak di wilayah Simpang Raja, PALI, turut melayangkan protes keras lantaran harga gas elpiji bersubsidi tersebut di tingkat eceran sempat meroket hingga menyentuh angka yang sangat mencekik per tabung, sementara Pemkab dan aparat hukum dinilai tutup mata. Dalam keputusasaan yang mendalam, emak-emak di Simpang Raja mengeluarkan jeritan paling perih sekaligus desakan mendesak agar Aparat Penegak Hukum (APH) tidak tinggal diam, melainkan segera menyeret dan menangkap agen-agen nakal yang bermain di balik kelangkaan ini.
Situasi PALI yang kian membara memicu reaksi keras dari elemen pemuda. Korps Pemuda Gagasan Kebangsaan (PGK) secara blak-blakan menuding Pemerintah Daerah, DPRD, Polres, hingga Kejari PALI telah melakukan pembiaran berjamaah terhadap kesengsaraan rakyatnya. Kritik ini disusul oleh ultimatum keras dari kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Edo Saputra, yang menyebut Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) PALI mandul sekaligus mendesak APH segera melakukan tindakan represif menyeret agen spekulan.
Krisis ini nyatanya tidak berhenti pada sektor rumah tangga semata. Laporan berkala berikutnya menegaskan bahwa bukan hanya emak-emak, melainkan para pelaku UMKM di seantero PALI juga ikut menjerit histeris karena harga elpiji tiga kilogram yang mencekik leher. Mereka secara tegas mendesak aparat penegak hukum untuk segera melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap para agen dan pangkalan nakal. Hingga laporan terakhir, situasi PALI tetap membara karena harga elpiji yang mencekik rakyat belum juga reda, memicu seruan kolektif agar Pemkab dan aparat hukum benar-benar membuka mata dan telinga, serta berhenti menutup mata dari realita pahit di lapangan.
Mendesak Sinergi Pemangku Kebijakan dan Ketegasan APH
Menyikapi kenyataan pahit tersebut, Santi Yulianti memberikan pernyataan penutup (closing statement) yang sangat menohok. Ia meminta dengan sangat agar ada langkah investigasi yang radikal dari penegak hukum, sebab kelangkaan yang berlarut-larut ini diduga kuat terjadi akibat ulah busuk para oknum dan mafia gas yang menimbun barang demi keuntungan pribadi.
“Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten PALI, Dinas Perdagangan, DPRD, Polres PALI, hingga Kejaksaan Negeri PALI dapat bersinergi secara nyata. Tolong bantu kami, para pelaku UMKM dan ibu rumah tangga. Jangan biarkan kami terus-menerus dirugikan oleh permainan harga ini. Kepada Aparat Penegak Hukum, mohon segera sikat, seret, dan tindak tegas oknum-oknum nakal dibalik kelangkaan gas elpiji tiga kilogram ini. Jangan biarkan mereka meresahkan dan mencekik kehidupan rakyat kecil demi memperkaya diri sendiri!” tegas Teh Santi menutup pembicaraan.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















