TRAGEDI DI PABRIK SAWIT PT GBS: Karyawan Kritis Akibat Ledakan Steam, Nyawa Terancam di Ruang ICU

Jumat, 7 Agustus 2026 - 19:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aditya Wiranata (25), karyawan PT GBS asal Desa Panta Dewa, terbaring kritis dengan luka bakar 99 persen di ruang ICU RS Charitas Palembang akibat ledakan uap panas (steam) di area pabrik, Jumat (07/08/2026). (Foto: Dok/tintamerah.co)

Aditya Wiranata (25), karyawan PT GBS asal Desa Panta Dewa, terbaring kritis dengan luka bakar 99 persen di ruang ICU RS Charitas Palembang akibat ledakan uap panas (steam) di area pabrik, Jumat (07/08/2026). (Foto: Dok/tintamerah.co)

PALI | tintamerah.co -, Jeritan pilu dan isak tangis keluarga menggema di lorong ICU Rumah Sakit Charitas, Palembang. Aditya Wiranata (25), seorang putra daerah asal Desa Panta Dewa, Kecamatan Talang Ubi, kini terbaring kaku, bertaruh nyawa di antara hidup dan mati. Ia adalah korban dari sistem kerja yang diduga lalai di pabrik kelapa sawit PT Golden Blossom Sumatera (GBS).

Detik-Detik Mencekam: Uap Panas Menguliti Tubuh Pekerja

Jumat dini hari (7/8/2026), sekitar pukul 01.00 WIB, menjadi saksi bisu tragedi berdarah yang menimpa Aditya. Saat tengah menjalankan tugas sebagai petugas lapangan di area perebusan (sterilizer) Line 1, pintu rebusan atas nomor 3 secara tiba-tiba terbuka. Tanpa ada sistem pengamanan yang mampu menahan, semburan uap panas (steam) dengan tekanan tinggi menghantam tubuhnya tanpa ampun.

BACA JUGA  Terduga Pencuri Hp Diringkus Tim Opsal Reskrim Polsek Talang Ubi

Di tengah kepanikan keluarga, informasi mengenai musibah ini menyebar dengan cepat di kalangan warga Desa Panta Dewa. Seorang anggota keluarga korban yang enggan disebutkan namanya menuturkan kepiluan mereka saat menerima kabar bahwa keponakannya menjadi korban ledakan saat bekerja di PT GBS. “Kau dapat kabar, enggak? Ada orang Pantadewa yang kerja di GBS? Kecelakaan. Iya, keponakan, keponakan orang rumah, yang meledak itu,” tuturnya dengan nada suara yang bergetar.

Saat ditanya mengenai kondisi terkini Aditya, ia mengungkapkan keputusasaan keluarga melihat luka yang diderita. “Kondisinya sekarang 99 persen [luka bakar]. Lagi kritis, ya? Ah, di Charitas,” ujarnya saat mengonfirmasi bahwa korban telah dirujuk dari rumah sakit sebelumnya di Prabumulih ke RS Charitas Palembang.

BACA JUGA  Sosialisasi Pencegahan Stunting untuk Anak, Remaja, dan Lansia di Desa Tanjung Dalam

Manajemen PT GBS Bungkam, Bola Panas Saling Lempar

Di balik tragedi yang menghancurkan masa depan Aditya, manajemen PT GBS justru menunjukkan gelagat yang mencurigakan dan terkesan menutup diri. Saat dikonfirmasi, Humas PT GBS, Edwar, memang membenarkan insiden tersebut. Namun, alih-alih memberikan penjelasan komprehensif mengenai kronologi dan langkah pertanggungjawaban perusahaan, ia justru melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain dengan mengarahkan media untuk menghubungi perwakilan PT GBS lainnya, Wely Sudarsono.

Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi berulang kali kepada Wely Sudarsono melalui panggilan telepon maupun pesan singkat tidak membuahkan hasil. Sikap bungkam manajemen PT GBS ini memicu spekulasi liar di tengah masyarakat: apakah ada upaya sistematis untuk menutupi kelalaian fatal ini?

BACA JUGA  Membawa Senpira Ilegal, MT Ditangkap Polisi

Desakan Investigasi dan Audit K3 Total

Tragedi Aditya Wiranata adalah tamparan keras bagi industri kelapa sawit di wilayah tersebut. Apakah nyawa pekerja hanya dipandang sebagai angka dalam statistik operasional? Publik kini menuntut transparansi total dari PT GBS. Pihak berwenang, terutama Dinas Tenaga Kerja dan pihak kepolisian, didesak untuk segera melakukan investigasi mendalam, melakukan audit K3 secara ketat, dan menindak tegas jika terbukti terdapat unsur kelalaian yang menyebabkan hilangnya keselamatan pekerja.

Jika perusahaan gagal menjamin nyawa pekerjanya, apakah pantas perusahaan tersebut tetap beroperasi? Aditya saat ini sedang berjuang, dan masyarakat menunggu keadilan ditegakkan sebelum korban-korban berikutnya jatuh.

 

Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co

Berita Terkait

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!
KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!
Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis
Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!
Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”
Bupati Asgianto: Selagi Ibumu Masih Hidup, Sayangi!
Restui Desakan Warga PALI, Gubernur Sumsel Sepakat Cabut Pergub No. 40/2017
Solidaritas Tanpa Batas: Insan Pers Bumi Serepat Serasan Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 13:30 WIB

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!

Minggu, 20 September 2026 - 12:32 WIB

KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!

Minggu, 20 September 2026 - 11:59 WIB

Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis

Minggu, 20 September 2026 - 11:12 WIB

Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!

Jumat, 18 September 2026 - 12:05 WIB

Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”

Berita Terbaru