Menakar “Jawaban Aman” PHR di Tengah Ancaman Pipa Tua PALI

Senin, 16 Maret 2026 - 23:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi foto AI Menakar

Ilustrasi foto AI Menakar "Jawaban Aman" PHR di Tengah Ancaman Pipa Tua PALI. (Dok/tintamerah)

tintamerahNEWS -, Urusan keselamatan warga dan kelestarian lingkungan di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, tampaknya masih harus berbenturan dengan dinding birokrasi korporasi yang kaku. Pernyataan terbaru dari Senior Manager Pendopo Field, Hermansyah, terkait desakan revitalisasi total pipa migas di wilayah PALI, memancing tanda tanya besar: Apakah Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 benar-benar merasakan urgensi yang sama dengan rakyat PALI?

Desakan yang disuarakan oleh DPRD PALI, Formapali, hingga AP3 PALI bukan tanpa alasan. Rentetan kebocoran pipa yang berulang bukan sekadar gangguan teknis, melainkan ancaman nyata bagi lahan produktif dan keselamatan pemukiman. Namun, jawaban yang meluncur dari pihak manajemen cenderung diplomatis, atau dalam bahasa lapangan, “terlalu aman.”

Retorika “Kajian Teknis” di Tengah Krisis

Ketika ditanya mengenai tuntutan revitalisasi total—bukan sekadar tambal sulam—Hermansyah menegaskan bahwa keputusan tetap berdasarkan “kajian teknis, standar keselamatan, dan aturan yang berlaku.”

BACA JUGA  Polres PALI Hadiri Sosialisasi dan Penyuluhan Hukum Tentang Restorative Justice (RJ) di Desa Babat

Secara normatif, jawaban ini benar. Namun secara substantif, ini adalah jawaban klise yang mengaburkan fakta lapangan. Jika kajian teknis dan standar keselamatan tersebut memang berjalan optimal, mengapa kebocoran masih menjadi “menu rutin” di PALI? Apakah standar yang digunakan sudah usang, ataukah hasil kajian tersebut sengaja mengabaikan fakta bahwa infrastruktur yang ada telah mencapai titik jenuh (fatigue)?

Anggaran 2026: Roadmap atau Sekadar Wacana?

Ada angin segar saat PHR mengonfirmasi adanya alokasi anggaran dan roadmap peremajaan infrastruktur pipa untuk tahun 2026. Namun, kembali lagi, frasa “dilakukan secara bertahap sesuai prioritas” menjadi celah yang sangat lebar.

Bagi masyarakat PALI, “prioritas” adalah ketika tidak ada lagi minyak yang tumpah di kebun mereka, tidak ada lagi api yang membakar tubuhnya, dan tidak ada lagi ledakan yang merenggut jiwa. “Prioritas” adalah ketika pipa di dekat pemukiman tidak lagi menjadi bom waktu. Tanpa transparansi titik mana saja yang akan diganti dan berapa kilometer panjang pipa yang akan direvitalisasi, roadmap ini berisiko hanya menjadi deretan angka di atas kertas laporan tahunan perusahaan.

BACA JUGA  Legislator PALI Dorong Agar Medco Bertanggungjawab Akibat Line Pipa Bocor di Tempirai

Kendala Teknis yang Tertutup

Menarik untuk disoroti ketika pihak perusahaan ditanya mengenai kendala utama melakukan perbaikan total. Jawaban yang diberikan sangat tertutup: “Setiap metode penanganan ditetapkan berdasarkan pertimbangan teknis, keselamatan, dan kelancaran operasi.”

Publik berhak tahu: Apakah kendalanya adalah biaya? Ataukah birokrasi di internal Pertamina yang terlalu panjang sehingga aksi darurat di lapangan kalah cepat oleh urusan administrasi? Keengganan untuk terbuka mengenai kendala ini justru memperkuat kesan bahwa perusahaan lebih memprioritaskan “kelancaran operasi” ketimbang dampak sosial-ekonomi yang ditanggung daerah.

Kesimpulan: Butuh Komitmen, Bukan Sekadar Koordinasi

Pernyataan bahwa koordinasi dengan Pemda PALI dilakukan “sesuai kebutuhan operasional” menunjukkan pola hubungan yang masih transaksional, bukan kolaboratif-strategis.

BACA JUGA  Pesta Demokrasi Pemilihan Anggota BPD Desa Lunas Jaya PALI

Kabupaten PALI telah memberikan ruang bagi operasional migas demi ketahanan energi nasional. Sebagai timbal baliknya, sangat tidak adil jika masyarakat hanya disuguhi jawaban-jawaban normatif saat meminta hak dasar mereka: Keamanan Infrastruktur.

Kini, bola panas ada di tangan PHR Zona 4. Apakah anggaran 2026 akan menjadi titik balik bagi keselamatan lingkungan di PALI, ataukah kita hanya sedang menunggu jadwal kebocoran berikutnya dengan dalih “masih dalam proses evaluasi teknis”?

Rakyat PALI tidak butuh retorika. Mereka butuh pipa baru yang kokoh, bukan tambalan yang rapuh.

Satu yang pasti: Selama pipa tua itu masih tertanam tanpa peremajaan menyeluruh, selama itu pula warga PALI hidup berdampingan dengan ancaman kebocoran yang sewaktu-waktu bisa meledak kembali.

 

Oleh: Efran

Berita Terkait

Kepala Damkar PALI Dijadwalkan Hadir Langsung di Pembukaan NFSC 2026 Palembang
Lepas Tim Uji Skill ke Tingkat Nasional, Rizal Pahlefi Berharap Damkar PALI Harumkan Nama Daerah di Kancah Nasional
PALI Siap Unjuk Gigi di Kompetisi Pemadam Kebakaran Nasional 2026 di Palembang
Gebrakan Bupati Asgianto: RSUD Talang Ubi Menuju Tipe B, Layanan Cuci Darah Jadi Target Utama di 2027
Besok, DPRD PALI Panggil Dinas Pertanian, LIDIK Ancam Aksi Massa!
Jauh dari Kebisingan, RSUD Talang Ubi Kini Lebih Representatif dan Siap Naik Kelas ke Tipe B
Menggugat “Cetak Sawah di Atas Air Mata”: YKBHN Desak DPRD PALI Bongkar Skandal PCSR Tempirai!
Gebrakan Spektakuler Bupati Asgianto: RSUD Talang Ubi Menuju Mercusuar Kesehatan Sumsel, Siap Naik Kelas ke Tipe B!

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 22:36 WIB

Kepala Damkar PALI Dijadwalkan Hadir Langsung di Pembukaan NFSC 2026 Palembang

Minggu, 26 April 2026 - 22:07 WIB

Lepas Tim Uji Skill ke Tingkat Nasional, Rizal Pahlefi Berharap Damkar PALI Harumkan Nama Daerah di Kancah Nasional

Minggu, 26 April 2026 - 21:43 WIB

PALI Siap Unjuk Gigi di Kompetisi Pemadam Kebakaran Nasional 2026 di Palembang

Minggu, 26 April 2026 - 19:07 WIB

Gebrakan Bupati Asgianto: RSUD Talang Ubi Menuju Tipe B, Layanan Cuci Darah Jadi Target Utama di 2027

Minggu, 26 April 2026 - 18:58 WIB

Besok, DPRD PALI Panggil Dinas Pertanian, LIDIK Ancam Aksi Massa!

Berita Terbaru