PALI | tintamerah.co -, Kesabaran masyarakat Kabupaten PALI, Sumatera Selatan, terhadap keangkuhan manajemen Pertamina Adera Field Pendopo nampaknya sudah habis. Gerakan Masyarakat Peduli PALI (MPPL) secara resmi “menabuh genderang perang” dengan melaporkan carut-marut rekrutmen tenaga kerja ke mekanisme Whistle Blowing System (WBS) SKK Migas.
Langkah ini bukan sekadar gertakan sambal, melainkan serangan balik terukur terhadap praktik “rekrutmen siluman” yang dituding telah lama menggurita di wilayah operasi Adera.
Membongkar “Kerajaan Kecil” di Tanah PALI
Koordinator MPPL, Edo Saputra, dengan nada berapi-api menegaskan bahwa tata kelola tenaga kerja di Adera Field Pendopo saat ini tak ubahnya sebuah “kerajaan tertutup” yang anti-transparansi. Pelaporan ke SKK Migas dilakukan karena manajemen lokal dianggap telah gagal total dalam menjalankan prinsip Good Corporate Governance.
“Kami tidak datang untuk mengemis! Kami datang untuk menuntut hak rakyat yang dirampas oleh sistem yang korup dan tertutup. WBS SKK Migas adalah jalur resmi untuk membongkar kebusukan ini. Jika manajemen Adera merasa bersih, buka datanya! Jangan bersembunyi di balik prosedur formalitas!” tegas Edo dengan suara menggelegar kepada tintamerah.co, Kamis (2/4/2026).
Benang Merah Skandal: Dari “Jalur Tikus” hingga “Mafia Proyek”
Aksi tegas MPPL ini bagaikan menyiram bensin ke api yang sudah menyala. Laporan ini secara langsung mengonfirmasi rentetan investigasi tajam yang sebelumnya dirilis tintamerah.co. Publik PALI tentu masih mengingat peringatan keras H. Ubaidillah mengenai “Perlawanan Semesta” melawan gurita nepotisme di Pertamina Adera.
Kini, laporan MPPL ke pusat seolah menjadi bukti sahih bahwa tudingan mengenai “Nyanyian Maut” terkait skandal jalur tikus bukan sekadar isapan jempol. Rekrutmen yang selama ini diklaim terbuka, dicurigai hanyalah panggung sandiwara untuk melegalkan titipan-titipan elit, sementara putra daerah PALI dipaksa gigit jari dan hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri.
MPPL menilai, bungkamnya manajemen Adera dan indikasi “mati surinya” pengawasan dari DPRD PALI semakin memperkuat dugaan adanya konspirasi sistematis yang melibatkan mafia proyek dan rekrutmen di dalam lingkaran operasional migas tersebut.
Ultimatum MPPL: Transparansi atau Revolusi Jalanan!
Dalam tuntutan kerasnya, MPPL mendesak tiga poin harga mati:
- Bedah Total Data Karyawan: Buka secara telanjang siapa saja yang bekerja di Adera dan dari mana asal-usul mereka. Jangan ada yang disembunyikan!
- Hentikan Diskriminasi Lokal: Mekanisme seleksi yang diskriminatif dan penuh “titipan” harus dibubarkan sekarang juga.
- Audit Investigatif: Meminta SKK Migas turun gunung melakukan audit menyeluruh terhadap manajemen rekrutmen Adera Field yang dinilai sarat penyimpangan.
Peringatan Terakhir: Massa Siap Mengepung!
Edo Saputra memberikan peringatan terakhir (ultimatum) kepada manajemen Pertamina Adera. Jika laporan WBS ini tidak segera direspon dengan tindakan nyata dan perubahan kebijakan yang berpihak pada warga lokal, maka MPPL tidak akan ragu melakukan mobilisasi massa secara masif.
“Jika jalur birokrasi ini buntu, maka jalanan akan menjadi pengadilannya. Kami tidak akan membiarkan kekayaan alam PALI dikeruk, sementara anak-anak kami menganggur karena haknya dicuri oleh mafia rekrutmen. Transparansi adalah harga mati, atau kami yang akan menutup paksa gerbang operasional kalian!” ancam Edo menutup pernyataannya.
PHR Zona 4 “Bisu” di Tengah Badai Kritik
Ada fakta yang jauh lebih menyakitkan bagi publik PALI. Redaksi Tintamerah.co mencatat bahwa upaya konfirmasi mengenai dugaan gurita nepotisme dan rekrutmen siluman di tubuh Adera Field sebenarnya telah dilayangkan secara resmi kepada manajemen Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4.
Namun, hingga detik ini, pemegang otoritas wilayah tersebut justru memilih bungkam seribu bahasa. Tidak ada jawaban, tidak ada klarifikasi, apalagi itikad baik untuk membedah data rekrutmen secara transparan. Sikap “bisu” PHR Zona 4 ini semakin memperkuat kecurigaan publik bahwa ada sesuatu yang sangat busuk yang sedang disembunyikan di balik pagar tinggi operasional Adera.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















