HEADLINE: Pipa Tua Pertamina: Ladang Minyak atau Ladang Pembantaian? Edo Saputra: “Kelalaian Ini Adalah Kejahatan Struktural!”

Kamis, 2 April 2026 - 18:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Koordinator MMPL, Edo Saputra, menegaskan bahwa pembiaran infrastruktur uzur ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan kejahatan struktural yang menumbalkan nyawa rakyat demi efisiensi keuntungan. (Foto: Dok/tintamerah)

Koordinator MMPL, Edo Saputra, menegaskan bahwa pembiaran infrastruktur uzur ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan kejahatan struktural yang menumbalkan nyawa rakyat demi efisiensi keuntungan. (Foto: Dok/tintamerah)

PALI | tintamerah.co -, Peringatan dini yang sempat diletupkan melalui laporan “Bom Waktu di Bawah Tanah” beberapa waktu lalu kini terbukti menjadi kenyataan yang berdarah. Bukan lagi sekadar prediksi, jaringan pipa uzur milik korporasi kini resmi menjadi mesin pencabut nyawa bagi warga yang tak berdosa.

Menyikapi tragedi yang terus berulang, Koordinator Masyarakat Peduli Lingkungan (MMPL), Edo Saputra, meledak dalam kemarahan. Ia menegaskan bahwa setiap tetes minyak yang mengalir di jalur pipa tua tersebut sejatinya telah “berlumuran darah” rakyat.

Keuntungan yang Beraroma Bangkai

Dalam pernyataan persnya yang diterima Redaksi tintamerah.co, Kamis (2/4/2026), Edo menuding adanya kesengajaan dalam membiarkan infrastruktur karatan tetap beroperasi. Ia menyebut fenomena ini sebagai Kelalaian Struktural yang Sistematis.

“Jangan sebut ini kecelakaan teknis! Ini adalah pembunuhan terencana oleh sistem yang lebih memuja angka efisiensi daripada nyawa manusia. Mereka tahu pipa itu sudah rapuh, mereka tahu risiko ledakan itu nyata, tapi mereka memilih diam demi menjaga margin keuntungan,” tegas Edo dengan nada berang.

BACA JUGA  Catatan Kritis Reses Firdaus Hasbullah di Talang Ubi: Kekeringan, Jalan Tani, hingga Absennya OPD Menjadi Sorotan Utama

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemeliharaan yang dilakukan selama ini hanyalah kosmetik. Tambal sulam di sana-sini tanpa ada kemauan untuk melakukan peremajaan total. Akibatnya, tanah warga tercemar, sumber air lumpuh, dan puncaknya: nyawa manusia melayang sia-sia seperti ledakan pipa Adera Field merenggut jiwa warga Karta Dewa, Rizal tahun 2021 silam.

Siklus “Bibir Manis” Korporasi

Edo juga menyoroti pola respons perusahaan yang dianggapnya menjijikkan dan menghina akal sehat publik. Setiap kali bencana terjadi, skenarionya selalu sama:

  1. Klarifikasi Normatif: Berlindung di balik istilah force majeure.
  2. Janji Evaluasi: Retorika kosong untuk meredam amarah massa.
  3. Kompensasi Simbolik: Menukar nyawa dengan nominal uang yang tidak seberapa, tanpa menyentuh akar masalah.
BACA JUGA  Peresmian UMKM Santri Ponpes Terpadu Latansa Mustika, Mendapat Respon Baik Dan Bantuan Mesin Pakum dari Pemda PALI.

“Kita sedang menyaksikan Normalisasi Bencana. Korporasi dan negara seolah-olah menganggap kematian rakyat adalah konsekuensi logis dari sebuah industri. Ini gila! Ini adalah bentuk kekerasan negara terhadap rakyatnya sendiri,” lanjutnya.

Lima Tuntutan “Harga Mati” MMPL

Tidak ada lagi ruang diplomasi di atas tanah yang telah tercemar. Edo Saputra bersama MMPL melayangkan lima tuntutan keras yang harus segera dipenuhi:

  • AUDIT TOTAL & TERBUKA: Bongkar data usia teknis seluruh pipa. Rakyat berhak tahu seberapa besar ancaman di bawah rumah mereka!
  • REMAJA TOTAL: Hentikan praktik tambal sulam. Ganti seluruh pipa yang telah melewati batas usia operasional tanpa tapi, tanpa nanti!
  • TRANSPANSI RADIKAL: Buka akses informasi risiko mitigasi kepada masyarakat terdampak secara jujur, bukan ditutup-tutupi.
  • ADILI AKTOR INTELEKTUAL: Penegakan hukum jangan hanya menyasar operator lapangan. Seret pengambil kebijakan yang membiarkan pipa maut ini tetap beroperasi!
  • REHABILITASI TOTAL: Pemulihan lingkungan dan trauma korban harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sembako sesaat.
BACA JUGA  Polsek Tanah Abang Melaksanakan Kegiatan Jum'at Curhat

Negara Jangan Jadi “Centeng” Korporasi

Laporan tintamerah.co sebelumnya telah mengingatkan bahwa jalur pipa ini adalah bom waktu. Kini, ketika bom itu meledak, publik menagih janji perlindungan negara.

“Negara memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi segenap bangsa. Jika negara diam melihat rakyatnya mati dipanggang ledakan pipa tua, maka negara telah gagal dan hanya menjadi centeng bagi kepentingan korporasi,” tutup Edo.

MMPL menegaskan tidak akan mundur satu langkah pun. Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi, dan setiap pengabaian terhadapnya akan dibayar dengan perlawanan massa yang lebih besar.

Redaksi tintamerah.co: Kami akan terus mengawal setiap tetes air mata warga hingga keadilan benar-benar tegak, bukan sekadar dipajang di papan pengumuman kantor korporasi.

 

Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co

Berita Terkait

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!
KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!
Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis
Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!
Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”
Bupati Asgianto: Selagi Ibumu Masih Hidup, Sayangi!
Restui Desakan Warga PALI, Gubernur Sumsel Sepakat Cabut Pergub No. 40/2017
Solidaritas Tanpa Batas: Insan Pers Bumi Serepat Serasan Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 13:30 WIB

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!

Minggu, 20 September 2026 - 12:32 WIB

KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!

Minggu, 20 September 2026 - 11:59 WIB

Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis

Minggu, 20 September 2026 - 11:12 WIB

Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!

Jumat, 18 September 2026 - 12:05 WIB

Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”

Berita Terbaru