PALI | tintamerah.co -, Peringatan dini yang sempat diletupkan melalui laporan “Bom Waktu di Bawah Tanah” beberapa waktu lalu kini terbukti menjadi kenyataan yang berdarah. Bukan lagi sekadar prediksi, jaringan pipa uzur milik korporasi kini resmi menjadi mesin pencabut nyawa bagi warga yang tak berdosa.
Menyikapi tragedi yang terus berulang, Koordinator Masyarakat Peduli Lingkungan (MMPL), Edo Saputra, meledak dalam kemarahan. Ia menegaskan bahwa setiap tetes minyak yang mengalir di jalur pipa tua tersebut sejatinya telah “berlumuran darah” rakyat.
Keuntungan yang Beraroma Bangkai
Dalam pernyataan persnya yang diterima Redaksi tintamerah.co, Kamis (2/4/2026), Edo menuding adanya kesengajaan dalam membiarkan infrastruktur karatan tetap beroperasi. Ia menyebut fenomena ini sebagai Kelalaian Struktural yang Sistematis.
“Jangan sebut ini kecelakaan teknis! Ini adalah pembunuhan terencana oleh sistem yang lebih memuja angka efisiensi daripada nyawa manusia. Mereka tahu pipa itu sudah rapuh, mereka tahu risiko ledakan itu nyata, tapi mereka memilih diam demi menjaga margin keuntungan,” tegas Edo dengan nada berang.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemeliharaan yang dilakukan selama ini hanyalah kosmetik. Tambal sulam di sana-sini tanpa ada kemauan untuk melakukan peremajaan total. Akibatnya, tanah warga tercemar, sumber air lumpuh, dan puncaknya: nyawa manusia melayang sia-sia seperti ledakan pipa Adera Field merenggut jiwa warga Karta Dewa, Rizal tahun 2021 silam.
Siklus “Bibir Manis” Korporasi
Edo juga menyoroti pola respons perusahaan yang dianggapnya menjijikkan dan menghina akal sehat publik. Setiap kali bencana terjadi, skenarionya selalu sama:
- Klarifikasi Normatif: Berlindung di balik istilah force majeure.
- Janji Evaluasi: Retorika kosong untuk meredam amarah massa.
- Kompensasi Simbolik: Menukar nyawa dengan nominal uang yang tidak seberapa, tanpa menyentuh akar masalah.
“Kita sedang menyaksikan Normalisasi Bencana. Korporasi dan negara seolah-olah menganggap kematian rakyat adalah konsekuensi logis dari sebuah industri. Ini gila! Ini adalah bentuk kekerasan negara terhadap rakyatnya sendiri,” lanjutnya.
Lima Tuntutan “Harga Mati” MMPL
Tidak ada lagi ruang diplomasi di atas tanah yang telah tercemar. Edo Saputra bersama MMPL melayangkan lima tuntutan keras yang harus segera dipenuhi:
- AUDIT TOTAL & TERBUKA: Bongkar data usia teknis seluruh pipa. Rakyat berhak tahu seberapa besar ancaman di bawah rumah mereka!
- REMAJA TOTAL: Hentikan praktik tambal sulam. Ganti seluruh pipa yang telah melewati batas usia operasional tanpa tapi, tanpa nanti!
- TRANSPANSI RADIKAL: Buka akses informasi risiko mitigasi kepada masyarakat terdampak secara jujur, bukan ditutup-tutupi.
- ADILI AKTOR INTELEKTUAL: Penegakan hukum jangan hanya menyasar operator lapangan. Seret pengambil kebijakan yang membiarkan pipa maut ini tetap beroperasi!
- REHABILITASI TOTAL: Pemulihan lingkungan dan trauma korban harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sembako sesaat.
Negara Jangan Jadi “Centeng” Korporasi
Laporan tintamerah.co sebelumnya telah mengingatkan bahwa jalur pipa ini adalah bom waktu. Kini, ketika bom itu meledak, publik menagih janji perlindungan negara.
“Negara memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi segenap bangsa. Jika negara diam melihat rakyatnya mati dipanggang ledakan pipa tua, maka negara telah gagal dan hanya menjadi centeng bagi kepentingan korporasi,” tutup Edo.
MMPL menegaskan tidak akan mundur satu langkah pun. Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi, dan setiap pengabaian terhadapnya akan dibayar dengan perlawanan massa yang lebih besar.
Redaksi tintamerah.co: Kami akan terus mengawal setiap tetes air mata warga hingga keadilan benar-benar tegak, bukan sekadar dipajang di papan pengumuman kantor korporasi.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















