PALI | tintamerah.co -, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, melakukan gebrakan besar di awal tahun 2026. Di bawah komando Aryansyah, Bapenda PALI memasang target ambisius untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Rp83 miliar menjadi di atas Rp100 miliar.
Langkah ini bukan sekadar mengejar angka, melainkan sebuah misi menuju kemandirian ekonomi daerah agar tidak lagi “menyusu” pada dana transfer pusat.
Strategi Tajam: Pajak Listrik dan Objek Baru
Dalam wawancara eksklusif bersama tintamerah.co, Kamis (9/4/2026), Aryansyah menyoroti anomali pada sektor pajak listrik (PBJT). Ia mencatat meski jumlah perumahan dan industri di PALI terus tumbuh pesat, penerimaan pajak listrik cenderung stagnan di angka Rp9-10 miliar per tahun.
“Logikanya sederhana, masyarakat bertambah, komplek perumahan bertambah, industri naik, harusnya pajak listrik juga naik. Tidak boleh stabil! Kami akan segera melakukan koreksi dan berkoordinasi ketat dengan PLN untuk menindaklanjuti hal ini,” tegas Aryansyah dengan lugas.
Selain mengoptimalkan sektor lama, Bapenda PALI juga berhasil menembus objek pajak baru yang selama ini “kebal” tersentuh, yakni Pajak Lapangan Golf. Setelah melalui koordinasi dengan Ditjen Migas, potensi ini resmi menjadi lumbung pendapatan baru bagi Bumi Serepat Serasan.
Pro-Rakyat: Kejar Pelaku Usaha, Lindungi Masyarakat
Meski agresif dalam mengejar target, Aryansyah memastikan kebijakan ini tetap humanis. Atas instruksi Bupati PALI, peningkatan pendapatan tidak boleh membebani masyarakat kecil.
- PBG (Persetujuan Bangunan Gedung): Fokus penagihan dialirkan kepada industri dan dunia usaha seperti toko modern (Alfamart, Indomaret) yang belum memiliki izin, bukan pada rumah tinggal warga.
- BPHTB: Tarif dimaksimalkan hingga 5% bagi para pebisnis properti dan jual beli tanah skala besar.
- Kehadiran Pemerintah: Untuk retribusi sampah, Bapenda memberikan kotak sampah gratis lebih dulu. “Kami hadir dulu, layani dulu, baru tarik retribusinya. Kalau pemerintah hadir, masyarakat tidak akan berat membayar Rp10 ribu per bulan,” ungkapnya.
Inovasi “Balik Dusun” dan Digitalisasi Real-Time
Bapenda PALI juga sukses meraih prestasi lewat inovasi “Balik Dusun”—strategi jemput bola langsung ke desa-desa. Hasilnya fantastis, terjadi lonjakan penerimaan dari Rp200 juta menjadi Rp600 juta, atau naik sekitar 130%.
Ke depan, Aryansyah tengah menyiapkan sistem Digitalisasi Real-Time yang ditargetkan rampung akhir 2026 dan beroperasi penuh pada 2027. Melalui sistem ini, setiap rupiah pajak yang masuk dapat dipantau langsung oleh publik melalui aplikasi dalam satu genggaman.
“Kalau real-time, kita bisa lihat seberapa jauh capaian kita. Kalau tidak tercapai dan alasannya tidak masuk akal, silakan ganti Kepala Bapenda-nya! Itu bentuk tanggung jawab saya,” tukasnya dengan nada percaya diri.
Pesan Moral: Pajak adalah Denyut Nadi Pembangunan
Menutup keterangannya, Aryansyah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk sadar pajak demi kemajuan PALI.
“Pajak adalah denyut nadi pembangunan. Kita harus mandiri. Peran serta masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi adalah kunci utama untuk mewujudkan PALI yang lebih mapan dan makmur,” pungkasnya.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















