PMII Desak Wamentan Sudaryono Sapu Bersih Mafia Cetak Sawah di PALI!

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kader PMII Kabupaten PALI, Edo Saputra, saat menyuarakan orasi ilmiah dalam aksi mengawal kebijakan publik di tengah masyarakat, menegaskan komitmen gerakan mahasiswa untuk memberantas mafia yang merugikan hajat hidup petani kecil. (Foto: Dok/PMII PALI)

Kader PMII Kabupaten PALI, Edo Saputra, saat menyuarakan orasi ilmiah dalam aksi mengawal kebijakan publik di tengah masyarakat, menegaskan komitmen gerakan mahasiswa untuk memberantas mafia yang merugikan hajat hidup petani kecil. (Foto: Dok/PMII PALI)

PALI | tintamerah.co -, Tabir gelap yang menyelimuti Program Cetak Sawah Rakyat di Desa Tempirai, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Suamtera Selatan, kini resmi menjadi sorotan nasional. Sinyal hijau yang dipancarkan oleh Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sudaryono, untuk menerjunkan tim investigasi khusus, langsung memantik respons progresif dari kalangan gerakan mahasiswa. Negara dinilai tidak boleh berkompromi sedikit pun dengan para perampok hak-hak petani kecil.

Merespons perkembangan krusial tersebut, Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten PALI, Edo Saputra, menegaskan bahwa komitmen lisan dari kementerian harus segera diejawantahkan dalam tindakan nyata di lapangan. Menurutnya, karut-marut yang terjadi di Tempirai bukan lagi sekadar urusan kelalaian administrasi, melainkan sebuah kejahatan sistematis yang mencoreng marwah program strategis nasional demi ketahanan pangan.

“Persoalan ini menyangkut marwah negara dalam menjaga integritas pembangunan sektor pertanian. Cita-cita besar swasembada pangan yang digelorakan pemerintah pusat jangan sampai dikotori oleh kepentingan kelompok rakus yang menjadikan program rakyat sebagai komoditas korupsi,” cetus Edo Saputra kepada titamerah.co, Selasa (9/6/2026).

BACA JUGA  Kurangnya Pengawasan Pihak Dinas Terkait, Baru Satu Minggu Proyek Pembangunan Drainase Roboh

Sebelumnya, berdasarkan laporan mendalam dari tintamerah.co bertajuk “PALI Memanggil, Wamentan Sudaryono Turun Tangan, Perang Total Melawan Mafia Cetak Sawah Tempirai Dimulai”, gurita skandal di Desa Tempirai ini memang sudah berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Investigasi di lapangan menguak serangkaian praktik culas yang terstruktur dan masif.

Laporan tersebut membongkar adanya dugaan manipulasi data melalui pola penggusuran lahan warga secara sepihak demi memuluskan proyek fiktif. Tidak berhenti di situ, jeritan petani kian menyayat hati setelah bantuan pupuk yang menjadi hak mereka dilaporkan lenyap pada malam buta, di mana pusat penimbunan disinyalir mengarah pada gudang milik oknum kepala desa, yang diperparah oleh pengakuan teledor dari ketua kelompok tani yang menjual pupuk subsidi tersebut. Ironisnya lagi, konflik ini juga menyeret perampasan tanah adat waris milik warga lokal yang nyaris hilang sebelum akhirnya diultimatum oleh Wakil Bupati. Komoditas alat dan mesin pertanian yang seharusnya menunjang produktivitas lokal bahkan disewakan keluar daerah demi meraup keuntungan pribadi.

BACA JUGA  Idul Adha dalam Perspektif Efran sebagai Wartawan

Melihat fakta-fakta berdarah di lapangan tersebut, Edo Saputra menyuarakan urgensi tuntutan agar Kementerian Pertanian bertindak tanpa pandang bulu. Ia menilai penolakan konfirmasi dan terkesan ditutup-tutupinya borok ini oleh Dinas Pertanian setempat menjadi bukti kuat bahwa lingkaran setan ini harus dipotong langsung oleh otoritas pusat.

“Kami mengapresiasi atensi awal dari Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono. Namun, kehadiran negara di Tempirai harus dirasakan melalui keberanian nyata menindak, mengeksekusi, dan menyeret setiap oknum dinas, kepala desa, maupun kelompok tani yang terlibat ke jalur hukum. Anggaran negara mengalir dari uang rakyat, ketika dikorupsi, yang dihancurkan adalah masa depan ketahanan pangan bangsa,” cecar Edo.

Lebih lanjut, PMII PALI mengingatkan bahwa membiarkan mafia proyek pertanian tumbuh subur di Bumi Serepat Serasan sama saja dengan membiarkan sabotase terhadap agenda kedaulatan pangan Presiden. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa menuntut dilakukannya audit forensik menyeluruh, investigasi independen yang transparan, serta keterbukaan informasi publik secara utuh mengenai pelaksanaan proyek cetak sawah tersebut.

Sementara itu, Guna menjamin keberimbangan informasi dan menguji transparansi publik, redaksi tintamerah.co telah melayangkan surat permohonan wawancara resmi kepada Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PALI, Ahmad Jhoni, SP., MM., pada Selasa (9/6/2026). Langkah ini diambil sebagai upaya konfirmasi langsung terkait karut-marutnya program cetak sawah di Desa Tempirai yang kini tengah menjadi sorotan tajam. Hingga berita ini ditayangkan, redaksi masih menunggu jawaban resmi dari pihak dinas terkait dan berkomitmen untuk segera menerbitkan tanggapan serta hak jawab tersebut secara utuh begitu diperoleh, demi tegaknya keterbukaan informasi kepada masyarakat.

BACA JUGA  Efran Buka Suara Soal OTT Oknum Wartawan Peras Kades di Benakat Muara Enim: Coreng Marwah Pers!

Edo menegaskan bahwa sebagai organisasi yang memiliki tanggung jawab moral mengawal keadilan, PMII akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. “Negara harus hadir dengan wajah keadilan yang menakutkan bagi para koruptor. Tidak boleh ada satu pun pihak yang kebal hukum. Perang melawan mafia cetak sawah di Tempirai bukan sekadar soal penegakan regulasi, tetapi merupakan perjuangan suci menjaga kehormatan negara dan mempertahankan hak hidup petani Indonesia,” pungkasnya tanpa ragu.

 

Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co

Berita Terkait

Berlindung di Balik Dalih “Uji Coba Mesin”, PT Aburahmi Coba Kelabuhi Pemkab dan Publik PALI
Sidak Gabungan PALI Bongkar Borok PT Aburahmi: DPMPTSP Ungkap Belum Kantongi Izin Operasional, Publik Desak Ketegasan Hukum!
Bedah Tuntas Spesifikasi Komprehensif Unit Baru Damkar PALI: Perpaduan Merk Global, Ketangguhan Chassis Heavy-Duty, dan Teknologi Pemadaman Mutakhir
Wujudkan Visi Bupati Asgianto, Damkar PALI Geber Armada Baru demi Target Seluruh Kecamatan Miliki Pos Pemadam
Catatan Kritis Reses Firdaus Hasbullah di Talang Ubi: Kekeringan, Jalan Tani, hingga Absennya OPD Menjadi Sorotan Utama
Membuka Urat Nadi Ekonomi Regional: Firdaus Hasbullah Ungkap Diskursus Strategis Akses Jalan Talang Ubi Menuju Musi Rawas
Reses Wakil Ketua II DPRD PALI Firdaus Hasbullah: Keterbatasan Anggaran Bukan Halangan, Konsorsium Migas dan Perjuangan Pusat Jadi Solusi Pembangunan Talang Ubi
Tegas! Firdaus Hasbullah Perjuangkan Kembalikan Pemotongan Anggaran Rp300–500 Miliar dari Pusat untuk PALI di 2027

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 17:31 WIB

Berlindung di Balik Dalih “Uji Coba Mesin”, PT Aburahmi Coba Kelabuhi Pemkab dan Publik PALI

Kamis, 6 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Sidak Gabungan PALI Bongkar Borok PT Aburahmi: DPMPTSP Ungkap Belum Kantongi Izin Operasional, Publik Desak Ketegasan Hukum!

Kamis, 6 Agustus 2026 - 15:51 WIB

Bedah Tuntas Spesifikasi Komprehensif Unit Baru Damkar PALI: Perpaduan Merk Global, Ketangguhan Chassis Heavy-Duty, dan Teknologi Pemadaman Mutakhir

Kamis, 6 Agustus 2026 - 15:32 WIB

Wujudkan Visi Bupati Asgianto, Damkar PALI Geber Armada Baru demi Target Seluruh Kecamatan Miliki Pos Pemadam

Kamis, 6 Agustus 2026 - 14:51 WIB

Catatan Kritis Reses Firdaus Hasbullah di Talang Ubi: Kekeringan, Jalan Tani, hingga Absennya OPD Menjadi Sorotan Utama

Berita Terbaru