PALI | tintamerah -, Hari-hari di usia senja bagi Ibu Asni (72) dan Ibu Zainab (88) belakangan ini tak lagi dihiasi canda tawa hangat bersama cucu. Langkah kaki yang dulu kokoh, kini lumpuh digerogoti usia dan penyakit. Ruang gerak mereka mendadak menyempit, hanya sebatas kasur tipis dan dinding-dinding rumah yang mulai rapuh di RT 02 RW 02 Talang Nanas, Kelurahan Talang Ubi Timur. Di dalam kamar yang sunyi itu, yang terdengar hanyalah rintihan pelan menahan sakit, berkelindan dengan kecemasan pihak keluarga yang didera keterbatasan.
Namun, mendung yang menggelayuti keluarga ini perlahan tersapu. Di saat rasa putus asa nyaris mengendap, pintu rumah mereka diketuk. Bukan oleh kerabat jauh, melainkan oleh kepedulian yang datang dari aparatur negara.
Menerima laporan darurat dari Ketua RT setempat, Pemerintah Kelurahan Talang Ubi Timur menolak untuk menunda waktu atau terjebak dalam sekat-sekat birokrasi yang kaku. Dipimpin langsung oleh Lurah Talang Ubi Timur, Aan Supriadi, SE., MM, bersama Kasi Kesejahteraan Sosial Milin Herlina, SH, dan staf kelurahan, mereka langsung bergerak cepat ke lapangan.
Mereka datang bukan sekadar untuk menengok dan mencatat data di atas kertas, melainkan untuk membawa hadirnya negara di titik paling rapuh kehidupan warganya.
Dari Rumah Warga hingga Bangsal Rumah Sakit
Aksi nyata ini tak berhenti di ruang tamu. Mengetahui kondisi fisik Ibu Zainab dan Ibu Asni yang membutuhkan penanganan medis lebih serius, Lurah Aan Supriadi bersama jajarannya langsung mengawal proses tersebut hingga ke bangsal RSUD Talang Ubi.
Di bawah lampu koridor rumah sakit yang dingin, kehadiran sang lurah di sisi tempat tidur pasien menjadi pemandangan yang menyentuh. Mengenakan seragam batik khas, Aan Supriadi tampak membungkuk, menatap dalam penuh empati, dan menggenggam jemari keriput warganya. Ia memastikan langsung bahwa hak-hak kesehatan kedua lansia tersebut terpenuhi dengan pelayanan medis yang prima, cepat, tanpa hambatan birokrasi.
“Kami tidak ingin ada warga kami yang merasa berjuang sendirian di kala sakit. Kehadiran kami di sini adalah bentuk tanggung jawab mutlak, sebuah komitmen bahwa pemerintah tidak akan pernah membedakan latar belakang warganya. Semua berhak mendapatkan pelukan pelayanan yang sama,” ujar Aan Supriadi dengan nada bergetar namun sarat ketegasan diselah-selah kunjungan, Kamis (11/6/2026).
Mengejawantahkan Instruksi, Menyentuh Akar Rumput
Langkah responsif dan humanis ini bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah pengejawantahan langsung dari visi besar Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Bapak Asgianto, ST. Dalam berbagai kesempatan, Bupati selalu menegaskan bahwa esensi tertinggi dari jabatan publik adalah pengabdian yang tulus dan kehadiran yang nyata di saat masyarakat sedang berada di titik terendah.
“Sebagaimana arahan tegas dari Bupati Kabupaten PALI, Bapak Asgianto, ST, pemerintah harus selalu hadir di tengah masyarakat. Melayani masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang rentan seperti para lansia kita, merupakan tugas mulia dan tanggung jawab penuh kami sebagai aparatur pemerintah. Kami berharap kehadiran ini dapat memompa semangat kesembuhan bagi Ibu Asni dan Ibu Zainab, serta meringankan beban batin keluarga yang merawat,” tambah Aan Supriadi.
Wajah Baru Birokrasi yang Memiliki ‘Hati’
Apa yang dipertontonkan oleh Pemerintah Kelurahan Talang Ubi Timur hari ini mematahkan stigma lama tentang birokrasi yang kaku dan berjarak. Ini adalah potret wajah baru pelayanan publik yang memiliki “hati” — sebuah gerakan yang menempatkan empati di atas segalanya.
Bagi keluarga Ibu Asni dan Ibu Zainab, kunjungan ini lebih dari sekadar bantuan medis; ini adalah pengingat bahwa di balik status mereka sebagai warga biasa di sudut Talang Nanas, mereka dianggap, mereka didengar, dan mereka dirawat oleh pemimpinnya. Ketika negara hadir langsung menyeka air mata warganya yang sakit, di situlah pelayanan prima sejati menemukan makna tertingginya.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















