tintamerahNEWS -, Hari ini, tepat tanggal 2 Oktober 2026, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk merayakan hari ulang tahunnya yang ke-28 dengan mengusung tema megah: “Tumbuh Bersama Majukan Indonesia”. Sebuah narasi retoris yang manis di atas kertas dan panggung seremoni mewah. Namun, di saat jajaran direksi dan petinggi bank pelat merah ini berpesta pora merayakan seperempat abad lebih usia korporasi, kado nyata yang diterima oleh ribuan nasabah dan masyarakat di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, justru berupa ironi yang memedihkan hati: mesin-mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan Cash Recycle Machine (CRM) di Cabang Pendopo PALI dibiarkan rusak, uzur, dan mangkrak menjadi rongsokan besi tua selama bertahun-tahun tanpa ada peremajaan sedikit pun.
Tema “Tumbuh Bersama” mendadak berubah menjadi lelucon pahit ketika dihadapkan pada realitas bobroknya pelayanan di Bumi Serepat Serasan. Bagaimana mungkin sebuah bank berskala nasional mengklaim tumbuh bersama rakyat, sementara fasilitas dasar nasabah untuk mengakses uang tunai sendiri dipasung oleh kelalaian struktural? Alih-alih merasakan kemajuan layanan digital atau kenyamanan transaksi, masyarakat PALI justru dipaksa gigit jari setiap kali mendatangi gerai ATM Mandiri yang mati suri, kotor, dan tak berfungsi layaknya kandang ternak terbengkalai.
Kontradiksi Anggaran dan Monumen Bangkai Besi di PALI
Ironisme ini kian menjerit ketika publik menyoroti celah transparansi anggaran korporasi. Secara korporat, Bank Mandiri mengelola belanja modal (Capital Expenditure / Capex) pengadaan perangkat keras ATM dan belanja operasional (Operational Expenditure / Opex) pemeliharaan secara terpusat melalui divisi Strategic Procurement Group lewat portal pengadaan berstandar ISO. Korporasi juga rutin menggelontorkan pos pemeliharaan ruang (premises), biaya utilitas, hingga asuransi uang tunai dan pengamanan khusus.
Namun, pertanyaannya yang paling mendesak dan menampar nurani manajemen adalah: Ke mana larinya aliran anggaran pemeliharaan tersebut selama bertahun-tahun? Jika dana perawatan selalu dikucurkan setiap tahunnya, mengapa mesin-mesin tua di Pendopo PALI tidak pernah diganti? Apakah angka-angka fantastis dalam pos anggaran pemeliharaan hanya menjadi ajang peniruan laporan fiktif di atas kertas, sementara fasilitas di daerah pelosok dibiarkan membusuk?
Pimpinan Cabang Alergi Konfirmasi dan Bungkam Seribu Bahasa
Kebobrokan manajerial ini tidak berdiri sendiri. Sikap tutup mata dan bungkam yang dipelihara oleh manajemen tingkat lokal memperparah penderitaan nasabah. Sebagaimana pernah dikupas tajam dalam investigasi tintamerah.co sebelumnya, Pimpinan Cabang (Pinca) Bank Mandiri Pendopo PALI diduga kuat bersikap arogan, alergi konfirmasi, serta mengabaikan hak-hak nasabah yang merugi setiap kali sistem lumpuh (Skandal Bangkai Besi ATM Bank Mandiri Cabang Pendopo PALI: Pimpinan Cabang Diduga Alergi Konfirmasi dan Abaikan Hak Nasabah). Sikap antikecamatan ini membuktikan bahwa para pejabat pemegang kendali di daerah tidak memiliki empati moral sedikit pun terhadap masyarakat yang uangnya mereka kelola.
Desakan Copot Pinca dan Kemarahan Elemen Aktivis
Akumulasi kekecewaan ini membuat elemen masyarakat dan aktivis tak lagi sanggup bersabar. Desakan keras secara terbuka telah disuarakan oleh Ketua LSM SERAMPUH yang menuntut agar Pimpinan Cabang tersebut segera dicopot dari jabatannya akibat kegagalan total dalam mengelola pelayanan publik dan membiarkan nasabah menderita di tanah kelahiran mereka sendiri (Skandal Bangkai Besi ATM Mandiri PALI, Layanan Bobrok Merugikan Nasabah: Ketua LSM SERAMPUH Desak Pinca Dicopot). Peringatan HUT ke-28 Bank Mandiri hari ini seharusnya menjadi momen instrospeksi total, bukan ajang pencitraan kosong di tengah tumpukan masalah yang merugikan konsumen.
Kado Pahit dan Mosi Tidak Percaya Publik PALI
Tepat di usia ke-28 tahun ini, kado “bangkai besi” ATM Pendopo PALI menjadi bukti sahih kegagalan implementasi Good Corporate Governance (GCG) di tingkat operasional daerah. Masyarakat PALI dan aliansi insan pers menuntut audit independen segera dilakukan terhadap aliran dana pemeliharaan cabang tersebut. Jika manajemen tetap bergeming dan merayakan ulang tahun di atas penderitaan nasabah, gelombang mosi tidak percaya dan aksi massa siap digelorakan untuk mengguncang kantor cabang tersebut. Selamat ulang tahun ke-28 Bank Mandiri—teruslah bertumbuh, tetapi ingatlah bahwa penindasan layanan di pelosok negeri tidak akan pernah bisa ditutup-tutupi oleh megahnya slogan korporasi!
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















