PALI | Tintamerah.co.id -, Aktivis Senior asal Desa Betung kecamatan Abab, Mulyadi Asoi angkat bicara soal alat pertanian yang ditempatkan ditengah hutan desa Talang Akar.
“Ini kan cukup menarik, alat itu kan milik negara, mengapa dibiarkan begitu saja,” kata dia kepada Tintamerah.co.id, Selasa (24/05/22).
Menurut dia, atas kejadian hilangnya onderdil excavator harus ada pihak yang bertanggung jawab karena dibiarkan begitu saja.
Disamping itu, dia mempertanyakan sistem pinjam pakai alat pertanian tersebut sampai ketangan para petani jangan sampai ada oknum yang membebani masyarakat harus menyewa.
“Ini goblok namanya, ini aduuuh, banyak masalah dikabupaten PALI ini disemua tingkatan kayaknya,” ujar dia.
Pria yang tenar dengan panggilan Singa Abab itu menyatakan alat milik negara itu bernilai tinggi dan harus dirawat serta ditempatkan ditempat yang lebih aman untuk menghindari kehilangan.
Menurut dia, keputusan dinas pertanian meletakan alat tersebut ditengah hutan akan memancing orang berbuat kejahatan.
Atas kejadian itu, Singa Abab menyebut harus ada pihak yang bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak dinginkan.
“Yang jelas ini penyalur alat, kalau seandainya dinas pertanian, dinas pertanian harus bertanggung jawab, kami menuntut ini, ini jangan menyalahkan pihak lain karena yang menyalurkan itu adalah pihak yang terkait, kalau dinas pertanian, dinas pertanian harus bertanggung jawab dong. Itu harus dipantau terus, kan begitu, bagaimana cara mereka menggunakan alat, setelah itu bagaimana harus dikembalikan kemana, bagaimana cara perawatannya, kalau begini ini keterlaluan,” terang Singa Abab.
Singa Abab menilai semua barang milik negara terlebih bernilai harganya harus ditempatkan pada tempatnya.
Menurut dia, excavator tersebut tidak seharusnya ditempatkan ditengah hutan. Untuk lebih aman, kata Singa Abab ditempatkan di area kantor dinas pertanian, agar lebih aman jangan dibiarkan begitu saja.
Disisih lain, Singa Abab menyentil anggaran perawatan alat pertanian untuk perbaikan jika ada yang mengalami kerusakan.
“Ada apa dengan semua ini, soal alat itu rusak kan ada duit jelas ada uang untuk perawatan mengapa tidak, nah kemana uang perawatan itu, kalau tidak ada uang perawatan itu transparan dong, berikan penjelasan kepada para jurnalistik, para wartawan, terbukalah dong ini kan zaman terbuka dak boleh lagi disembunyikan,” pungkas Singa Abab.
Untuk itu, Singa Abab meminta dinas pertanian PALI segera mengambil tindakan-tindakan yang nyata untuk mengamankan ketempat yang lebih aman.
Singa Abab berharap jangan dibiarkan begitu saja, jika terjadi kehilangan akan berujung saling menyalakan.
Melihat kondisi ini, Singa Abab menyarankan segera mengadakan tindakan untuk mengamankan alat tersebut di halaman dinas pertanian di kabupaten PALI.
Seperti diketahui, dinas pertanian PALI dan mantan ketua Gapoktan desa Pengabuan beberapa hari yang lalu meninjau alat pertanian yang ditempatkan di kebun warga desa Talang Akar. Setelah dilakukan pengecekan, excavator milik dinas pertanian Provinsi Sumatera Selatan itu hilang computer, monitor, box sekring dan baterai.
Laporan: Efran















