PALI | tintamerah.co -, Gema takbir Idul Fitri 1447 H di Bumi Serepat Serasan kali ini membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar perayaan kemenangan. Di balik aroma ketupat dan hangatnya silaturahmi di rumah-rumah warga, sebuah narasi besar sedang dirajut: rencana pertemuan antara Bupati PALI periode 2024–2029, Asgianto, dengan sang pendahulu, Heri Amalindo.
Dua tokoh yang selama ini menjadi kutub magnet politik berbeda di PALI tersebut dikabarkan akan duduk bersama dalam momentum lebaran. Pertemuan ini bukan sekadar basa-basi protokol, melainkan simbol runtuhnya sekat-sekat ego politik demi satu tujuan: Masa depan PALI.
Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Instruksi Nurani
Wakil Ketua DPRD PALI sekaligus Ketua DPW PGK Sumsel, Firdaus Hasbullah, SH, MH, menegaskan bahwa rencana silaturahmi ini adalah oase di tengah dahaga persatuan pasca-dinamika politik yang panjang.
“Politik itu dinamis, tapi pengabdian itu statis—ia harus tetap tegak untuk rakyat. Pertemuan antara Pak Asgianto dan Pak Heri Amalindo di hari yang fitri ini adalah instruksi nurani. Ini adalah pesan tegas kepada seluruh masyarakat bahwa kompetisi telah usai, dan kini saatnya kolaborasi dimulai,” ujar Firdaus dengan nada lugas saat diwawancarai tintamerah.co, Minggu (22/3/2026).
Menurut Firdaus, masyarakat PALI sudah terlalu lelah dengan polarisasi. Baginya, jabat tangan kedua tokoh ini nantinya akan menjadi suntikan energi luar biasa bagi percepatan pembangunan daerah.
Sinergi Pengalaman dan Inovasi
Firdaus melihat ada kekuatan raksasa yang tersimpan jika rekonsiliasi ini terwujud secara substantif. Heri Amalindo, dengan rekam jejak dua periode membangun fondasi kabupaten muda ini, memiliki ‘peta jalan’ pengalaman yang tak ternilai. Di sisi lain, Asgianto datang dengan visi baru, energi muda, dan mandat segar dari rakyat.
“Bayangkan jika pengalaman panjang Pak Heri bertemu dengan akselerasi inovasi Pak Asgianto. Tidak ada lagi program yang mangkrak karena sentimen, tidak ada lagi kebijakan yang tumpang tindih karena gengsi masa lalu. Yang ada hanyalah PALI yang melompat lebih tinggi,” tegas pria yang akrab disapa FH ini.
Menggugah Kesadaran Kolektif
Lebih jauh, Firdaus menekankan bahwa rekonsiliasi ini harus menjadi teladan bagi para pendukung di akar rumput. Jika di level pucuk pimpinan saja sudah mampu saling memaafkan dan berbagi senyum, maka tidak ada alasan bagi masyarakat di desa-desa untuk tetap memelihara dendam politik.
“Lebaran adalah momentum kembali ke fitrah. Fitrah kita sebagai warga PALI adalah gotong royong. Melihat mereka duduk satu meja akan menjadi pemandangan paling indah di Idul Fitri tahun ini. Itu adalah bukti kematangan jiwa seorang pemimpin,” tambahnya dengan menyentuh.
Titik Balik Menuju Kejayaan
Pertemuan yang direncanakan ini diharapkan menjadi titik balik (turning point) bagi stabilitas sosial dan ekonomi di PALI. Firdaus Hasbullah meyakini, pembangunan infrastruktur, kualitas pendidikan, hingga layanan kesehatan akan jauh lebih mudah dicapai jika stabilitas politik terjaga melalui jalur silaturahmi.
Satu hal yang pasti, ketika tangan-tangan itu saling berjabat nanti, pesan yang sampai ke telinga rakyat adalah: PALI terlalu berharga untuk dikorbankan demi ego pribadi.
“Masa depan yang lebih baik selalu dimulai dari keberanian untuk berdamai. Dan hari ini, kita melihat fajar keberanian itu mulai menyingsing di Bumi Serepat Serasan,” tutup Firdaus dengan penuh optimisme.
Laporan: Efran | Editor: tintamerah.co















