PALI | tintamerah.co -, Sikap tidak terpuji dan terkesan menutup mata dipertontonkan oleh jajaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Di tengah badai kelangkaan dan melambungnya harga gas Elpiji 3 kg yang mencekik leher masyarakat miskin, kepala dinas beserta Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan justru kompak menghilang dan melakukan ‘prank’ terhadap awak media yang hendak melakukan konfirmasi resmi, Selasa (9/6/2026).
Kekecewaan, rasa muak, dan geram tak lagi bisa disembunyikan oleh tim redaksi tintamerah.co. Bagaimana tidak, agenda wawancara yang sedianya dilaksanakan pada hari Selasa, pukul 10.00 WIB di Kantor Disperindag PALI, berakhir dengan zonk alias ruangan kosong. Padahal, pertemuan tersebut telah dijadwalkan secara resmi melalui mekanisme Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Disperindag setelah sebelumnya berkoordinasi via pesan singkat, Senin (8/6/2026).
Skenario ‘Prank’ dan Sikap Menghindar Disperindag
Aksi saling lempar dan menghindar ini bermula ketika awak media menerima pesan yang diteruskan dari staf perdagangan yang menyatakan izin menyampaikan pesan dari Kabid Perdagangan agar datang ke kantor pada hari Selasa jam 10. Namun, saat jurnalis tintamerah.co tiba di lokasi tepat waktu, baik Kepala Disperindag maupun Kabid Perdagangan tidak berada di tempat.
Sikap abai ini sebenarnya bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, surat permohonan wawancara resmi terkait Program Kerja dan Arah Kebijakan Strategis Tahun Anggaran 2026 yang dikirimkan oleh Redaksi tintamerah.co sejak pertengahan April lalu juga sama sekali tidak digubris oleh Kepala Dinas. ‘Prank’ massal pejabat Disperindag hari ini seolah menjadi puncak dari buruknya komunikasi publik dan transparansi instansi tersebut.
Saat dikonfirmasi di ruangannya, salah satu staf Bidang Perdagangan, Jesi Alfardi, tidak mampu memberikan jawaban pasti terkait keberadaan para atasannya. Berdasarkan rekaman wawancara dengan Jesi Alfardi, pihak dinas berdalih bahwa para pejabat yang berwenang sedang tidak berada di kantor karena adanya agenda luar. Alasan klasik yang dinilai awak media sebagai jurus menghindar dari kejaran pertanyaan kritis.
Tutup Mata di Atas Jeritan Rakyat Miskin dan Pelaku UMKM
Sikap tidak peduli dan minim empati yang ditunjukkan oleh pimpinan Disperindag PALI ini sangat kontras dengan realitas perih yang dihadapi warga di lapangan. Melalui rangkaian laporan investigasi mendalam tintamerah.co sebelumnya, jeritan masyarakat kecil sudah bergaung sangat keras namun seolah mental di dinding kantor pemerintahan.
tintamerah.co dalam laporan-laporan sebelumnya telah membongkar bagaimana nasib tragis emak-emak dan masyarakat miskin di PALI, khususnya di wilayah Simpang Raja, yang harus menebus gas melon dengan harga yang sangat tidak masuk akal karena menembus angka puluhan ribu rupiah per tabung. Kondisi ini memaksa warga menjerit perih mempertanyakan ke mana larinya hati nurani dan tindakan nyata dari pemangku kebijakan, baik dari unsur eksekutif, legislatif, maupun yudikatif yang seolah menutup mata.
Bukan hanya urusan dapur rumah tangga, jeritan mencekik ini juga menghantam telak para pelaku UMKM lokal di PALI. Kelangkaan dan mahalnya bahan bakar bersubsidi ini membuat para pedagang kecil resah dan gulung tikar. Atas dasar itulah, masyarakat bersama elemen aktivis mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk turun tangan melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) serta menyeret mafia dan agen-agen nakal yang bermain di balik penderitaan rakyat.
Bahkan, persoalan ini sempat membuat pihak DPRD PALI meradang hingga berencana memanggil paksa pihak Disperindag beserta pangkalan resmi guna mempertanggungjawabkan karut-marut distribusi gas subsidi ini.
Ke mana Hati Nurani Pemerintah Daerah?
Kehadiran jurnalis tintamerah.co ke kantor Disperindag sejatinya membawa misi suci: menyuarakan kegelisahan rakyat dan menuntut solusi konkret serta transparansi pengawasan dari instansi yang bertanggung jawab penuh atas stabilitas perdagangan daerah.
Namun, dengan kaburnya para pejabat berwenang dari agenda yang sudah dijadwalkan, Disperindag PALI sukses memperlihatkan potret birokrasi yang pengecut, antipati, dan terkesan melindungi ketidakberesan yang terjadi di pasar. Ketika pejabat memilih sembunyi di balik ruang ber-AC dan melakukan ‘prank’ terhadap pers, di saat yang sama, ribuan emak-emak di PALI harus meneteskan air mata mencari sebongkah gas melon demi menyambung hidup keluarga mereka.
Sampai berita ini diturunkan, Kepala Disperindag PALI dan Kabid Perdagangan masih bungkam dan tidak dapat ditemui untuk memberikan penjelasan. Redaksi tintamerah.co menegaskan tidak akan mundur sejengkal pun untuk terus mengawal kasus ini hingga hak-hak masyarakat miskin dikembalikan dan para mafia gas di Bumi Serepat Serasan diseret ke ranah hukum.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















