PALI | tintamerah.co -, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, tidak main-main dalam menyusun peta jalan fiskal di bawah kepemimpinan Asgianto – Iwan Tuaji. Tak tanggung-tanggung, duet ini menargetkan pendapatan daerah dipatok melonjak dari Rp1,3 triliun menuju angka fantastis Rp2 triliun.
Kepala Bapenda PALI, Aryansyah, menegaskan bahwa target ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah misi terukur yang akan dicapai secara bertahap dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Strategi 4 Pilar: Menutup Celah, Menggali Potensi
Aryansyah mengungkapkan bahwa kunci utama untuk menembus angka Rp2 triliun adalah melalui intensifikasi masif pada empat sektor strategis yang menjadi mesin uang daerah:
- Optimasi Pajak Daerah: Memperluas basis pajak tanpa membebani masyarakat kecil.
- Revitalisasi Retribusi: Memastikan setiap layanan publik memberikan kontribusi balik yang maksimal.
- Pengawalan DBH Migas: Memastikan bagi hasil dari sektor minyak dan gas bumi sesuai dengan lifting dan porsi yang seharusnya diterima daerah.
- Pendapatan Asli Daerah Lain-lain (PADL): Menggali sumber-sumber kreatif yang selama ini belum tersentuh.
“Kami tidak bergerak dengan asumsi kosong. Kuncinya adalah pengelolaan masif pada sektor-sektor yang selama ini belum tergali maksimal,” tegas Aryansyah saat dibincangi tintamerah.co di ruang kerjanya, Senin (9/3/2026).
Perang Melawan Kebocoran Data
Menariknya, Bapenda PALI kini beralih ke strategi Data-Driven. Aryansyah menekankan bahwa setiap langkah kebijakan akan didasarkan pada validasi data yang ketat untuk meminimalisir potensi kebocoran pendapatan.
“Kami bergerak bertahap, mulai dari Rp1,3 triliun, naik ke Rp1,5 triliun, hingga puncaknya target Rp2 triliun di akhir masa kepemimpinan Bapak Bupati Asgianto,” tambahnya.
Dengan sistem berbasis data, Bapenda optimistis mampu mendeteksi “lubang-lubang” pendapatan yang selama ini terlewatkan, sekaligus memberikan transparansi penuh dalam pengelolaan keuangan daerah demi pembangunan PALI yang lebih merata.
Penulis: ej@ | Editor: efran















