PALI | tintamerah.co -, Bagi ratusan mahasiswa asal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, kalender akademik bukan sekadar deretan jadwal kuliah dan ujian. Di balik lembar-lembar kartu rencana studi, ada kecemasan yang menggantung: “Bagaimana biaya pendidikan semester ini akan terbayar?”
Pertanyaan itu kini berubah menjadi desakan kolektif. Perhimpunan Mahasiswa dan Pemuda Kabupaten PALI (PERMA-PALI) secara resmi menyuarakan kegelisahan rekan-rekan mereka. Mereka menuntut satu hal dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PALI: Kepastian.
Instrumen Strategis yang Dinanti
Beasiswa daerah selama ini dipandang sebagai oase bagi putra-putri Bumi Serepat Serasan. Di tengah cita-cita membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul, program ini adalah instrumen strategis. Namun, memasuki awal tahun anggaran 2026, keran informasi dari pemerintah daerah seolah tersumbat.
Ketua PERMA-PALI, Riko, menegaskan bahwa beasiswa bukan sekadar bantuan finansial tambahan, melainkan jaring pengaman bagi mahasiswa yang sedang berjuang di perantauan maupun di bangku kuliah lokal.
“Kami mempertanyakan komitmen Pemerintah Kabupaten PALI dalam menjamin keberlanjutan Beasiswa PALI 2026. Sampai hari ini belum ada informasi terbuka, padahal mahasiswa sudah mulai memasuki semester baru dan sangat membutuhkan kepastian biaya pendidikan,” ujar Riko dengan nada getir dalam keterangan yang diterima tintamerah.co, Selasa (10/3/2026).
Transparansi: Antara Janji dan Realita
Isu yang diangkat PERMA-PALI bukan hanya soal nominal rupiah, melainkan soal tata kelola dan transparansi. Bagi mereka, akses terhadap informasi pendidikan adalah hak mendasar. Ketidakpastian jadwal pendaftaran dan kriteria seleksi dinilai menghambat perencanaan studi para mahasiswa.
Pemerintah daerah memikul tanggung jawab besar untuk memastikan pendidikan merata dan berkeadilan. Tanpa pengumuman yang jelas, muncul spekulasi di kalangan akar rumput mengenai prioritas anggaran daerah tahun ini.
“Program beasiswa bukan hanya soal angka di atas kertas APBD, tetapi wujud tanggung jawab pemerintah dalam mendorong akses pendidikan yang berkeadilan,” lanjut Riko.
Garda Terdepan Pengawalan Anggaran
Selain mendesak kejelasan waktu, PERMA-PALI juga menyoroti aspek ketepatan sasaran. Ada kekhawatiran klasik yang selalu muncul setiap tahunnya: apakah bantuan ini benar-benar jatuh ke tangan mereka yang membutuhkan dan berprestasi, atau justru terserap oleh celah administrasi yang tidak akurat?
Riko menegaskan bahwa organisasinya siap menjadi “mata dan telinga” bagi mahasiswa. Mereka berkomitmen mengawal agar tidak ada bantuan yang salah alamat.
“Kami memastikan program ini harus tepat sasaran. Kami siap menjadi wadah aspirasi apabila ditemukan adanya ketimpangan dalam penyaluran nanti,” tambah Riko dengan tegas.
Membuka Ruang Dialog
Langkah PERMA-PALI tidak berhenti pada kritik. Mereka menawarkan tangan terbuka untuk berdialog dengan Pemkab PALI. Harapannya sederhana: duduk bersama, mendengarkan kendala pemerintah, dan mencari solusi agar generasi muda PALI tidak putus sekolah karena kendala biaya.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah. Masyarakat, khususnya para mahasiswa, menanti jawaban konkret. Sebab, di tangan para pemuda inilah masa depan PALI dipertaruhkan, dan beasiswa adalah investasi paling nyata untuk memastikan masa depan itu tetap cerah.
Editor: efran















