PALI | Tintamerah.co.id -, Muyadi Asoy meminta pemerintah daerah kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) membentuk tim investigasi untuk menuntaskan persoalan akibat keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal tersebut dilontarkan Mulyadi saat menyampaikan orasi tuntutan LSM Serampuh di halaman kantor bupati PALI, Selasa (27/05/25).
“Hasil lab sudah dikeluarkan dan hasil lab-nya sudah dipublikasikan. Hasil lab bahwa, bakteri tersebut itu berasal dari makanan tempe, begitu juga dengan minuman. Berarti hasil lab ini adalah merupakan suatu bahan. Bahan dimana Pemkab kabupaten PALI harus membentuk tim investigasi sehingga dalam hal ini tidak ada orang-orang ataupun usaha yang dirugikan oleh tempe,” kata Mulyadi.
Mulyadi mengatakan berdasarkan dari informasi yang dihimpunnya dari berbagai media massa bahwa makanan MBG dari bahan tempe sebelum disantap para siswa sekolah tak layak dikonsumsi karena sudah berbau.
Menurut Mulyadi, penjual tempe tidak mungkin menjual barang dagangannya yang sudah dalam kondisi kadaluarsa walaupun hasil uji labolatorium gejala keracunan program MBG di PALI yang dikeluarkan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Palembang, salah satunya karena bahan makanan terbuat dari tempe.
Untuk itu, Mulyadi berharap agar hasil uji abolatorium tersebut tidak menjadi kambing hitam sehingga merugikan para pengusaha tempe yang ada di PALI.
Seharusnya, menurut Mulyadi, dapur MBG yang bertugas untuk membuat dan mendistribusikan makanan bergizi gratis kepada penerima manfaat, terutama anak sekolah dilakukan investigasi mendalam.
Selain itu, Mulyadi mengaku tidak mengetahui siapa dan perusahaan apa yang dipercaya untuk mengelolah dapur MBG di PALI.
“Bahkan sampai saat ini pun kami masyarakat tidak tahu siapa, perusahaan mana yang dipercayakan untuk menyediahkan makanan Bergizi Gratis. Transparan, siapa pelakunya, kalau usaha, usaha apa,” ujar Mulyadi.
Untuk mengetahui lebih dalam apa penyebab gejala keracunan makanan tersebut, Mulyadi meminta Pemda PALI segera membentuk tim internal pengawas di tempat penyedia makanan sehingga menu MGB dapat dikontrol dengan baik.
Mulyadi menyatakan bahwa sebaik apapun bahan makanan yang mengandung protein dan vitamin jika salah dalam mengolahnya, program MBG yang digadang-gadang bertujuan untuk mengatasi masalah gizi buruk dan stunting, mendukung tumbuh kembang anak-anak, serta meningkatkan kualitas Pendidikan akan menjadi sia-sia.
Mulyadi menegaskan, bahwa persoalan ini muncul karena minimnya pengawasan walaupun yang menjadi korban bukan bagian dari keluarganya. Kendati demikian, ia merasa prihatin, agar kejadian ini tidak terulang kembali.
“Kalau terus bebas dibiarkan, ini begini jadinya. Untung saja ini bukan anak kita, keluarga kita, tapi kita masalah, masalah prihatin. Jangan sampai masalah ini hal semacam ini terjadi lagi kedepan,” ungkap Mulyadi.
Selanjutnya, Mulyadi menyampaikan bahwa pihaknya sangat mendukung program MBG yang dicetuskan Presiden Prabowo Subianto, namun ia meminta pengawasan ketat di dapur MBG, karena menurutnya, program ini menyangkut nyawa rakyat Indonesia.
“Apa artinya daripada Program Prabowo Presiden Indonesia kalau tanpa Pengawasan itu sia-sia. Coba kita kembali lagi ke pendidikan pelajaran PKK yang positif, kalau tanpa pengawasan, ahli menu, ahli Kesehatan, bagaimana kita harus apa, menjamin bahwa makanan tersebut layak dimakan. Yang punya moto bergizi,” pungkas Mulyadi.
Mulyadi mengingatkan lagi agar Pemda PALI segera membentuk tim investigasi untuk menuntaskan persoalan ini sehingga masyarakat PALI tidak takut mengonsumsi air PDAM dan tempe.
Mulyadi berpendapat bahwa hasil uji laboratorium dapat diteruskan menjadi dasar untuk menuntaskan permasalahan ini, jangan hasil uji laboratorium hanya sebagai konsumsi publik sehingga para pengusaha tempe yang menjadi korban.
“Kenapa hasil lab ini tidak dijadikan untuk melakukan mengroscek itu, benar atau tidak. Kroscek itu ditempat penyedia makanan. Apakah makanan sudah rusak, tempe sudah rusak, karena tidak mau rugi tempe yang sudah rusak itu dikelola,” terang Mulyadi.
Lebih lanjut, Mulaydi mempertanyakan mengapa pengelolah dapur MBG selama ini tidak dihadirkan kepada publik sehingga terkesan ada sesuatu yang disembunyikan.
“Tampilkan dia, harus jujur, karena ini menyangkut nyawa, ini menyangkut daripada generasi penerus PALI, kita harus lindungi,” ujar Mulyadi.
Mulyadi berandai jika apa yang mereka sampaikan merupakan suatu kebenaran maka Pemda PALI harus mendukung.
Menurut Mulyadi, jika Pemda PALI ogah membentuk tim investigasi sama halnya rezim saat ini menolak ikut serta untuk menyelesaikan permasalahan ini.
“Kita harus mencari benang merah, tetapi bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi kita akan membuktikan bahwa Pemkab PALI hadir dalam masalah ini. Tidak ada unsur kebencian, tidak ada. Tidak ada unsur untuk menjatuhkan dari pada penyedia makanan. Tetapi kami ingin penyedia makanan menjadi perhatian Pemkab PALI,” ucap Mulyadi.
Diakhir orasinya Mulyadi berharap agar LSM Serampuh dapat mencari solusi terbaik terhadap persoalan yang tak kunjung selesai akibat program MBG.
“Mudah-mudahan LSM Serampuh dapat mencari solusi yang terbaik dalam mengatasi yang tidak ada batasnya, yang tidak ada kunjung selesainya permasalahan dari pada keracunan anak-anak sekolah dari penyedia makan bergizi gratis,” tutup Mulyadi.
(ej@/tintamerah)















