Prabumulih | Tintamerah.co.id -, PT Pertamina EP Hulu Rokan (PHR) Zona 4 meluncurkan Pertamina Local Commnuity Leaders Program (LCLP) Tahun 2025. Program tersebut digagas untuk membentuk pendidikan karakter peserta Retreat.
Terdapat 92 orang yang melibatkan diri dari berbagai pemangku kepentingan seperti organisasi kemasyarakan (Ormas), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan Wartawan lokal.
Stakeholder tersebut berasal dari Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Kota Prabumulih, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Ogan Komering Ulu yang terdiri dari 6 area operasinal PHR Zona 4. Mereka akan dilatih selama 14 hari.
Komandan Kompi (Danki) Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) II/SG Kapten Czi Agus Prianto didapuk menjadi Komandan Satuan Siswa (Dansatsis) retreat Pertamina LCLP 2025 Zona 4. Ia ditugaskan untuk mendidik para siswa – siswi menjadi pribadi yang intelektual, tangguh, dan bermoral.
“Untuk tujuan intinya adalah yang pertama agar para pelaku ini nanti setelah diterjunkan ke profesi bidang masing-masing sehingga dapat membentuk satu karakter yang beretos kerja yang tinggi,” kata Agus kepada Tintamerah.co.id, Sabtu (14/06/25).
“Kemudian memiliki solidaritas antar rekan, kemudian beretika, berwawasan dan memiliki ketangkasan dan ketangguhan dalam fisik yang prima,” Agus menambahkan.
Agus mengatakan untuk membentuk pendidikan karakter seseorang dibutuhkan kecerdasan emosional karena ia menawarkan pelajaran moral dan nilai-nilai yang membimbing individu dalam menghadapi tantangan emosional dan sosial.
“Untuk proses-proses yang harus dilakukan atau ditempuh bahwa yang pertama setiap peserta ini kan sumbernya dari berbeda wilayah, berbeda usia. Nah ini harus timbul di benak mereka masing-masing, bahwa ini adalah bukan keberadaan diri mereka masing-masing, tetapi mereka harus mampu bersinergitas antar sesama, itu lebih kepada karakter seperti itu yang harus diciptakan atau yang bisa dimunculkan dari program ini,” ujar Agus.
Lebuh lanjut, Agus menuturkan bahwa yang paling fundamental dalam menanamkan pendidikan karakter kepada peserta adalah dengan memperkuat ibadah kepada Tuhan Yang Esa.
“Yang tentunya yang paling fundamental, paling mendasar adalah yakinan terhadap pendekatan beribadah kepada Yang Maha Kuasa berdasarkan keyakinan kepercayaan masing-masing itu tidak pasti,” tutur Agus.
Selain itu, menurut Agus, ia menekankan kepada pembentukan individu yang berakhlak mulia dan berkualitas sehingga siap menghadapi tantangan sosial dan moral di lingkungan masyarakat.
“Kemudian ruang lingkupnya berikutnya mereka ini memahami tentang lingkungan, tentang keberadaan alam sekitar, serta bagaimana berinteraksi antar sesama, baik itu antar mereka sendiri ataupun dengan lingkungan dimana mereka ditugaskan atau mereka berkarya.
Kemudian, Agus menjelaskan mengapa Pertamina LCLP 2025 dilakukan, karena melalui LCLP, kata Agus, peserta akan menjalani program pendidikan karakter, individu diajarkan untuk menghargai integritas, tanggung jawab, kejujuran, dan empati. Pendidikan ini memberikan mereka alat dan keterampilan untuk mengelola emosi, baik saat merespon stres maupun konflik, serta bagaimana berkomunikasi dengan efektif dalam berbagai situasi.
“Program ini dikatakan penting, pertama karena suatu kegiatan apapun itu bisa kita tempuh dengan berhasil, dengan baik kalau semuanya bisa memegang komitmen yang sudah disepakati bersama. Makanya dari awal dari sana tadi, kebersamaan, solidaritas, kemudian kepedulian antar rekan, ini yang perlu,” jelas Agus.
Oleh sebab itu, Agus menyatakan bahwa pada saat para peserta selesai mengikuti kediatan tersebut dapat menerapkan Pendidikan karakter yang didapatkan dari retreat Pertamina LCLP 2025 Zona 4 kepada diri sendiri, keluarga, dan tanggung jawab moral terhadap lingkungan social.
“Yang pertama yang jelas harus bisa paling tidak diterapkan dalam kehidupan diri pribadi, kemudian lebih luas lagi mencakup ke keluarga, dan lebih luas lagi kepada untuk mendukung tercapainya, terlaksananya tugas yang diemban masing-masing,” imbuh Agus.
Saat ditanya tentang fungsi pendidikan karakter, Agus mengatakan para peserta retreat lebih sigap, memahami tugas pokok, dan percaya diri dalam menghadapi setiap persoalan.
“Fungsi pendidikan karakter membekali peserta ini, yang pertama agar tanggap terhadap situasi, kemudian paham dengan tugasnya. Kemudian tidak pernah mengenal menyerah dengan apa yang dihadapi di lapangan sehingga tidak ada kata-kata berhenti di tengah perjalanan, tapi berhentilah ketika sampai mereka ditujuan,” ungkap Agus.
Agus membocorkan ada dua nilai karakter yang ditreatment untuk peserta LCLP, pertama harus meyakini takdir tuhan, dan kedua tidak mudah menyerah.
“Nilai karakter yang harus kami bekalkan atau kami berikan kepada seluruh peserta yang pertama harus berkarakter satu, senantiasa, mengingat bahwa semuanya adalah atas kehendak yang kuasa. Kemudian yang kedua, jangan pernah ada kata menyerah. Istilahnya kita harus mencoba dan belajar, bukan mencoba kemudian gagal,” pungkas Agus.
“Ya tentunya kita kembali kepada tema dari kepelatihan ini adalah leadership Nah tentunya kalau kita berbicara leader, harapannya kita kedepannya bisa mencetak ataupun kita bisa menjadi seorang pemimpin yang tentunya harus jujur, kemudian berinisiatif, Kemudian berintegritas ya, kemudian memiliki mental yang tangguh, peduli. Yang berikutnya harus selalu membangun ke arah yang lebih baik, tentunya itu,” tambah Agus.
Disisih lain, Agus mengatakan bahwa melatih seorang prajurit TNI sangat berbanding terbalik dengan melatih orang sipil, sehingga pihaknya agak kesulitan dalam menerapkan aturan dan sanksi kepada para peserta.
“Kendalanya tentu pertama dari sumber daya manusianya. Kalau prajurit memang direkrutmen untuk menjadi seorang prajurit, sementara ini adalah orang sipil yang diperkenalkan kepada kedisiplinan yang basisnya ataupun metodenya, metodenya pendidikan militer tentu dari proporsionalnya dibedakan,” terang Agus.
Tak hanya itu, ujar Agus, usia peserta retreat Pertamina LCLP 2025 yang bervariasi anatar muda dan tua menjadi kendala dalam penerapan latihan fisik, sementara usia siswa yang menempuh pendidikan menjadi prajurit TNI sudah sesuai dengan standar yang ditentukan oleh peraturan dan perundang-undangan.
“Kemudian dari pengaplikasian terhadap batasan-batasan sosial tentu kita harus pedomani, harus kita perhatikan. Tidak bisa rekan-rekan yang program ini usianya rata-rata kan ada variatif, ada yang dari sudah masuk ke puluhan, kemudian ada yang belasan. Sementara untuk sumber daya calon prajurit sendiri tentunya masih mudah-mudah semua, tentu ada standarisasi kemampuan fisik yang berbeda, harus kita yakinkan kondisi kesehatannya seperti apa. Ini seorang pelatih harus pekah terhadap situasi-situasi seperti ini. Nah itu harus diperhatikan betul,” kata Agus.
Kendati demikian, Agus menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan treatment terukur kepada setiap peserta retreat karena perbedaan usia yang sangat signifikan.
Kemudia, Agus menyampaikan agar ilmu yang didapat dalam program retreat ini dapat dijadikan pedoman sehingga menjadi tuntutan dalam kehidupan social ditengah masyarakat.
“Untuk pesan kepada peserta agar apa yang sudah diperoleh ini bisa langgeng atau bisa terus dikembangkan, kalau dalam bahasa Jawa bisa diugemi ataupun dipedomani,” ujar Agus.
Selanjutnya, Agus menegaskan, apa yang telah diberikan oleh pihaknya selama 14 hari di Yonzipur semata-mata hanya untuk kebaikan bersama. Ia berharap kedepan seluruh peserta didiknya dapat menjalankan tugas dengan baik sehingga tercipta hubungan yang baik dengan perusahaan di tempat masing – masing.
“Harapan kami semoga apa yang kami berikan, apa yang kami upayakan ini, sejujurnya tidak ada niatan apapun kecuali hanya untuk kebaikan. Harapannya apa yang kita berikan bisa mendukung, bisa men-support untuk pelaksanaan tugas rekan-rekan yang bersumber ataupun berasal dari manapun itu, di bidang profesi apapun itu, harapannya bisa bermanfaat dengan baik, dan kita bisa sama-sama menjaga hubungan ini dengan baik,” tutup Agus.
Agus berharap agar kedepan Ormas, LSM, Wartawan dapat menjaga silaturahmi dengan perusahaan dan TNI demi mewujudkan asta cita Presiden Prabowo Subianto yang mencanangkan katahanan energi nasional.
(ej@/tintamerah.co.id)














