Prabumulih | Tintamerah.co.id -, Ketua Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumatera Selatan Ocktaf Riadi buka suara soal Retreat Pertamina Local Community Leaders Program (LCLP) Tahun 2025 Zona 4 yang digelar di Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) II/ Samara Grawira (SG) dinilai untuk ‘Membungkam Kebebasan Ekspresi’. Ia mengatakan penafsiran seperti itu adalah cara berpikir dangkal.
Hal tersebut dilontarkan mantan Ocktav Riadi kepada Tintamerah.co.id saat menjadi instruktur workshop jurnalistik Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Retreat Pertamina LCLP, Sabtu (21/06/25).
Mulanya, pria yang akrab disapah Oka itu mengapresiasi atas terselenggaranya event tersebut, apalagi, kata Oka, PHR Zona 4 melibatkan masyarakat dari kalangan pers.
“Saya setuju acara ini, karena ini juga melibatkan banyak orang, salah satunya juga wartawan yang ikut serta, kata Oka.
Menurut Oka, dalam menjalankan tugas jurnalistik wartawan cenderung santai dengan waktu yang tidak jelas sehingga saat mengikuti retreat ini wartawan digembleng dengan disiplin yang sangat ketat.
“Dan ini juga termasuk selama ini wartawan terkenal santai, santai dengan kerjanya, tanpa waktu yang jelas. Sekarang berlatih tentang kedisiplinan, berlatih tentang waktu yang tepat, kemudian juga ditambah dari instruktur dari Jakarta, dari Palembang, tentang penambahan ilmu jurnalistik, menurut saya bagus,” ujar Oka.
Lebih lanjut, Oka berujar, ilmu kedisiplinan yang diserap yang diterapkan instruktur dapat diaplikasikan dalam tugas jurnalistik sehari – hari.
“Mengimbangkan antara kedisiplinan, kemudian kedisiplinan juga terkait dengan pemberitaan juga bagus. Kita kan punya waktu deadline, itu perlu waktu cepat untuk menurunkan berita. Ya, belajar disiplin sangat bagus,” terang Oka.
Menurut mantan Ketua PWI Sumatera Selatan dua periode itu, program pembentukan karakter yang diluncurkan untuk para insan pers dan media tersebut adalah program yang sangat luar biasa.
“Menurut aku acara ini luar biasa lah. Apa yang dibuat oleh Pertamina, memperhatikan teman-teman wartawan, bagaimana, yuk kita gabung ini, belajar tentang retraet kepemimpinan dan lain-lain. Kan banyak hal yang diajari kan. Ya bagus lah untuk penambahan ilmu dan kedisiplinan buat wartawan,” ucap Oka.
Saat ditanya apakah program yang menggodok para pewarta masuk barak militer itu bertujuan untuk membungkam kebebebasan pers?. Ia tidak sepakat dengan pernyataan tersebut.
“Jadi gini, apakah kerja sama media dengan pemerintah kota, dengan pemerintah kabupaten, itu membungkam media juga? Tidak kan? Kita sebagai media punya dapat ADV, apakah membungkam kita? Tidak. Tidak. Tidak bisa kita katakan bahwa ketika ada orang bersama-sama kita melatih kita, kita seharusnya berterima kasih dong,” jelas Oka.
Oka mengatakan Pertamina LCLP 2025 Zona 4 merupakan kesempatan bagi para jurnalis dijadikan sarana untuk menambah nutrisi pengetahuan tentang pers.
Menurut Oka, untuk menghadirkan para pakar jurnalistik membutuhkan biaya yang sangat besar, jadi, ujar Oka, tidak mungkin para insan pers dan media dapat menyediakan anggaran yang begitu besar untuk membayar para pengajar.
“Bahwa kita belajar untuk jadi nambah ilmu, kita tidak mungkin. Sendiri. Mendatangkan narasumber, kita tidak mungkin. Mendatangkan pengajar, kita tidak mungkin. Kita punya media, kita ingin media kita bagus. Mendidik wartawan kita. Apakah kita bisa menghadirkan orang-orang ahli pers ke sini dengan biaya kita sendiri? Tidak mungkin,” pungkas Oka.
Oleh sebab itu, terang Oka, kalangan media seharus memberikan penghargaan kepada Pertamina yang telah menyelengarakan acara tersebut dengan mendatangkan orang – orang yang ahli dalam bidang jurnalistik.
Menurut Oka, perekrutan masyarakat pers untuk mengikuti Retreat Pertamina LCLP bukan untuk menghalangi tugas jurnalistik para insan pers dan media terhadap peristiwa yang terjadi lingkungan Pertamina, tetapi, Oka meminta wartawan agar bekerja sesuai dengan kode etik.
“Apakah itu menutupikan kritis kita? Tidak dong. Kritis kan bukan seperti itu. Kritis kita kan berita kita harus tetap bertanggung jawab. Ketika ada kasus misalnya di peledakan pipa, misalnya pipa bocor, apakah kita tidak boleh memberitakan? Tetap beritakan. Yang diharapkan adalah berita dengan konfirmasi lengkap. Jadi, omongan seperti itu sudah sangat tidak tepat,” imbuh Oka.
Selanjutnya, Oka mempertanyakan sikap oknum wartawan yang gagal mencerna maksud dan tujuan Pertamina membuat program Pendidikan karakter untuk rekan – rekan sejawatnya itu. Ia mengatakan cara pandang seperti adalah pemikiran dangkal.
“Ya, berpikir negatif. Jadi, orang berbuat baik pun Anda celah, apalagi orang berbuat tidak baik. Iya kan? Terlalu ‘cetek’ pemikiran seperti itu, menurut saya. Ya, sebenarnya jangan berpikir negatif terus. Jadi orang ini hidup ini berpikir negatif. Kalau tetangga kita beli TV, ribut. Tetangga beli mobil, katanya memeliharah tuyul. Ini kapan mau majunya kita? Bersyukur, kita bisa ada UKW,” tutup Oka.
Seperti diketahui, PT Pertamina EP Hulu Rokan (PHR) Zona 4 berkolaborasi dengan Yonzipur II/SG memberikan Pembekalan Karakter kepada puluhan masyarakat yang tergabung dalam Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Karang Taruna, dan Wartawan.
Oleh Sebab itu, beberapa kelompok masyakarat menilai program tersebut disinyalir akan memberangus kebebasan ekspresi.
(efran/tintamerah)














