PALI | tintamerah.co -, Kemeriahan Sunday Morning di Lapangan Sanggar Pramuka Gelora November Pertamina Pendopo, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Minggu (7/6/2026), menyimpan riak kegelisahan yang mendalam. Di balik dentuman musik dan semangat ratusan lansia yang menolak renta, terselip sebuah sentilan tajam yang dialamatkan langsung kepada istri orang nomor satu di Bumi Serepat Serasan.
Yulia Erlinda Yahya, seorang peserta aktif asal Pasar Bhayangkara, blak-blakan membuka suara saat diwawancarai oleh tintamerah.co. Di tengah peluh usai senam, Yulia menyentil komitmen istri Bupati PALI yang dinilai hanya sekadar singgah lalu menghilang tanpa bekas.
“Kami kemarin, istrinya Pak (Bupati) kan pernah ikut senam di sini. Berarti dia sudah tahu ada senam LLI (Lanjut Lansia Indonesia) di sini. Tahu, sudah tahu dia. Nah, tapi maksud kami kayak gitu, sesekali apa 3 bulan sekali apa 4 bulan sekali diadakanlah doorprize untuk kami,” cetus Yulia dengan nada lugas dan kecewa.
Menurut Yulia, kehadiran istri bupati tersebut hanyalah pemandangan satu kali yang hingga detik ini tidak pernah terulang lagi. Baginya, kaum lansia tidak menuntut hal yang muluk-muluk, melainkan perhatian nyata dan keberlanjutan dukungan.
Mandiri Tanpa Sentuhan Pemerintah: Realitas 5 Tahun LLI
Pernyataan menohok dari Yulia ini seolah mengonfirmasi dan memperkuat laporan investigasi tintamerah.co sebelumnya yang bertajuk “Menolak Renta di Gelora November, Lima Tahun Senam LLI Tanpa Sentuhan Pemerintah, Ke Mana PALI Bergerak?”.
Selama lima tahun berjalan sejak era kepemimpinan sebelumnya, aktivitas yang kini merangkul hingga 150 peserta dari yang awalnya hanya 40 orang ini, murni bertahan berkat kekuatan swadaya. Tidak ada anggaran khusus, tidak ada fasilitas plat merah, apalagi suntikan dana dari dinas terkait.
- Iuran Sukarela: Untuk bertahan, para lansia ini mengumpulkan iuran sukarela mulai dari Rp2.000, Rp5.000, hingga Rp10.000 setiap minggunya.
- Alokasi Dana: Uang yang terkumpul (berkisar Rp100.000 hingga Rp330.000) digunakan secara mandiri untuk membeli air minum hingga memutar doorprize kecil-kecilan demi menjaga semangat peserta.
- Nihil Bantuan Sektoral: Hingga saat ini, belum pernah ada kontribusi atau sumbangsih nyata dari anggota dewan maupun pejabat pemerintah daerah.
Yulia berharap pemerintah tidak menutup mata. Selain hiburan doorprize, para lansia sangat mendambakan adanya program pemeriksaan kesehatan gratis secara berkala di lokasi senam dengan menghadirkan dokter atau tenaga medis.
Kontradiksi dengan Misi Perputaran Ekonomi Sunday Morning
Apatisnya sikap pemerintah terhadap geliat senam LLI ini menjadi sebuah kontradiksi yang ironis jika dikaitkan dengan rilis tintamerah.co terdahulu mengenai pernyataan Kepala Dinas Koperasi dan UKM PALI dalam artikel “Kadiskop UKM PALI Bongkar Misi Utama Sunday Morning: Putar Roda Ekonomi, Jaga Daya Beli, dan Benteng Agar Kuliner PALI Tak Lari ke Luar Daerah”.
Bagaimana mungkin Sunday Morning digadang-gadang sebagai episentrum perputaran roda ekonomi dan benteng kuliner lokal, jika aktor utama yang meramaikan lapangan tersebut—yaitu komunitas senam LLI—justru dibiarkan berjuang sendirian tanpa atensi? Semangat ratusan lansia yang berkumpul setiap minggu adalah bahan bakar utama yang menghidupkan lapak-lapak UMKM di sekeliling Gelora November. Jika komunitas ini layu karena abainya pemerintah, maka misi besar menjaga daya beli masyarakat PALI dipastikan ikut pincang.
Para lansia di Gelora November telah membuktikan konsistensi mereka untuk sehat dan menggerakkan massa. Kini, bola panas berada di tangan pemerintah daerah dan para pemangku kebijakan: Apakah mereka akan tetap diam, atau mulai melangkah nyata menepati janji-janji yang telanjur dititipkan lewat kunjungan singkat sekali tempo itu?
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















