PALI | tintamerah.co -, Aroma tidak sedap menyerbak dari balik pagar operasional Pertamina EP Adera Field Pengabuan. Bukan aroma gas atau minyak mentah, melainkan dugaan praktik “permainan dalam” yang kian menggila. Jeritan masyarakat lokal yang memiliki keahlian namun terpental di tanah kelahiran sendiri, kini sampai ke telinga petinggi daerah.
Laporan ini seolah mempertegas investigasi sebelumnya yang mengungkap “Borok di Tubuh Pertamina Adera”, di mana praktik mafia proyek dan sistem titipan orang dalam diduga telah berurat akar dalam tata kelola perusahaan di Bumi Serepat Serasan.
Skill Kalah oleh “Orang Dalam”
Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten PALI yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD PALI, H. Ubaidillah, angkat bicara dengan nada tinggi. Ia mendesak General Manager (GM) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 untuk segera melakukan audit total dan turun langsung ke lapangan guna menindak oknum-oknum yang diduga menjadikan Adera Field sebagai “kerajaan kecil” kelompok tertentu.
Laporan masyarakat menggambarkan kondisi yang sangat ironis. Banyak putra daerah yang memiliki kompetensi dan sertifikasi (skill) mumpuni, justru gigit jari saat mencoba peruntungan bekerja di perusahaan pelat merah tersebut. Diduga kuat, pintu masuk penerimaan tenaga kerja, terutama melalui jalur outsourcing, telah dikunci rapat oleh oknum internal.
“Kami menerima laporan bahwa kompetensi hanya jadi dalih di atas kertas. Faktanya, yang punya skill disingkirkan, sementara yang punya koneksi ‘orang dalam’ melenggang mulus meskipun tanpa keahlian. Ini jelas pengkhianatan terhadap keadilan sosial bagi masyarakat sekitar operasional!” tegas Ubaidillah kepada tintamerah.co, Jumat (27/3/2026).
Bukan Hanya Karyawan, Lelang Proyek Pun Diduga “Dikendalikan”
Keresahan tidak berhenti pada urusan perut tenaga kerja. Sektor keamanan dan lelang proyek-proyek penunjang di Adera Field juga diduga kuat dikendalikan oleh jejaring oknum yang sama. Hal ini selaras dengan temuan mengenai adanya “Calon Pengantin” dalam bursa lelang, di mana pemenang tender diduga sudah diatur sebelum proses dimulai.
Masyarakat lokal yang seharusnya dilibatkan sebagai mitra strategis, kini merasa hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Praktik nepotisme ini dinilai telah menciptakan jurang pemisah yang lebar antara perusahaan dan warga sekitar.
Desak Audit dari Prabumulih
Ubaidillah meminta GM PHR Zona 4 yang bermarkas di Prabumulih untuk tidak menutup mata. Ia menegaskan bahwa pihak legislatif dan ormas Pemuda Pancasila tidak akan tinggal diam melihat ketidakadilan ini terus berlangsung.
“Kami minta GM turun ke Adera Field. Audit semua proses penerimaan tenaga kerja dan pemenang tender proyek di sana. Bersihkan oknum-oknum yang bermain! Jika tidak ada langkah tegas, kami berdasarkan laporan masyarakat yang dirugikan akan segera memanggil pihak Pertamina Adera Field untuk dimintai pertanggungjawaban secara resmi,” pungkasnya dengan nada keras.
Publik kini menunggu, apakah Pertamina Adera akan berbenah dan kembali ke khitahnya sebagai objek vital nasional yang menyejahterakan rakyat, atau tetap menjadi “sarang” bagi para oknum untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya?
Guna memenuhi asas keberimbangan informasi, tim redaksi tintamerah.co sudah melakukan upaya konfirmasi kepada pihak PHR Zona 4 melalui surat tertulis terkait poin-poin krusial ini, Jumat (27/3/2026). Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PHR Zona 4 belum memberikan tanggapan resmi. Redaksi tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak Pertamina untuk memberikan klarifikasi lebih lanjut.
Laporan: Efran | Editor: tintamerah.co















