PALI | tintamerah.co -, Denyut nadi perekonomian masyarakat kelas menengah ke bawah kembali menggeliat di Lapangan Sanggar Pramuka Gelora November Pertamina Pendopo, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Setiap hari Minggu, kawasan ini disulap menjadi pasar kaget bertajuk Sunday Morning, sebuah wadah yang diinisiasi pemerintah untuk mendongkrak eksistensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Pada Minggu (7/6/2026), antusiasme warga tampak memadati area lapangan sejak pagi buta. Transaksi jual beli berjalan masif, membuktikan bahwa sektor UMKM adalah pilar riil ekonomi yang paling tahan banting. Namun, di balik perputaran uang yang menjanjikan, jeritan tersembunyi para pelaku usaha mengenai fasilitas penunjang yang belum memadai masih nyaring terdengar.
Kreativitas Tanpa Batas, Omzet Tembus Ratusan Ribu Rupiah
Salah satu magnet yang menarik perhatian pengunjung adalah lapak “Sate Dakkochi”, kuliner sate ala Korea yang digawangi oleh Retu Ramadani, seorang pemuda asal Golf, Handayani Mulya. Dengan mengenakan kaus hitam dan kupluk senada, ia dengan cekatan membakar tusukan daging di atas panggangan, menyajikan cita rasa modern di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional.
Retu mengaku telah menekuni usaha kuliner ini selama hampir dua tahun, aktif berpindah dari satu event ke event lainnya, termasuk memanfaatkan momentum Sunday Morning Pendopo.
“Alhamdulillah, untuk sampai sekarang antusiasme warga padat, Pak. Makin meningkat,” ujar Retu saat diwawancarai di sela-sela kesibukannya melayani pembeli. Dari bisnis kulinernya ini, ia mampu mengantongi omzet rata-rata Rp400.000 hingga Rp500.000 hanya dalam hitungan jam setiap hari Minggu.
Sentilan Keras untuk Pemerintah: Lepaskan Kami dari Sistem ‘Bongkar Pasang’!
Kendati perputaran omzet terbilang manis, Retu tidak menampik adanya ganjalan besar yang dihadapi para pedagang. Secara blak-blakan dan tegas, ia menyuarakan keluh kesah para pelaku UMKM terkait infrastruktur lapak yang dinilai masih sangat manual dan melelahkan.
Hingga saat ini, para pedagang harus membawa, mendirikan, dan meruntuhkan sendiri tenda mereka setiap kali berjualan—sebuah realitas melelahkan yang ia sebut sebagai sistem “bongkar pasang”.
“Untuk ke depannya, mohon untuk pemerintah lebih diperhatikan lagi, biar kita ini lebih nyaman juaIannya. Karena sekarang masih sistem bongkar pasang untuk tenda-tenda dan segala macam,” kritik Retu lugas.
Selain mendambakan fasilitas tenda permanen atau pengelolaan yang lebih terorganisir dari pemerintah, para pedagang juga berharap kawasan ini bisa lebih tertata dan diberikan sentuhan hiburan seperti live music untuk semakin menarik minat pengunjung.
Keamanan Kondusif Menjadi Modal Utama
Di sisi lain, Retu memberikan apresiasi terhadap aspek keamanan dan kenyamanan lingkungan di Lapangan Sanggar Pramuka Gelora November. Sepanjang jalannya kegiatan Sunday Morning, situasi terpantau aman terkendali tanpa adanya gangguan berarti seperti aksi pemalakan atau kehilangan barang.
“Alhamdulillah berjalan lancar, Pak. Tidak ada (pemalakan atau kehilangan), karena kita juga langsung bawa balik sendiri (barang-barang),” pungkasnya.
Sunday Morning Pendopo hari ini menjadi cermin nyata: UMKM memiliki daya gedor ekonomi yang luar biasa. Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah. Apakah mereka akan membiarkan para pejuang ekonomi ini terus berlelah-lelah dengan sistem bongkar pasang, atau segera turun tangan memberikan fasilitas permanen yang layak demi kenyamanan bersama? Kita tunggu aksi nyatanya.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















