PALI | tintamerah.co -, Kehadiran aktivitas pengeboran minyak dan gas di tengah masyarakat semestinya membawa berkah dan kemakmuran bagi warga sekitar. Namun, realitas pahit justru dirasakan oleh warga Talang Gas, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Aktivitas operasional Rig TMMJ #05 di lokasi BKT/AW-2 PT Pertamina EP Pendopo Field diduga telah merampas hak-hak dasar masyarakat, mulai dari pengeringan sumber air vital, penggusuran lahan tanpa ganti rugi, hingga persoalan debu dan transparansi tenaga kerja lokal.
Menanggapi gelombang kemarahan warga yang kian memuncak, Company Man Rig TMMJ #05, Faturahman, akhirnya turun tangan menemui dan menampung aspirasi warga. Wawancara eksklusif tersebut berlangsung di Kantor Rig TMMJ #05 pada Jumat, (18/9/2026).
Sungai Penukal Kering Total: Urat Nadi Warga Disedot Tiga Hari Tiga Malam
Kemarahan warga Talang Gas bukan tanpa alasan. Sumber air Sungai Penukal yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan sehari-hari—khususnya sebagai tempat warga mandi, mencuci, dan memenuhi kebutuhan MCK—kering total akibat disedot untuk keperluan operasional rig.
Warga dengan nada geram menuntut pertanggungjawaban pihak perusahaan setelah aksi penyedotan air tersebut dilakukan secara membabi buta selama tiga hari tiga malam. Tindakan ini dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap kelayakan hidup masyarakat sekitar yang bergantung sepenuhnya pada aliran sungai tersebut.
Lahan Abu Matsri Belum Diganti Rugi dan Persoalan Debu Jalanan
Selain mematikan sumber air bersih, kehadiran proyek PT Pertamina EP Pendopo Field di bawah kendali Rig TMMJ #05 juga menyisakan persoalan pelik terkait hak atas tanah. Lahan milik warga atas nama Abu Matsri dilaporkan telah tergusur oleh aktivitas proyek, namun hingga kini hak ganti rugi yang layak belum juga terealisasi.
Situasi semakin diperparah dengan polusi debu yang masif akibat mobilitas kendaraan berat di sekitar pemukiman. Warga mendesak agar pihak manajemen segera melakukan penyiraman jalan secara berkala demi kesehatan dan kenyamanan warga yang setiap hari harus menghirup udara kotor.
Tuntutan Transparansi Tenaga Kerja Lokal
Isu krusial lainnya yang disuarakan warga Talang Gas adalah minimnya transparansi dalam perekrutan tenaga kerja lokal. Warga yang wilayahnya terdampak secara langsung oleh aktivitas pengeboran di area lokasi merasa dipinggirkan dan mendesak adanya keterbukaan serta prioritas bagi putra-putri daerah Talang Gas untuk dilibatkan dalam operasional kerja.
Respons Company Man: Minta Warga Buat Surat Tertulis
Dalam wawancaranya bersama tintamerah.co di Kantor Rig TMMJ #05, Jumat (18/9/2026), Faturahman selaku Company Man memberikan tanggapan atas berbagai tuntutan dan kemarahan warga. Faturahman meminta kepada masyarakat agar menyampaikan seluruh kerugian dan aspirasi tersebut secara formal.
“Kami meminta warga untuk membuat surat tertulis atas semua kerugian masyarakat yang dikeluhkan, agar hal tersebut dapat segera diproses dan ditindaklanjuti sesuai mekanisme perusahaan,” ujar Faturahman.
Pernyataan ini tentu menjadi ujian nyata bagi komitmen manajemen PT Pertamina EP Pendopo Field dan Rig TMMJ #05. Publik kini mendesak adanya sanksi tegas serta tindakan nyata, bukan sekadar janji administratif, mengingat laporan-laporan investigatif sebelumnya telah mengingatkan bahwa pengabaian terhadap hak-hak dasar warga di sekitar wilayah operasi berisiko memicu krisis sosial yang lebih luas.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















