PALI | tintamerah.co -, Aroma ketupat Lebaran 1447 H di Bumi Serepat Serasan tahun ini tampaknya akan membawa bumbu politik yang menyejukkan. Di tengah dinamika pembangunan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), sebuah kabar burung yang kian santer terdengar kini mulai menampakkan wujudnya: Bupati PALI, Asgianto, dikabarkan bakal menyambangi kediaman sang pendahulu, Heri Amalindo, dalam sebuah agenda silaturahmi Idul Fitri.
Pertemuan dua tokoh sentral PALI ini bukan sekadar urusan jabat tangan biasa. Bagi masyarakat, ini adalah simbol rekonsiliasi dan sinergi antar-generasi pemimpin yang mampu membawa “Angin Segar” bagi stabilitas sosial dan politik di daerah tersebut.
Wacana yang Mulai Terbuka
Kepastian mengenai rencana pertemuan ini mulai terkuak dari lingkaran terdekat kedua tokoh. Firdaus Hasbullah, salah satu orang dekat yang kerap memahami peta politik lokal, memberikan sinyal hijau. Meski belum dipastikan secara administratif, ia menyebut kemungkinan pertemuan itu terjadi pada hari ketiga Lebaran.
“Belum tahu pastinya kapan, kalau Lebaran ke-3 mungkin,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi tintamerah.co, Jumat (20/3/2026).
Senada dengan itu, Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Setda PALI, Firman Irfama, mengakui bahwa wacana silaturahmi tersebut memang sudah ada di lingkungan pemerintah kabupaten.
“Wacananya ada. Namun, untuk hari keberapa, kami belum tahu pasti karena belum terjadwalkan secara resmi,” ungkap Firman saat dihubungi tintamerah.co, Jumat (20/3/2026).
Heri Amalindo: Pintu Terbuka Lebar
Di sisi lain, Heri Amalindo, Bupati PALI dua periode yang kini dijuluki sebagai tokoh “bapak Pembanungan”, menanggapi kabar ini dengan sangat rendah hati. Saat ini, Heri memang masih berada di Jakarta untuk merayakan awal Lebaran, namun ia menegaskan tidak ada alasan untuk menolak silaturahmi.
“Alhamdulillah, siapa pun yang mau bersilaturahmi pasti diterima. Berdosa kita kalau menolak orang yang niatnya baik,” kata Heri saat dihubungi tintamerah.co, Jumat (20/3/2026).
Baginya, esensi Idul Fitri adalah menggugurkan ego dan menyambung tali persaudaraan. Ia bahkan berkelakar bahwa menolak tamu hanya akan menunjukkan kesombongan, sesuatu yang sangat ia hindari.
“Ya namanya silaturahmi kan bagus, memperpanjang umur dan mempermudah rejeki. Insya Allah, saya tidak akan menyombongkan diri. Kalau pun saya sudah di PALI, mungkin sekitar hari keempat atau kelima,” tambahnya.
Sinyal Kemajuan PALI
Spekulasi pun bermunculan di tengah masyarakat. Apakah pertemuan ini hanya sebatas tradisi Lebaran, ataukah ada pembicaraan serius mengenai masa depan PALI? Mengingat Asgianto adalah pemimpin petahana dan Heri Amalindo adalah peletak fondasi pembangunan PALI, sinergi keduanya dianggap sebagai katalisator kemajuan.
Jika pertemuan ini benar-benar terjadi pada momentum Lebaran 1447 H nanti, maka ini akan menjadi potret politik yang sangat dewasa. Sebuah pesan kuat dikirimkan kepada publik: bahwa di atas segala kepentingan politik, kepentingan Bumi Serepat Serasan adalah yang utama.
Kini, warga PALI tinggal menunggu waktu. Apakah jabat tangan hangat di hari fitri itu akan benar-benar terwujud? Jika iya, maka Idul Fitri tahun ini bukan hanya merayakan kemenangan atas hawa nafsu, tapi juga kemenangan atas ego politik demi kemajuan daerah.
Laporan: Efran















