HPN 2026, Menjaga “Api” Peradaban Pers: Dari Romawi Kuno hingga Denyut Demokrasi di Kabupaten PALI

Sabtu, 7 Februari 2026 - 16:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HPN 2026: Ketua PGK Sumsel Firdaus Hasbullah bicara soal peradaban pers PALI
(Foto: FH)

HPN 2026: Ketua PGK Sumsel Firdaus Hasbullah bicara soal peradaban pers PALI (Foto: FH)

Oleh: Firdaus Hasbullah, Ketua PGK Sumatera Selatan

tintamerahNEWS -, Pers bukanlah sekadar tumpukan kertas atau barisan piksel di layar ponsel. Ia adalah peradaban yang lahir dari kebutuhan purba manusia: informasi, kontrol kekuasaan, dan pencatatan kebenaran. Jika sejarah mencatat Acta Diurna di era Romawi sebagai moyang pers, maka hari ini, di tahun 2026, fungsi tersebut tetap abadi meski mediumnya telah berevolusi dari batu menjadi data digital.

Selama kekuasaan masih ada, selama konflik kepentingan masih terjadi, dan selama keadilan masih dicari, pers akan terus hidup. Ia adalah “penjaga ingatan kolektif” sekaligus alat koreksi sosial. Di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), eksistensi pers menjadi krusial karena demokrasi tidak hanya diuji di pusat kekuasaan, melainkan di akar rumput daerah.

PALI dalam Fase Transisi: Kuantitas vs Kualitas

Melihat potret peradaban pers di Kabupaten PALI saat ini, kita menemukan wajah yang kontradiktif. Pers PALI tengah berada di fase transisi. Secara kuantitas, pertumbuhan media digital dan jumlah wartawan meningkat pesat. Akses informasi menjadi lebih luas dan cepat. Namun, pertumbuhan ini belum dibarengi dengan kualitas yang merata.

BACA JUGA  Nyawa Warga PALI Bukan Tumbal Logistik! LSM Serampuh Desak Dishub Hentikan Total Operasional PT MHP: SOP Hanya Macan Kertas!

Ada kesan stagnan, bahkan mundur di beberapa sisi. Hal ini bukan karena fungsi pers kehilangan relevansi, melainkan karena ekosistem pendukungnya yang belum kokoh. Profesionalisme belum menjadi standar bersama. Masih ada pemandangan di mana pers dijadikan sebatas “alat akses” kepentingan pribadi, bukan lagi “alat perjuangan” publik.

Disrupsi Digital: Pisau Bermata Dua

Era digital membawa demokratisasi informasi, namun di sisi lain mengaburkan standar profesionalitas. Di PALI, tantangan ke depan adalah bagaimana memperbesar kelompok wartawan idealis—mereka yang bekerja berdasarkan etika dan kompetensi—di tengah kepungan informasi instan.

Pemisahan tegas antara kerja jurnalistik dan kepentingan non-jurnalistik adalah harga mati. Kepuasan publik terhadap pers daerah tidak bisa dilihat secara hitam-putih, namun integritas individu wartawan akan menjadi penentu arah masa depan demokrasi lokal.

BACA JUGA  PALI Kian Tercekik: Bukan Sekadar Langka dan Mahal, Tabung Gas 3 Kg Diduga "Disunat"

HPN 2026: Lebih dari Sekadar Seremoni

Hari Pers Nasional (HPN) 2026 harus dimaknai sebagai “Lebaran” yang penuh refleksi, bukan sekadar rutinitas tahunan. Ini adalah momentum untuk menguatkan kembali ideologi pers.

Para pendiri pers Indonesia terdahulu berjuang dengan keberanian dan integritas di tengah keterbatasan fasilitas. Semangat inilah yang harus dihidupkan kembali di PALI. Pers harus kembali pada khittahnya: berpihak pada kepentingan publik.

Negara, Legislatif, dan Ekosistem Pers

Sesuai amanat UU No. 40 Tahun 1999, negara bertanggung jawab menjamin kemerdekaan pers sebagai hak asasi warga negara. Di tingkat daerah, tanggung jawab ini diterjemahkan melalui:

  1. Akses Informasi: Kebijakan publik yang terbuka dan tidak represif.
  2. Perlindungan Hukum: Menjamin wartawan bebas dari kriminalisasi saat menjalankan fungsi profesinya.
  3. Dukungan Kapasitas: Memfasilitasi peningkatan kualitas SDM tanpa mengintervensi isi berita.
BACA JUGA  Polsek Penukal Utara Polres PALI Salurkan Bansos Kepada Masyarakat

Begitu pula dengan legislatif. Pers yang kuat bukanlah ancaman bagi parlemen, melainkan penopang legitimasi demokrasi. Legislatif di PALI diharapkan tidak “alergi” terhadap kritik dan menjadikan pers sebagai mitra strategis untuk transparansi dan akuntabilitas.

Menatap Masa Depan

Meski pers di PALI seringkali mengikuti arus teknologi nasional namun tertinggal dalam hal sistem, peluang tetap terbuka lebar. Dengan strategi yang tepat dan penguatan kapasitas lokal, pers daerah justru bisa lebih dipercaya dibanding media nasional karena faktor kedekatan (proximity) dan pemahaman konteks lokal.

Menjaga peradaban pers di PALI berarti menjaga masa depan demokrasi kita. Karena ketika pers mati, maka kegelapan informasi akan menjadi awal dari runtuhnya keadilan.

 

Berita Terkait

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!
KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!
Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis
Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!
Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”
Bupati Asgianto: Selagi Ibumu Masih Hidup, Sayangi!
Restui Desakan Warga PALI, Gubernur Sumsel Sepakat Cabut Pergub No. 40/2017
Solidaritas Tanpa Batas: Insan Pers Bumi Serepat Serasan Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 13:30 WIB

Mitigasi Bencana Nol, FPR PALI Tuntut Pertamina Bertanggung Jawab: Jangan Korbankan Rakyat Demi Nafsu Industri!

Minggu, 20 September 2026 - 12:32 WIB

KELALAIAN BRUTAL PERTAMINA PENDOPO: Warga Talang Gas & RSA PALI Siap Gelar Aksi Akbar Jika Tuntutan Diabaikan!

Minggu, 20 September 2026 - 11:59 WIB

Urat Nadi Warga Talang Gas Disedot Tanpa Ampun: Company Man Rig TMMJ #05 Akhirnya Temui Warga, Desak Pengajuan Surat Tertulis

Minggu, 20 September 2026 - 11:12 WIB

Mitigasi Bencana Nol, Pertamina & TMMJ Justru Rampas Urat Nadi Warga Talang Gas, PALI: Sungai Penukal Kering Total, Publik Desak Sanksi Tegas!

Jumat, 18 September 2026 - 12:05 WIB

Perasaan Mendalam Bupati Asgianto Ditinggal Almarhumah Ibunda Hj. Salbiah: “Berat Sekali, Rasa Mau Lepas Kepala”

Berita Terbaru