PALI | tintamerah.co -, Gema takbir yang membubung di seantero Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, tahun ini membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar perayaan ritual. Di tengah dinamika pasca-kontestasi dan keberagaman pandangan, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten PALI melontarkan seruan penting: Idul Fitri harus menjadi titik balik untuk meruntuhkan tembok ego sektoral demi kemajuan daerah.
Ketua DPD PKS PALI, Sri Kusrini, menegaskan bahwa esensi kemenangan satu bulan penuh berpuasa adalah kembalinya kesadaran akan persatuan. Menurutnya, membangun “Bumi Serepat Serasan” tidak bisa dilakukan dengan memelihara perasaan lebih baik dari pihak lain.
Melebur Perbedaan dalam Bingkai Silaturahmi
Bagi PKS PALI, perbedaan penentuan awal Ramadan maupun Syawal bukanlah penghalang, melainkan rahmat yang sudah mengakar. Hal ini tercermin dari internal kader PKS sendiri yang datang dari berbagai latar belakang organisasi kemasyarakatan (Ormas), mulai dari NU, Muhammadiyah, hingga Persis.
“Di PKS, perbedaan itu keniscayaan. Kami membebaskan kader mengikuti keyakinan masing-masing karena kami bukan ormas keagamaan yang memiliki kewenangan penentuan tanggal. Selama ini, semua berjalan harmonis tanpa gesekan,” ujar Sri Kusrini dalam keterangan pers yang diterima tintamerah.co, Jumat (20/3/2026).
Semangat inklusivitas ini juga ia tunjukkan secara personal. Pada salat Idul Fitri tahun ini, Sri Kusrini melaksanakan ibadah di Masjid Syuhada Handayani, mendampingi sang suami yang bertugas sebagai Imam dan Khatib. Sementara itu, para kader PKS lainnya menyebar di lingkungan tempat tinggal masing-masing, membaur dengan masyarakat tanpa sekat instruksi yang kaku.
Geliat Ekonomi dan Spiritual PALI
Ada optimisme yang ditangkap PKS selama Ramadan 1447 H ini. Sri Kusrini menyoroti tingginya aktivitas ibadah dan sosial di masjid-masjid yang selalu ramai, berbanding lurus dengan geliat ekonomi di pasar-pasar lokal.
“Aktivitas ekonomi yang terus bergerak di PALI selama Ramadan adalah pertanda baik. Ini indikator bahwa masyarakat kita memiliki daya tahan dan semangat untuk maju. Tugas kita sekarang adalah menjaga momentum ini melalui sinergi antar-kader dan masyarakat,” tambahnya.
Meski tahun ini PKS PALI belum mendirikan posko mudik secara fisik karena banyak kader yang juga melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman, komunikasi tetap terjaga rapat melalui kanal digital dan silaturahmi langsung. Bahkan, Sri Kusrini membocorkan rencana strategis untuk tahun mendatang. “Mudah-mudahan tahun depan PKS sudah bisa membuka posko mudik di PALI untuk melayani warga.”
Menutup Buku Perbedaan Politik
Pesan paling tajam yang disampaikan dalam momentum Lebaran kali ini adalah terkait rekonsiliasi politik. Sri Kusrini mengajak seluruh elemen masyarakat dan tokoh politik di PALI untuk “turun minum” dari rivalitas.
“Kebersamaan dan persatuan adalah kunci utama agar pembangunan di Kabupaten PALI dapat berjalan dengan baik. Lupakanlah perbedaan pilihan politik. Saatnya kita bergandeng tangan untuk kemajuan PALI,” tegasnya.
Baginya, Idul Fitri adalah momen reset (pengaturan ulang) sosial. Hubungan yang sempat renggang karena gesekan pilihan harus segera dipulihkan melalui saling sapa, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Di akhir percakapan, Sri Kusrini menekankan bahwa kemajuan daerah mustahil terwujud jika energi habis digunakan untuk memelihara ego. Dengan semangat “Serepat Serasan”, PKS PALI mengajak seluruh warga untuk menjadikan Idul Fitri sebagai fondasi kekuatan kolektif menuju PALI yang lebih sejahtera.
Laporan: Efran















