PALI | tintamerah.co -, Di balik deru mesin dan jaringan pipa yang membentang di tanah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, tersimpan sebuah cerita tentang harapan yang nyaris padam, namun kembali menyala. Bagi banyak pemuda di pelosok desa sekitar wilayah operasi migas, mimpi mengenyam pendidikan tinggi seringkali terbentur tembok tebal bernama keterbatasan ekonomi. Namun, melalui komitmen berkelanjutan, tembok itu perlahan mulai runtuh.
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, melalui program Beasiswa Non-Ikatan Dinas, membuktikan bahwa investasi paling berharga di daerah operasi bukanlah sekadar pada sumur-sumur minyak, melainkan pada kualitas sumber daya manusianya.
Dari Bangku Kuliah ke Jantung Operasi
Kisah Merdi Sariansyah menjadi potret nyata keberhasilan program ini. Sepuluh tahun lalu, Merdi mungkin hanyalah satu dari sekian banyak anak muda PALI yang memandang menara rig dari kejauhan dengan penuh tanya. Berkat beasiswa hasil kolaborasi SKK Migas-PHR Zona 4 dengan Politeknik Akamigas Palembang, ia berhasil menuntaskan studi D3 Teknik Eksplorasi Produksi Migas pada 2017.
Perjalanan Merdi tidak berhenti di ijazah. Setelah sempat mengasah taji di perusahaan pertambangan raksasa, garis nasib membawanya pulang. Melalui seleksi experienced hire yang super ketat dan transparan, kini ia berdiri tegak sebagai “Perwira” Pertamina di PEP Adera Field—tempat yang dulu memberinya beasiswa.
“Alhamdulillah, ini sangat berdampak bagi hidup saya. Bahkan, saya bisa menyekolahkan dua adik saya hingga sarjana,” ungkap Merdi dalam keterangan pers yang diterima tintamerah.co, Kamis (9/3/2026).
Kisah Merdi adalah pesan kuat: beasiswa ini bukan sekadar bantuan biaya sekolah, melainkan mesin penggerak ekonomi keluarga (social elevator) yang mampu memutus rantai kemiskinan antar-generasi.
Komitmen yang Tak Padam
Sejak digulirkan pada 2014, program ini telah menjadi oase bagi putra-putri daerah di wilayah PEP Adera Field dan PEP Pendopo Field. Tahun 2026 ini, program tersebut kembali dibuka, menjanjikan peluang bagi 26 talenta baru yang berprestasi namun terkendala biaya.
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR Zona 4, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa ini adalah bagian dari strategi besar perusahaan untuk melibatkan masyarakat lokal dalam ketahanan energi nasional.
“Kami ingin mendorong anak-anak muda berprestasi di sekitar wilayah operasi untuk ikut serta berkontribusi bagi pembangunan daerah yang berkelanjutan,” ujar Iwan.
Seleksi Ketat, Hasil Akurat
Tidak ada “jalur belakang” dalam program ini. PHR Zona 4 menerapkan standar tinggi melalui seleksi yang transparan—mulai dari administrasi, psikotes, hingga medical check-up. Perusahaan juga tidak melepas begitu saja para penerima beasiswa; pendampingan dilakukan secara intensif selama masa pendidikan untuk memastikan mereka siap bersaing di industri profesional.
Kini, pintu peluang kembali diketuk. Bagi anak-anak muda PALI yang memiliki tekad baja namun saku yang tipis, pesan Merdi Sariansyah mungkin bisa menjadi pemantik:
“Buat adik-adik yang memiliki tekad kuat untuk maju, kalian memiliki masa depan dan harapan.”
Di tengah dinamika industri migas di Sumatera Selatan, beasiswa ini adalah bukti bahwa di mana ada energi yang dikelola, di situ pula harus ada kehidupan yang diberdayakan. PALI tidak hanya menjadi lumbung energi bagi negara, tetapi juga sedang menyemai tunas-tunas unggul yang siap memimpin masa depan.
Sumber: SKK Migas Sumsel | Editor: tintamerah.co















