PALI | tintamerah.co -, Di bawah langit cerah Lapangan Sanggar Pramuka Gelora November Pertamina Pendopo, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan ratusan tubuh paruh baya bergerak serentak mengikuti hentakan musik. Minggu pagi, 7 Juni 2026, bukan sekadar ruang rekreasi biasa bagi komunitas Lembaga Lansia Indonesia (LLI) PALI. Ini adalah panggung perlawanan terhadap rasa jompo, sebuah manifesto kesehatan jasmani dan rohani yang digerakkan secara mandiri tanpa sokongan modal birokrasi.
Lina Friantini, instruktur senam LLI yang setia mengomandoi gerakan ini, berbicara blak-blakan kepada tintamerah.co di sela-sela agenda Sunday Morning tersebut. Dengan nada tegas dan lugas, ia membongkar realita mencengangkan di balik konsistensi gerakan yang telah mengakar selama lebih dari setengah dekade ini.
“Kami mengajak masyarakat untuk sehat dan terus beraktivitas. Lansia jangan mentang-mentang sudah lanjut usia lalu hanya diam di rumah. Kami butuh refreshing, kami butuh sehat jasmani dan rohani,” cetus Lina dengan sorot mata penuh semangat.
Mandiri Lima Tahun, Sentuhan Pemerintah Nihil
Gerakan senam sehat ini bukan aktivitas musiman. Komunitas LLI di Gelora November ini telah eksis dan berjalan konsisten selama lebih dari lima tahun, bahkan kini merangkak menuju tahun keenam. Setiap hari Minggu, tanpa absen, ratusan peserta memadati lapangan. Antusiasme masyarakat terus melonjak tajam hingga estimasi peserta mingguan kini stabil menyentuh angka seratus lima puluh orang lebih.
Namun, di balik angka partisipasi yang masif tersebut, tersimpan fakta ironis. Seluruh operasional kegiatan krusial ini murni bertumpu pada swadaya dan sumbangan sukarela masyarakat.
Saat dikonfirmasi mengenai dukungan dari pihak luar, Lina Friantini menjawab dengan lugas tanpa keraguan. Ia menegaskan bahwa sejauh ini, baik dari pihak pemerintah daerah, korporasi swasta, maupun lembaga formal lainnya, belum ada satu pun yang turun tangan memberikan bantuan atau menyokong kegiatan ini.
Selama lima tahun lebih, kebutuhan operasional mulai dari penyediaan air minum, perawatan area, hingga peremajaan perangkat pengeras suara (sound system) dibiayai secara mandiri dari kantong relawan dan sumbangan sukarela peserta. Ironisnya, fasilitas sound system yang menjadi jantung aktivitas senam kini kondisinya sudah mulai rusak dan sering mengalami gangguan teknis (nge-hang). Padahal, alat tersebut merupakan modal utama untuk membakar semangat hidup sehat para lansia setiap minggu pagi.
Lina menyampaikan aspirasi mendasar dari para ibu-ibu lansia. Alih-alih menuntut proyek bernilai fantastis, mereka hanya mendambakan perhatian nyata yang sederhana namun berdampak langsung, seperti bantuan peremajaan unit sound system baru yang layak serta seragam senam agar komunitas ini tampak solid dan terorganisir.
Secara khusus, Lina juga melayangkan pesan terbuka yang ditujukan kepada Kepala Dinas Koperasi dan UKM PALI, Raden Abdurrohman, serta Firdaus Hasbullah. Beliau berdua diharapkan sesekali bersedia meluangkan waktu untuk memantau langsung dan hadir di tengah-tengah kepungan para lansia di Gelora November ini. Kehadiran para tokoh dinas dan tokoh masyarakat ini dinilai penting, tidak hanya untuk memberikan dukungan moril, tetapi juga untuk menyerap langsung energi positif dan aspirasi riil dari bawah, sembari ikut serta menikmati aktivitas sehat di pagi hari.
Menyambung Misi Utama Sunday Morning PALI
Gerakan mandiri yang digelorakan oleh komunitas senam LLI di Gelora November ini sejatinya menjadi kepingan tak terpisahkan dari denyut nadi ekonomi lokal. Laporan tintamerah.co sebelumnya telah mengupas tuntas paparan Kepala Dinas Koperasi dan UKM PALI terkait misi utama dari program Sunday Morning di wilayah Bumi Serepat Serasan ini.
Pemerintah melalui Dinas Koperasi dan UKM menegaskan bahwa esensi dari keramaian pagi hari seperti ini adalah untuk memutar roda ekonomi daerah secara riil. Aktivitas berkumpulnya masa dalam skala besar secara otomatis menjaga daya beli masyarakat di tingkat akar rumput tetap stabil dan bergairah. Lebih jauh, agenda mingguan ini dirancang sebagai benteng pertahanan ekonomi agar perputaran uang dari sektor kuliner dan produk lokal PALI tidak lari atau bocor ke luar daerah.
Sayangnya, potensi kerumunan massa yang masif dan konsisten dari komunitas senam LLI ini terkesan berjalan sendiri tanpa integrasi dan fasilitasi taktis dari instansi terkait. Gerakan senam sehat yang secara nyata berhasil mengumpulkan ratusan orang setiap minggu ini merupakan pasar potensial sekaligus mesin penggerak utama bagi para pelaku UMKM kuliner yang berjualan di sekitar lapangan Sanggar Pramuka Gelora November. Jika sektor kesehatannya dibiarkan berjuang sendiri dengan alat seadanya yang mulai rusak, maka rantai pasok ekonomi kreatif dan kuliner lokal yang menggantungkan perputarannya pada keramaian ini juga terancam melemah.
Menutup perbincangannya, Lina Friantini kembali menggugah kesadaran kolektif masyarakat PALI, khususnya kaum perempuan dan pemuda. Ia menyerukan agar seluruh elemen masyarakat terus memilih jalur aktivitas yang positif, produktif, dan menyehatkan guna membangun ketahanan fisik serta mental di era modern.
“Mari kita bahagia lewat aktivitas senam. Ambil kegiatan yang positif agar kita semua sehat, baik jasmani maupun rohani,” pungkas Lina.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















