OPINI: Menggugat Syahwat Pembungkaman; Memaknai Kebebasan Bicara di Tanah PALI

Minggu, 22 Maret 2026 - 23:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MENAGIH DEMOKRASI: Spanduk bertuliskan kebebasan pers dan hak bicara menjadi pengingat di tengah dinamika politik Kabupaten PALI. Opini terbaru yang menyadur pemikiran Dr. Subiyanto Pudin menyoroti pentingnya pemimpin menjaga iklim demokrasi dan menghindari

MENAGIH DEMOKRASI: Spanduk bertuliskan kebebasan pers dan hak bicara menjadi pengingat di tengah dinamika politik Kabupaten PALI. Opini terbaru yang menyadur pemikiran Dr. Subiyanto Pudin menyoroti pentingnya pemimpin menjaga iklim demokrasi dan menghindari "mentalitas pembungkaman" terhadap suara kritis masyarakat serta insan pers. (Dok/Dr. Subiyanto Pudin)

tintamerahNEWS -, Hak Asasi Manusia (HAM) bukanlah “hadiah” dari penguasa kepada rakyatnya. Ia adalah anugerah Ilahi yang melekat erat sejak tangisan pertama seorang bayi pecah di muka bumi. Namun, apa yang terjadi di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, belakangan ini justru mengusik nalar publik: Apakah kebebasan berbicara (freedom of speech) sedang coba “dijinakkan” oleh tangan kekuasaan?

Sorotan tajam tertuju pada pernyataan Bupati PALI, Asgianto, dalam forum silaturahmi media pada 9 Maret 2026 lalu. Meski dikemas dalam balutan canda atau keseriusan yang ambigu, ucapan seorang pejabat publik nomor satu bukanlah angin lalu. Di mata publik, setiap kata yang keluar dari lisan seorang pemimpin adalah Sabdo Pandito Ratu—memiliki kekuatan pengaruh yang mampu menciptakan iklim intimidasi atau justru mencerahkan.

BACA JUGA  Cekik Leher Wartawan, Oknum Kades Tanjung Kurung dilaporkan Ke Polres PALI

Ancaman “Mentalitas Firaun” di Era Modern

Kebebasan berbicara adalah hak inalienable—hak yang tidak dapat dicabut. Dr. Subiyanto Pudin secara keras mengingatkan bahwa upaya membungkam suara kritis, terutama terhadap insan pers, adalah bentuk perilaku “Jahiliah” yang mengingatkan kita pada jejak hitam para diktator dunia, mulai dari Firaun hingga penguasa otoriter lainnya.

Sejarah telah membuktikan: penguasa yang anti-kritik dan gemar memelihara budaya Hate Feeling terhadap pers cenderung berakhir pada kehancuran. Pers bukanlah musuh; ia adalah watchdog (anjing penjaga) demokrasi yang memastikan jalannya pemerintahan tidak terjebak dalam arus “Asal Bapak Senang” (ABS).

Meritokrasi yang Tergadaikan?

Bupati PALI kerap mendengungkan visi Meritokrasi—sebuah sistem yang menjanjikan penempatan sosok berdasarkan kompetensi dan integritas (the right man on the right place). Namun, visi ini akan menjadi pepesan kosong jika pemerintahannya justru alergi terhadap transparansi.

BACA JUGA  Puskesmas Abab Disoal Warga, Irwan ST : Pihaknya Akan Panggil Dinas Kesehatan PALI

Bagaimana mungkin pembangunan yang efektif bisa tercapai jika pilar-pilar demokrasi dirobohkan dengan intimidasi? Jika Bupati konsisten dengan Meritokrasi, maka insan pers profesional seharusnya dipeluk sebagai mitra strategis untuk memonitor kinerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD), bukan malah diposisikan sebagai ancaman yang harus ditekan.

Kepemimpinan “Dirigen”, Bukan “Intimidator”

Pembangunan PALI ke depan tidak boleh lagi bertumpu pada pengkultusan figur. Memasuki momentum Idul Fitri 1447 H, sudah saatnya ada revolusi mindset.

Pemimpin PALI masa depan harus tampil secara Egaliter—menjunjung kesetaraan dan meruntuhkan hierarki kaku. Dr. Subiyanto menekankan bahwa fungsi leadership seharusnya menyerupai “Dirigen Orkestra Pembangunan”. Ia bertugas menyatukan berbagai instrumen—termasuk suara sumbang rakyat yang membayar pajak—menjadi sebuah simfoni pembangunan yang berbasis bukti (evidence-based), bukan berdasarkan ego kekuasaan.

BACA JUGA  Borok Menahun di Pertamina Adera: Antara Monopoli Proyek dan Skandal "Titipan" yang Menggurita

Penutup: Rakyat Adalah Pemilik Suara

Pejabat publik wajib mendengar, karena rakyat telah menunaikan kewajibannya membayar pajak. Melawan kodrat kebebasan berbicara adalah bentuk perlawanan terhadap ketetapan Tuhan.

Kabupaten PALI berada di titik balik. Apakah ia akan maju dengan napas demokrasi yang sehat, atau justru mundur ke era kegelapan di mana kritik dianggap sebagai pengkhianatan? Publik menagih komitmen nyata, bukan sekadar orasi di atas podium. Jangan sampai PALI menjadi monumen kegagalan demokrasi hanya karena pemimpinnya gagal menjinakkan rasa takutnya terhadap kebenaran.

Penulis: Dr. Subiyanto Pudin, S.Sos., SH., MKn., CLA | Editor: tintamerah.co

Berita Terkait

Malam Ini, H. Ubaidillah Resmi Dilantik Ketua Umum PAN di Palembang
Terang Benderang di Usia 13 Tahun: PLN Pendopo Kawal Suksesnya Perayaan HUT PALI Tanpa Kedip
Dinkop UKM PALI Fokus Tingkatkan Daya Saing UMKM di 2026, Ini Arah Kebijakannya
Jawab Kritik Legislator dan Keluhan Warga, PLN Pendopo Mulai Pasang Tiang Listrik di Rejosari
Firdaus Hasbullah Tegaskan Cik Ujang Sosok Pemersatu, Layak Kembali Pimpin Demokrat Sumsel
Kepala Damkar PALI Dijadwalkan Hadir Langsung di Pembukaan NFSC 2026 Palembang
Lepas Tim Uji Skill ke Tingkat Nasional, Rizal Pahlefi Berharap Damkar PALI Harumkan Nama Daerah di Kancah Nasional
PALI Siap Unjuk Gigi di Kompetisi Pemadam Kebakaran Nasional 2026 di Palembang

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 17:04 WIB

Malam Ini, H. Ubaidillah Resmi Dilantik Ketua Umum PAN di Palembang

Kamis, 30 April 2026 - 16:07 WIB

Terang Benderang di Usia 13 Tahun: PLN Pendopo Kawal Suksesnya Perayaan HUT PALI Tanpa Kedip

Kamis, 30 April 2026 - 15:43 WIB

Dinkop UKM PALI Fokus Tingkatkan Daya Saing UMKM di 2026, Ini Arah Kebijakannya

Kamis, 30 April 2026 - 15:02 WIB

Jawab Kritik Legislator dan Keluhan Warga, PLN Pendopo Mulai Pasang Tiang Listrik di Rejosari

Selasa, 28 April 2026 - 11:39 WIB

Firdaus Hasbullah Tegaskan Cik Ujang Sosok Pemersatu, Layak Kembali Pimpin Demokrat Sumsel

Berita Terbaru