tintamerahNEWS -, Senin sore (9/3/2026), suasana di Rumah Singgah PAN Pengabuhan tampak berbeda. Tidak ada deru mesin politik yang kaku atau perdebatan kebijakan yang biasanya mewarnai ruang-ruang pertemuan di sana. Yang terdengar justru riuh rendah suara tawa malu-malu dari puluhan anak yatim yang datang jauh-jauh dari pelosok Kecamatan Abab.
Hari itu, Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD PALI, sengaja meluangkan waktu di tengah padatnya agenda legislatif untuk satu misi sederhana namun bermakna: Berbagi dan Berdoa.
Simpul Kepedulian dari Abab
Kehadiran anak-anak yatim ini bukan tanpa koordinasi yang matang. Mereka didatangkan langsung dari wilayah Kecamatan Abab dan sekitarnya, didampingi oleh kader-kader partai yang menjemput bola hingga ke desa-desa. Bagi Ketua DPRD PALI, menjangkau wilayah Abab adalah bagian dari komitmen untuk memastikan perhatian tidak hanya terpusat di ibu kota kabupaten.
“Alhamdulillah, hari ini kami keluarga besar DPD PAN Kabupaten PALI mengundang anak-anak yatim kita, khususnya dari wilayah Kecamatan Abab dan sekitarnya, untuk berbuka bersama sekaligus berbagi,” ungkapnya dengan nada syukur.
Langkah ini seolah menegaskan bahwa Rumah Singgah bukan sekadar simbol politik, melainkan rumah bagi aspirasi dan kepedulian sosial yang nyata.
Rangkaian Khidmat: Dari Berbagi hingga Doa Bersama
Agenda sore itu disusun mengalir tanpa sekat protokol yang kaku. Dimulai dengan pemberian santunan sebagai bentuk tali asih, acara kemudian berlanjut ke inti kegiatan yang paling menyentuh: Doa Bersama.
Di bawah atap Rumah Singgah, sang Ketua DPRD tampak duduk bersila, membaur tanpa jarak dengan anak-anak yatim. Suasana berubah khidmat saat lantunan doa mulai membubung ke langit. Ada harapan besar yang tersirat di sana—doa untuk keberkahan Kabupaten PALI, keselamatan masyarakat, dan tentu saja masa depan anak-anak yatim tersebut.
“Rangkaian kegiatannya kita buat sederhana tapi berkesan. Ada sesi berbagi, lalu doa bersama yang paling utama, baru kita tutup dengan buka puasa bersama. Ini adalah momen untuk kita semua merunduk sejenak,” tambahnya.
Pesan di Balik Berbuka
Bagi seorang tokoh publik yang memegang pucuk pimpinan di legislatif PALI, momen seperti ini adalah cara untuk tetap “membumi”. Di saat dinamika pemerintahan seringkali menuntut ketegasan, acara di Rumah Singgah ini menunjukkan sisi humanis seorang pemimpin yang tak ingin melupakan akar rumputnya.
Kegiatan ini bukan hanya tentang memuaskan dahaga setelah seharian berpuasa, melainkan tentang memberi ruang bagi mereka yang seringkali terlupakan dalam hiruk-pikuk pembangunan daerah.
Senin malam itu, saat adzan maghrib berkumandang di Pengabuhan, sepotong kurma dan segelas air hangat menjadi simbol kemenangan. Bukan kemenangan politik, melainkan kemenangan hati yang berhasil berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim dari Bumi Abab.
Penulis: ej@ | Editor: efran















