tintamerahNEWS -, Di sebuah ruang pertemuan kampus yang dipenuhi kepulan diskusi hangat pada Jumat (20/2/2026), sekelompok anak muda tampak serius membedah masa depan tanah kelahiran mereka. Mereka adalah para mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa PALI se-Jabodetabek (Formapali Jabodetabek), perantau intelektual yang meski raga berada di hiruk-pikuk Ibu Kota, hati mereka tetap tertambat di Bumi Serepat Serasan.
Diskusi bertajuk refleksi satu tahun kepemimpinan duet Asgianto-Iwan Tuaji ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul. Ini adalah momen “sidang rakyat” versi mahasiswa untuk menakar sejauh mana janji politik bertransformasi menjadi kesejahteraan nyata.
Mengapresiasi Fondasi, Menagih Inovasi
Ulin Puspa, Koordinator Formapali Jabodetabek, membuka pembicaraan dengan nada yang objektif. Ia tak menampik adanya perubahan fisik yang kasat mata.
“Kami menghargai capaian setahun terakhir. Infrastruktur dasar mulai merata, layanan publik di beberapa unit fasilitas pemerintah pun terasa lebih baik,” ungkapnya di tengah forum yang dihadiri para mahasiswa dari berbagai Kampus tersebut.
Namun, bagi para mahasiswa, membangun sebuah daerah tak cukup hanya dengan menghamparkan aspal atau mendirikan gedung. Ada “ruh” pembangunan yang dinilai masih perlu dipompa: pemberdayaan manusia dan transparansi.
Rekomendasi dari Perantauan
Ada kegelisahan kolektif yang mencuat dalam diskusi tersebut, terutama mengenai nasib pemuda lokal dan tata kelola pemerintahan. Formapali Jabodetabek pun menyodorkan “oleh-oleh” berupa rekomendasi strategis bagi sang Bupati.
Salah satu poin krusial adalah desakan penguatan sistem meritokrasi. Mahasiswa ingin melihat birokrasi di PALI diisi oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya, bukan berdasarkan kedekatan. Dengan sistem merit yang kuat, pelayanan publik diharapkan bisa naik kelas menjadi lebih profesional.
Selain itu, mereka menyoroti perlunya:
- Ruang Inovasi Kreatif: Wadah bagi pemuda PALI untuk berkarya dan menciptakan lapangan kerja baru.
- Digitalisasi UMKM: Mendorong ekonomi lokal agar tak gagap teknologi dan mampu bersaing di pasar nasional.
- Transparansi Anggaran: Menuntut keterbukaan informasi agar masyarakat merasa memiliki dan terlibat dalam setiap rupiah yang dibelanjakan daerah.
Menjaga Nyala Api Pengabdian
“Kami melihat masih banyak ruang perbaikan, terutama soal bagaimana pemuda dilibatkan dalam perencanaan kebijakan,” cetus salah satu peserta diskusi dengan penuh semangat.
Bagi mahasiswa Jabodetabek ini, kritik adalah bentuk cinta paling tulus kepada daerah. Mereka ingin memastikan bahwa kepemimpinan di PALI tidak hanya responsif di atas kertas, tapi juga benar-benar berorientasi pada kemajuan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan dan kesehatan yang mumpuni.
Malam itu, diskusi ditutup dengan komitmen yang bulat. Formapali Jabodetabek berjanji akan terus menjadi “penjaga nyala api” yang mengawal setiap kebijakan pemerintah. Sebab bagi mereka, satu tahun adalah awal, dan perjalanan menuju PALI yang sejahtera masih membutuhkan mata-mata kritis yang tetap terjaga.















