PALI | tintamerah.co -, Gema semangat kemerdekaan di Bumi Serepat Serasan semakin membara. Menjelang puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 pada 17 Agustus 2026, Lapangan Stadion Gelora November, Pendopo, menjadi pusat perhatian. Bukan sekadar persiapan derap langkah tegap Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), nuansa magis dan historis turut dihadirkan oleh tim sanggar binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
Di tengah ketatnya jadwal gladi bersih yang berlangsung pada Sabtu (15/8/2026), tim sanggar binaan Disbudpar PALI mencuri perhatian dengan suguhan tari tradisional yang mendalam: Tari Ngayek Tapak Burung. Tarian yang berasal dari Desa Tempirai ini bukan sekadar rangkaian gerak estetis, melainkan representasi napas perjuangan rakyat yang sarat akan pesan filosofis.
Mengangkat Legenda Lokal sebagai Inspirasi Perjuangan
Kabid Pariwisata Disbudpar PALI, Teguh Eko Sutrisno, saat diwawancarai di sela-sela gladi bersih, menegaskan bahwa pemilihan Tari Ngayek Tapak Burung adalah upaya sadar untuk membumikan narasi sejarah lokal ke dalam panggung nasional. Menurut Teguh, tarian ini mengisahkan legenda masyarakat Danau Burung di masa lampau yang bahu-membahu berjuang mempertahankan tanah ulayat mereka dari serbuan para penjarah lahan.
“Kami mengambil tema perjuangannya. Filosofi tarian ini adalah tentang kegigihan masyarakat dalam berjuang mempertahankan hak dan tanahnya. Semangat perjuangan inilah yang sangat relevan dan selaras dengan tema kemerdekaan RI ke-81,” ujar Teguh dengan lugas.
Teguh menambahkan bahwa tujuannya lebih dari sekadar hiburan. Ia berharap, melalui tari ini, generasi muda dan masyarakat umum dapat menyadari bahwa di setiap pelosok desa di PALI tersimpan kekayaan legenda perjuangan yang perlu dilestarikan. “Pesan yang ingin kami sampaikan, ternyata di desa-desa itu banyak sekali legenda perjuangan yang harus diangkat. Setiap tahun harus ada legenda-legenda baru yang ditampilkan agar bisa menginspirasi masyarakat PALI secara umum untuk terus berjuang dalam pembangunan dan kemajuan daerah,” tegasnya.
Kesiapan Matang Menuju Detik-Detik Proklamasi
Mengenai persiapan tim, Teguh mengungkapkan bahwa progres latihan sudah mencapai 80 persen. Gladi bersih yang dilakukan hari ini difokuskan pada pemantapan blocking area di lapangan untuk memastikan harmonisasi gerakan dengan luasnya stadion. Tim dijadwalkan kembali melakukan pemantapan gerakan pada Minggu pagi untuk memastikan penampilan yang paripurna pada hari puncak nanti.
Penampilan tari ini menjadi orkestrasi yang sempurna bagi rangkaian persiapan besar di Kabupaten PALI. Sebelumnya, semangat patriotisme telah terpancar dari 35 anggota Paskibraka PALI yang telah melewati proses karantina intensif dan latihan disiplin tinggi. Kesiapan fisik dan mental pasukan ini telah dipastikan secara optimal oleh Kepala Kesbangpol PALI, Dedi Ahmadi.
Bahkan, kualitas dan tanggung jawab setiap individu dalam pasukan telah diuji secara ketat, sebagaimana ditegaskan oleh Serka Novianto yang mengawal langsung kedisiplinan dan kesiapan pasukan di lapangan. Sinergitas ini juga ditunjukkan melalui koordinasi yang solid antara instansi, mulai dari jadwal gladi yang ketat hingga kepercayaan yang diberikan kembali kepada Iptu Freddy sebagai Komandan Upacara, yang memandang tugas ini bukan hanya sebagai seremonial, namun sebagai kehormatan dan amanah besar bagi persatuan bangsa.
Dengan kesiapan pasukan Paskibraka yang telah menyentuh angka 99 persen, serta hadirnya Tari Ngayek Tapak Burung sebagai pengingat akan akar perjuangan masyarakat lokal, Kabupaten PALI siap menampilkan upacara bendera yang sakral, megah, dan penuh makna pada 17 Agustus mendatang. Bumi Serepat Serasan pun kini menanti detik-detik sakral pengibaran Sang Saka Merah Putih dengan penuh kebanggaan.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















