tintamerahNES -, Malam ini, Selasa (24/3/2026), udara di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) terasa sedikit lebih sejuk, namun atmosfer politiknya justru memanas dengan cara yang tak terduga. Di bawah lampu temaram Guest House Rumah Dinas Bupati, sebuah pemandangan langka tersaji: Heri Amalindo, sang “Bapak Pembangunan” PALI, melangkahkan kaki menyambangi juniornya, Bupati Asgianto.
Judul besarnya sederhana namun menampar: Yang Tua Ngalah.
Bukan Sekadar Silaturahmi, Ini Pernyataan Sikap
Dalam budaya politik kita yang sering kali kaku dan penuh gengsi, langkah Heri Amalindo adalah anomali yang menyegarkan. Biasanya, yang muda yang sowan, yang junior yang datang menyembah. Namun malam ini, hierarki formalitas itu runtuh. Heri Amalindo menunjukkan bahwa jabatan boleh berganti, namun kepentingan daerah harus tetap menjadi panglima.
Langkah kaki Heri menuju kediaman Asgianto bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, ini adalah demonstrasi kekuatan mental. Ia sedang mengirim pesan kuat kepada publik: bahwa egonya tidak lebih besar dari masa depan PALI.
Estafet yang Sempat Tegang?
Kita tahu, transisi kekuasaan jarang sekali berjalan semulus sutra. Ada riak, ada faksi, dan ada residu kompetisi yang sering kali membekas. Kedatangan Heri ke markas Asgianto adalah upaya “pembersihan” sisa-sisa ketegangan tersebut.
- Bagi Asgianto: Ini adalah legitimasi besar. Diakui oleh pendahulu adalah suntikan moral untuk mengeksekusi kebijakan-kebijakan berani.
- Bagi Heri Amalindo: Ini adalah legacy. Ia memastikan bahwa pondasi yang ia bangun tidak diruntuhkan oleh ego suksesi, melainkan diperkuat oleh sinergi.
“Politik adalah seni kemungkinan, namun malam ini, politik di PALI bertransformasi menjadi seni kerendahan hati.”
Pesan untuk Para ‘Punggawa’ Politik
Pertemuan malam ini di Guest House harusnya membuat para pendukung di akar rumput berhenti saling sikut. Jika yang di atas saja bisa duduk melingkar sambil menyeruput kopi, mengapa yang di bawah masih sibuk memelihara benci?
Heri Amalindo sedang mengajarkan kuliah umum tentang Etika Kekuasaan. Bahwa menjadi “tua” bukan soal usia atau durasi menjabat, tapi soal siapa yang lebih dulu mampu menekan ego demi harmoni. Ia “mengalah” untuk menang di hati rakyat.
Lugas dan Tegas: Apa Selanjutnya?
Rakyat PALI tidak butuh sekadar foto jabat tangan yang estetik. Rakyat butuh sinkronisasi. Pertemuan ini harus melahirkan kerja sama konkret, bukan sekadar basa-basi politik menjelang sirkus pemilu berikutnya.
Asgianto harus cukup cerdas menyerap ilmu dari sang senior, dan Heri harus cukup ikhlas membiarkan sang junior memimpin dengan caranya sendiri.
Kesimpulannya: Malam ini, PALI menang. Karena di teras rumah dinas itu, dendam politik mati kutu, dan kedewasaan bertahta. Yang tua ngalah, yang muda hormat. Sebuah harmoni yang mahal harganya.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah















