Yang Tua Ngalah’: Kedewasaan Politik di Dalam Rumah Dinas PALI

Selasa, 24 Maret 2026 - 23:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

"Yang Tua Ngalah, Yang Muda Hormat." Momen penuh kehangatan saat tokoh pembangunan PALI, Heri Amalindo, menyambangi Bupati Asgianto di Guest House Rumah Dinas, Selasa (24/3/2026). Pertemuan ini menjadi simbol runtuhnya ego politik demi sinergi dan masa depan Bumi Serepat Serasan yang lebih harmonis. (Dok/ Firman Irpama)

tintamerahNES -, Malam ini, Selasa (24/3/2026), udara di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) terasa sedikit lebih sejuk, namun atmosfer politiknya justru memanas dengan cara yang tak terduga. Di bawah lampu temaram Guest House Rumah Dinas Bupati, sebuah pemandangan langka tersaji: Heri Amalindo, sang “Bapak Pembangunan” PALI, melangkahkan kaki menyambangi juniornya, Bupati Asgianto.

Judul besarnya sederhana namun menampar: Yang Tua Ngalah.

Bukan Sekadar Silaturahmi, Ini Pernyataan Sikap

Dalam budaya politik kita yang sering kali kaku dan penuh gengsi, langkah Heri Amalindo adalah anomali yang menyegarkan. Biasanya, yang muda yang sowan, yang junior yang datang menyembah. Namun malam ini, hierarki formalitas itu runtuh. Heri Amalindo menunjukkan bahwa jabatan boleh berganti, namun kepentingan daerah harus tetap menjadi panglima.

BACA JUGA  Iwan Tuaji: Kepemimpinan Kami Nanti Tidak Bisa Lepas dari Peran Pers

Langkah kaki Heri menuju kediaman Asgianto bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, ini adalah demonstrasi kekuatan mental. Ia sedang mengirim pesan kuat kepada publik: bahwa egonya tidak lebih besar dari masa depan PALI.

Estafet yang Sempat Tegang?

Kita tahu, transisi kekuasaan jarang sekali berjalan semulus sutra. Ada riak, ada faksi, dan ada residu kompetisi yang sering kali membekas. Kedatangan Heri ke markas Asgianto adalah upaya “pembersihan” sisa-sisa ketegangan tersebut.

  • Bagi Asgianto: Ini adalah legitimasi besar. Diakui oleh pendahulu adalah suntikan moral untuk mengeksekusi kebijakan-kebijakan berani.
  • Bagi Heri Amalindo: Ini adalah legacy. Ia memastikan bahwa pondasi yang ia bangun tidak diruntuhkan oleh ego suksesi, melainkan diperkuat oleh sinergi.
BACA JUGA  Menagih Janji di Kubangan Lumpur: Dinas PUTR PALI Akhirnya Turun Gunung ke Tempirai, Hanya Sekadar Formalitas atau Solusi Nyata?

“Politik adalah seni kemungkinan, namun malam ini, politik di PALI bertransformasi menjadi seni kerendahan hati.”

Pesan untuk Para ‘Punggawa’ Politik

Pertemuan malam ini di Guest House harusnya membuat para pendukung di akar rumput berhenti saling sikut. Jika yang di atas saja bisa duduk melingkar sambil menyeruput kopi, mengapa yang di bawah masih sibuk memelihara benci?

Heri Amalindo sedang mengajarkan kuliah umum tentang Etika Kekuasaan. Bahwa menjadi “tua” bukan soal usia atau durasi menjabat, tapi soal siapa yang lebih dulu mampu menekan ego demi harmoni. Ia “mengalah” untuk menang di hati rakyat.

Lugas dan Tegas: Apa Selanjutnya?

Rakyat PALI tidak butuh sekadar foto jabat tangan yang estetik. Rakyat butuh sinkronisasi. Pertemuan ini harus melahirkan kerja sama konkret, bukan sekadar basa-basi politik menjelang sirkus pemilu berikutnya.

BACA JUGA  Dongkrak PAD Lewat BUMD, Pemkab PALI Siap Ambil Alih Sumur Minyak Non-Aktif Pertamina Berdasarkan Permen 14

Asgianto harus cukup cerdas menyerap ilmu dari sang senior, dan Heri harus cukup ikhlas membiarkan sang junior memimpin dengan caranya sendiri.

Kesimpulannya: Malam ini, PALI menang. Karena di teras rumah dinas itu, dendam politik mati kutu, dan kedewasaan bertahta. Yang tua ngalah, yang muda hormat. Sebuah harmoni yang mahal harganya.

 

Penulis: Efran | Editor: tintamerah

 

Berita Terkait

Firdaus Hasbullah: Di Balik Survei, Aspirasi Rakyat PALI adalah Harga Mati
Menembus Tirai Pendidikan PALI: Efran Bawa Misi Transparansi ke Sekretariat Dewan Pendidikan
Sekda Kartika Yanti Tertular Bupati Asgianto: Komunikasi Publik Pemkab PALI Alami Pembusukan Moral, Kangkangi Perintah dan Sembunyi dari Wartawan
DI BALIK SENYAP BUPATI ASGIANTO: Bukan Bersembunyi, Menjemput Ratusan Miliar untuk PALI yang Diguncang Badai
Skandal Kelangkaan Gas Melon di PALI: Tokoh Masyarakat Muktar Jayadi Tuding Eksekutif Hingga Aparat Hukum Mandul Berjemaah Menghadapi Gerilya Mafia Energi
Ketukan Pintu di Ujung Senja: Langkah Nyata Lurah Talang Ubi Timur Memeluk Warga yang Rapuh
PALI KACAU: Birokrasi Tiarap, Sinergi Forkopimda Ambyar, Rakyat Menjerit di Tengah Tekanan Fiskal!
Pasca Iwan Tuaji Diamankan Kejati Sumsel: Bupati Asgianto ‘Menghilang’, Prokopim Sebut Dinas Luar ke Jakarta

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 17:31 WIB

Firdaus Hasbullah: Di Balik Survei, Aspirasi Rakyat PALI adalah Harga Mati

Sabtu, 13 Juni 2026 - 13:53 WIB

Menembus Tirai Pendidikan PALI: Efran Bawa Misi Transparansi ke Sekretariat Dewan Pendidikan

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:49 WIB

Sekda Kartika Yanti Tertular Bupati Asgianto: Komunikasi Publik Pemkab PALI Alami Pembusukan Moral, Kangkangi Perintah dan Sembunyi dari Wartawan

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:43 WIB

DI BALIK SENYAP BUPATI ASGIANTO: Bukan Bersembunyi, Menjemput Ratusan Miliar untuk PALI yang Diguncang Badai

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:00 WIB

Skandal Kelangkaan Gas Melon di PALI: Tokoh Masyarakat Muktar Jayadi Tuding Eksekutif Hingga Aparat Hukum Mandul Berjemaah Menghadapi Gerilya Mafia Energi

Berita Terbaru