PALI | tintamerah.co -, Jeritan akibat “cekikan” harga Elpiji 3 kg yang melambung tinggi dan langka di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, kini tidak lagi hanya dimonopoli oleh kalangan emak-emak rumah tangga. Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi motor penggerak ekonomi riil di Bumi Serepat Serasan kini ikut menjerit histeris dan berada di ambang kebangkrutan akibat ketidakpastian pasokan gas subsidi tersebut.
Kondisi miris ini terpantau nyata di kawasan Sunday Morning (Sunmor) yang berlokasi di Lapangan Sanggar Pramuka Gelora November Pertamina Pendopo, Talang Ubi, Kabupaten PALI, pada Minggu (7/6/2026). Para pelaku usaha yang menggantungkan dapurnya pada tabung gas melon curhat mengenai betapa beratnya bertahan di tengah hantaman ganda: komoditas langka dan harga yang meroket jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Curhatan Pelaku UMKM: Modal Habis di Ongkos Gas
Retu Ramadani, salah satu pelaku UMKM yang menjajakan kuliner “Sate Dakkochi” (Sate Ayam ala Korea) di lokasi Sunday Morning Pendopo, mengungkapkan keluhannya dengan nada tegas dan lugas. Ia menyebut bahwa gas melon ukuran 3 kg saat ini harganya benar-benar mencekik leher para pedagang kecil.
“Pendapat kami, tolonglah Pak gas LPG ini dibantu. Sesuaikan harganya dengan harga dari pusat, HET-nya kan Rp16.000. Sedangkan kita sekarang membelinya dengan harga yang melonjak tinggi, kadang Rp32.000 sampai Rp35.000 per tabung di Kota Pendopo, tepatnya di kisaran Talang Ubi,” ujar Retu saat diwawancarai di lapaknya.
Retu menambahkan, kelangkaan parah ini sudah berlangsung cukup lama, yakni sekitar 4 hingga 5 bulan ke belakang. Meskipun dalam beberapa minggu terakhir pasokan sedikit tersedia, harganya tetap bertahan di level yang tidak masuk akal, yaitu mencapai Rp30.000 per tabung.
Bagi pelaku UMKM kuliner seperti dirinya yang menghabiskan minimal dua tabung gas per minggu, lonjakan harga ini memotong margin keuntungan secara drastis hingga 5-10%, apalagi bahan baku kemasan (packaging) dan plastik juga ikut naik. “Kami minta aparat penegak hukum dan pemerintah melakukan sidak langsung ke lapangan, istilahnya OTT (Operasi Tangkap Tangan) lah terhadap oknum agen atau pangkalan nakal yang bermain,” tegas Retu dengan raut wajah kecewa.
Selain masalah gas, Retu juga menyoroti sistem fasilitas di pasar kaget Sunday Morning Pendopo yang terkesan ‘bongkar pasang’ dan minim perhatian. Hingga saat ini, para pedagang harus membawa tenda sendiri tanpa adanya fasilitas permanen dari dinas terkait, padahal perputaran ekonomi di lokasi ini sangat aktif setiap minggunya.
Rangkaian Fakta Kelangkaan LPG 3 KG di PALI: Pembiaran Berjamaah?
Krisis Elpiji 3 kg di Kabupaten PALI ini bukanlah barang baru, melainkan bom waktu yang terus meledak berulang kali tanpa ada solusi konkret dari pemangku kebijakan. Berdasarkan rangkaian laporan investigasi dan runtutan pemberitaan media lokal tintamerah.co sebelumnya, jeritan masyarakat PALI telah menggema dari berbagai sudut wilayah secara berurutan:
- Jeritan Rakyat Miskin PALI (Tembus Rp30 Ribu): Pada fase awal krisis, masyarakat miskin di PALI sudah berteriak karena harga gas melon menembus Rp30.000. Publik mulai mempertanyakan fungsi kontrol dan tanggung jawab dari lembaga Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif yang terkesan mandul.
- Kehilangan Hati Nurani Pemangku Kebijakan: Media co mempertanyakan ke mana perginya hati nurani serta tindakan nyata dari para pejabat berwenang ketika harga terus merangkak naik dan membebani hajat hidup orang banyak tanpa ada intervensi berarti.
- Jeritan Emak-Emak Simpang Raja (Tembus Rp40 Ribu): Kondisi kian memanas saat di wilayah Simpang Raja, harga gas melon bahkan pernah menyentuh angka fantastis Rp40.000 per tabung. Pemkab PALI dan aparat penegak hukum (APH) dituding sengaja tutup mata atas penderitaan ini.
- Desakan Tangkap Agen Nakal: Geram karena tidak ada tindakan tegas, emak-emak Simpang Raja mengeluarkan jeritan paling perih dan menuntut APH segera menyeret serta menangkap agen-agen nakal yang menimbun atau mempermainkan harga di atas HET secara ugal-ugalan.
- PALI Membara, PGK Tuding Pembiaran Berjamaah: Eskalasi protes meningkat ketika DPD Pergerakan Pemuda Mahasiswa Komando (PGK) menuding secara terang-terangan bahwa Pemerintah Daerah, DPRD, Polres, dan Kejari PALI telah melakukan ‘pembiaran berjamaah’ terhadap suburnya mafia gas di PALI.
- Ultimatum PMII dan Disperindag Mandul: Kritik tajam juga dilayangkan oleh kader PMII, Edo Saputra, yang memberikan ultimatum keras. Ia secara spesifik menyebut Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten PALI “mandul” dalam mengawasi distribusi gas subsidi dan mendesak aparat hukum bergerak cepat tanpa kompromi.
- Benturan Sistem di Sunday Morning: Puncaknya kini terjadi di lapangan, di mana semangat para pelaku UMKM untuk menjemput rezeki di Sunday Morning Pendopo harus berbenturan keras dengan sistem fasilitasi yang tidak konsisten serta beban operasional yang kian membengkak akibat harga gas elpiji yang tak kunjung normal.
Tuntutan Tegas: Tindak Tegas Mafia Gas!
Kelangkaan dan harga gas melon yang ugal-ugalan di PALI ini menjadi bukti nyata lemahnya fungsi pengawasan di daerah penghasil minyak dan gas tersebut. Sektor UMKM yang sedianya harus didukung demi penguatan ekonomi daerah justru menjadi korban paling terdampak.
Masyarakat dan pelaku usaha kini memberikan tuntutan seragam: Pemerintah Kabupaten PALI dan Aparat Penegak Hukum harus segera bangkit dari ‘tidur nyenyaknya’, melakukan sidak pasar secara menyeluruh ke tingkat agen dan pangkalan, serta mencabut izin usaha sekaligus memidanakan oknum-oknum nakal yang sengaja mencekik leher rakyat demi keuntungan pribadi. Jangan sampai ketidakpedulian ini mematikan api kompor para pelaku UMKM di PALI secara permanen.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















