MUSI BANYUASIN | tintamerah.co -, Aroma manis cendol dawet dan gurihnya cuko pempek mulai menyerbak dari dapur-dapur di Desa Simpang Bayat, Kabupaten Musi Banyuasin, menjelang waktu berbuka puasa. Namun, ada yang berbeda dari sajian takjil warga tahun ini. Sebagian besar hidangan tersebut kini berbahan dasar tepung mocaf, hasil olahan singkong lokal yang disulap menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Inovasi ini lahir dari tangan dingin Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi, sebuah kelompok binaan PHE Jambi Merang yang berlokasi di Dusun Selaro. Melalui pendampingan yang intensif, singkong yang dulunya hanya dihargai murah, kini menjadi tumpuan harapan baru bagi ekonomi keluarga.
Dari Rp2.000 Menjadi Produk Unggulan
Sebelum adanya program pendampingan, melimpahnya hasil panen singkong di Desa Simpang Bayat seringkali tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani.
“Panen singkong di sini banyak, tapi harganya murah sekali, cuma dua ribu per kilo,” ungkap Riyanti (45), anggota KWT Embun Pagi dalam keterangan pers yang diterima tintamerah.co, Sabtu (28/2/2026).
Kondisi ini berubah sejak PHE Jambi Merang hadir memperkuat sisi kualitas, standarisasi proses, hingga pengemasan dan pemasaran. Melalui proses fermentasi, pengeringan, dan penggilingan yang terstruktur, singkong diolah menjadi tepung mocaf.
Hasilnya luar biasa. Satu kilogram tepung mocaf kini dibanderol seharga Rp34.000, meningkat belasan kali lipat dibandingkan menjual singkong mentah. Selain tepung, kelompok ini juga memproduksi eyek-eyek, kudapan renyah khas singkong yang diminati pasar.
Solusi Sehat di Bulan Ramadan
Memasuki bulan Ramadan, permintaan akan bahan pangan berbasis tepung melonjak tajam. Tepung mocaf muncul sebagai alternatif yang lebih sehat karena:
- Bebas Gluten: Aman untuk pencernaan.
- Lebih Ringan: Cocok untuk perut yang kosong setelah seharian berpuasa agar lambung tidak “terkejut”.
- Serbaguna: Mulai dari gorengan (bakwan, pisang goreng), kue basah (brownies kukus, bolu pandan), hingga kue kering lebaran (nastar, kastengel).
Mendorong Kemandirian Pangan Lokal
Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menjelaskan bahwa program ini bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan upaya menciptakan kemandirian pangan.
“Program pemberdayaan ini dirancang agar memberikan manfaat langsung terhadap kelompok dan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat. Ini adalah simbol kemandirian pangan lokal sekaligus kesempatan bagi ibu rumah tangga untuk lebih berdaya secara ekonomi,” ujar Iwan.
PHE Jambi Merang juga aktif membawa produk mocaf ini ke berbagai ajang bergengsi, seperti Sriwijaya Expo di Palembang, guna memperluas jangkauan pasar dan memperkenalkan manfaat mocaf kepada masyarakat luas.
Di bulan yang penuh berkah ini, kenyalnya cendol dan gurihnya pempek dari mocaf menjadi bukti nyata bahwa potensi lokal, jika dikelola dengan tepat, mampu menguatkan ekonomi keluarga dan membawa perubahan besar bagi desa.
Editor: Efran















