PALI | tintamerah.co -, Genderang perang terhadap dugaan praktik lancung di lingkaran PT Pertamina EP Adera Field kembali ditabuh. Kali ini, Front Perlawanan Rakyat (FPR) Kabupaten PALI, Sumatera Selatan, resmi melayangkan laporan formal terkait dugaan pelanggaran sistemik di lingkungan Unit Bisnis Eksplorasi dan Produksi Pertamina EP Adera Field.
Laporan dengan nomor surat 018/B/FPR-P/IV/2026 tersebut menjadi bukti sahih bahwa gelombang mosi tidak percaya publik terhadap manajemen anak usaha Pertamina ini sedang berada di titik didih.
Menunggu Nyali WBS Pertamina
Koordinator FPR PALI, Syafri, menegaskan bahwa bola panas kini berada di tangan internal Pertamina melalui sistem Whistle Blowing System (WBS). Namun, ia mengingatkan agar WBS jangan hanya menjadi “kotak sampah” birokrasi untuk meredam amarah warga.
“Laporan sudah resmi masuk. Kami menuntut profesionalisme, bukan sekadar basa-basi administratif. Jika WBS Pertamina mandul dan tidak ada kejelasan dalam waktu wajar, jangan salahkan jika kami memindahkan ‘kantor’ kami ke depan gedung SKK Migas Palembang,” tegas Syafri dalam keterangan pers yang diterima tintamerah.co, Selasa (7/4/2026).
Gurita Masalah: Dari Nepotisme hingga Jalur Tikus
Langkah FPR PALI ini seolah menjadi pembenaran atas rentetan investigasi yang sebelumnya dikupas tajam oleh tintamerah.co. Publik tentu belum lupa dengan skandal “Gurita Nepotisme” di Pertamina Hulu Rokan Zona 4 yang sempat membuat manajemen buka suara namun tetap menyisakan tanya besar terkait transparansi.
Tak hanya itu, laporan terbaru ini juga menguatkan “Nyanyian Maut” Ubaidillah yang sebelumnya membongkar Skandal Jalur Tikus dalam proses rekrutmen di Adera. Fakta bahwa rekrutmen diduga hanya formalitas belaka sementara “orang dalam” tetap berjaya, menjadi api dalam sekam yang kini diledakkan oleh FPR PALI.
Dugaan pelanggaran di Pertamina EP Adera Field ini disinyalir merupakan kelanjutan dari pola lama: praktik eksklusivitas yang meminggirkan tenaga kerja lokal dan mengabaikan etika operasional demi kepentingan segelintir oknum.
SKK Migas Jangan Jadi “Penonton Bayaran”
Syafri mengingatkan bahwa SKK Migas Perwakilan Sumbagsel harus berhenti bersikap pasif. Jika laporan ke WBS ini membentur tembok tebal, FPR PALI memastikan akan membawa massa besar untuk mengepung kantor SKK Migas di Palembang.
“Kami tidak ingin masyarakat PALI hanya mencium bau lumpur dan debu truk minyak sementara praktiknya penuh ‘jalur tikus’. Kami ingin transparansi ditegakkan sampai ke akarnya. Ini bukan sekadar gertakan, ini adalah perlawanan terhadap ketidakadilan di tanah kami sendiri,” pungkasnya pedas.
Ujian Integritas Pertamina
Sikap bungkam atau lambatnya respons dari Pertamina hanya akan memperkuat persepsi publik bahwa ada “kekuatan besar” yang sedang dilindungi di Adera Field. Mengaitkan laporan FPR ini dengan catatan merah rekrutmen dan nepotisme sebelumnya, tampak jelas bahwa Adera Field sedang mengalami krisis integritas yang akut.
Kini, publik menunggu: Apakah WBS Pertamina akan bekerja sebagai pembersih internal, atau justru menjadi pelindung bagi para pelanggar aturan? Satu yang pasti, radar tintamerah.co dan massa FPR PALI tidak akan bergeser satu inci pun dari kasus ini.
Penulis: Efran | Editor: tintamerah.co















